Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor

Kompas.com, 7 Februari 2026, 14:26 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kadar metana (CH?) di atmosfer mencatat rekor peningkatan tertinggi pada awal dekade 2020-an.

Lonjakan ini dipicu oleh kombinasi melemahnya kemampuan atmosfer menyerap metana serta meningkatnya emisi gas rumah kaca (GRK) dari lahan basah, sungai, danau, serta sistem pertanian.

Temuan tersebut diungkap dalam studi terbaru berjudul Why Methane Surged in the Atmosphere During the Early 2020s.

Penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan tajam radikal hidroksil (OH) pada periode 2020–2021 menjelaskan sekitar 80 persen variasi tahunan akumulasi metana di atmosfer. Radikal hidroksil berperan sebagai “agen pembersih” utama yang menguraikan metana.

Baca juga: Tanah Hutan Bisa Lebih Banyak Serap Metana dari Atmosfer

Pada saat yang sama, periode La Niña yang berkepanjangan sejak 2020 hingga 2023 membawa kondisi lebih basah dari rata-rata di banyak wilayah tropis.

Kondisi tersebut memperluas area banjir dan meningkatkan aktivitas mikroba, sehingga mendorong produksi metana, gas rumah kaca terpenting kedua setelah karbon dioksida (CO?).

Sejak 2019, kadar metana di atmosfer meningkat sekitar 55 bagian per miliar (ppb) dan mencapai rekor tertinggi 1.921 ppb pada 2023. Laju kenaikan metana memuncak pada 2021, hampir mencapai 18 ppb atau melonjak sekitar 84 persen dibandingkan 2019.

“Seiring dengan semakin hangat dan lembapnya planet ini, emisi metana dari lahan basah, perairan darat, dan sistem sawah akan semakin memengaruhi perubahan iklim jangka pendek,” ujar salah satu penulis studi, Profesor Ilmu Bumi dan Lingkungan Boston College, Hanqin Tian, dikutip dari Phys.

Studi ini menegaskan bahwa upaya global menekan emisi metana, termasuk melalui Global Methane Pledge, perlu memperhitungkan sumber metana yang dipicu oleh perubahan iklim.

Selama ini, pengendalian emisi lebih banyak difokuskan pada aktivitas manusia, sementara kontribusi sumber alami dan sistem yang dikelola manusia, seperti sawah dan perairan pedalaman, belum sepenuhnya diantisipasi.

Afrika dan Asia Tenggara

Menurut Tian, peningkatan emisi metana paling besar terjadi di Afrika tropis dan Asia Tenggara. Selain itu, lahan basah dan danau di kawasan Arktik juga menunjukkan kenaikan emisi yang signifikan akibat pemanasan yang mempercepat aktivitas mikroba.

Sebaliknya, emisi metana dari lahan basah di Amerika Selatan justru menurun pada 2023 ketika wilayah tersebut mengalami kekeringan ekstrem akibat El Niño. Kondisi ini menunjukkan betapa sensitifnya emisi metana terhadap fluktuasi iklim ekstrem.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa lonjakan metana pada awal 2020-an relatif kecil kontribusinya dari bahan bakar fosil dan kebakaran hutan.

Baca juga: Teknologi Satelit Ungkap Sumber Emisi Metana dari Minyak, Gas, dan Batu Bara Global

Analisis isotop menunjukkan bahwa sumber mikroba, seperti lahan basah, sungai, danau, waduk, serta pertanian, menjadi penyumbang utama peningkatan metana di atmosfer.

“Temuan ini menunjukkan bahwa tren metana di masa depan tidak hanya bergantung pada pengendalian emisi, tetapi juga pada perubahan iklim yang memengaruhi sumber metana alami dan yang dikelola manusia,” ujar penulis utama studi dari Universitas Versailles Saint-Quentin-en-Yvelines, Philippe Ciais.

Temuan serupa juga diperkuat oleh studi lain berjudul What is Causing the Methane Surge? Penelitian ini menyebut lonjakan metana baru-baru ini turut dipengaruhi dampak pandemi Covid-19.

Selama masa lockdown, penurunan polusi udara, khususnya nitrogen oksida, menyebabkan berkurangnya radikal hidroksil di atmosfer. Akibatnya, metana terurai lebih lambat dan terakumulasi lebih cepat.

Para peneliti menilai, kombinasi perubahan iklim dan dinamika aktivitas manusia dalam beberapa tahun terakhir telah menciptakan kondisi yang mempercepat peningkatan metana global. Hal ini menjadi tantangan baru dalam upaya menahan laju pemanasan global dalam jangka pendek.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Swasta
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
LSM/Figur
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
Pemerintah
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
LSM/Figur
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Pemerintah
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pemerintah
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Pemerintah
Fitoplankton Bisa 'Kunci' Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
Fitoplankton Bisa "Kunci" Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
LSM/Figur
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Pemerintah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau