KOMPAS.com - Otak karyawan di perusahaan dengan open-plan office (ruang kerja terbuka tanpa sekat) disebut bekerja lebih keras dibanding di perusahaan dengan private office (ruang kerja pribadi atau bersekat), menurut sebuah studi.
Adapun pandemi Covid-19 mengubah dinamika dunia kerja, salah satunya dari kebutuhan ruangan, meja, dan kursi yang tidak terlalu banyak karena penerapan hybrid working, alias bisa bekerja di kantor dan di mana saja.
Baca juga:
"Open-plan office merupakan tata letak yang umum ditemui di lingkungan kerja modern, tapi sifatnya yang terbuka dapat meningkatkan beban kognitif. Pod kerja dan ruang kecil tertutup lainnya telah diusulkan sebagai alternatif," ucap para peneliti, dilansir dari laman MDPI, Jumat (27/3/2026).
"Namun, bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa ruang-ruang terisolasi ini secara efektif mengurangi beban kognitif masih sangat terbatas," tambah para peneliti.
Bekerja di kantor tanpa sekat dan terbuka ternyata meningkatkan beban kognitif otak. Simak penelitiannya berikut ini.Bekerja di kantor tak bersekat bisa berdampak pada otak karyawan. Salah satunya akibat kebisingan.
Menurut penelitian tersebut, meski sudah berupaya mengabaikan gangguan, otak karyawan tetap harus mengerahkan upaya mental untuk menyaringnya.
Sebaliknya, otak karyawan akan bekerja lebih efisien ketika sebagian besar kebisingan dan gangguan visual dihilangkan.
Dilansir dari The Conversation, studi tersebut juga menemukan variabilitas yang jauh lebih luas di ruang kerja tak bersekat. Aktivitas otak beberapa orang meningkat secara dramatis, sedangkan yang lain menunjukkan perubahan moderat.
Hal itu menunjukkan adanya perbedaan individu dalam menanggapi seberapa mengganggu ruang kerja tak bersekat.
Temuan itu diperoleh dari riset dengan memasangkan alat elektroensefalogram (EEG) nirkabel pada 26 orang berusia antara pertengahan 20-an hingga pertengahan 60-an.
Pengujian EEG mengukur seberapa keras otak bekerja dengan melacak aktivitas listrik melalui sensor di kulit kepala.
Para peserta menyelesaikan tugas-tugas perkantoran simulasi, seperti memantau notifikasi, membaca dan membalas e-mail, serta menghafal daftar kata.
Setiap peserta dipantau saat menyelesaikan tugas di dua lingkungan berbeda yaitu ruang kerja terbuka dengan rekan kerja di dekatnya, serta ruang kerja kecil tertutup dengan panel kaca transparan di satu sisi.
Bekerja di kantor tanpa sekat dan terbuka ternyata meningkatkan beban kognitif otak. Simak penelitiannya berikut ini.Studi ini memfokuskan perhatian pada area frontal otak, yang bertanggung jawab atas perhatian, konsentrasi, dan penyaringan gangguan.
Meski peserta studi relatif kecil, temuannya dapat menggoyahkan sebagian besar riset yang diterbitkan dalam satu dekade terakhir.
Kemampuan untuk fokus dan berkonsentrasi tanpa gangguan dan pengalihan perhatian merupakan syarat mendasar untuk pekerjaan berbasis pengetahuan modern.
Namun, nilai dari pekerjaan tanpa gangguan terus diremehkan dalam desain tempat kerja. Padahal, menciptakan zona di mana para pekerja bisa menyesuaikan lingkungan kerja mereka dengan tugas yang diberikan sangatlah penting.
Perusahaan perlu sejumlah langkah praktis untuk menjaga kesehatan mental para pekerjannya, di antaranya, pengaturan zona kerja yang berbeda, perlakuan akustik dan teknologi peredam suara, serta partisi yang ditempatkan dengan tepat untuk mengurangi gangguan visual dan pendengaran.
Biaya awal untuk menambahkan fitur-fitur tersebut kemungkinan sangat besar. Namun, dampaknya bisa sepadan jika dibandingkan kantor dengan tata ruang terbuka.
Baca juga:
Bekerja di kantor tanpa sekat dan terbuka ternyata meningkatkan beban kognitif otak. Simak penelitiannya berikut ini.Studi tersebut menunjukkan dampak tersembunyi yang signifikan dari desain kantor yang buruk terhadap produktivitas, kesehatan, dan retensi karyawan.
Memberikan lebih banyak pilihan kepada karyawan tentang seberapa mudah mereka terpapar kebisingan dan gangguan lainnya dinilai bukanlah sebuah kemewahan.
Untuk menyelesaikan lebih banyak pekerjaan, dengan mengurangi beban pada otak karyawan, desain tempat kerja yang lebih baik harus dianggap sebagai suatu kebutuhan.
Remote working termasuk salah satu alternatif yang bisa jadi bahan pertimbangan, khususnya bila tujuannya adalah menghemat biaya per unit.
Perusahaan dengan adopsi kerja jarak jauh (remote working) lebih tinggi mengalami pengurangan biaya per unit yang signifikan, utamanya biaya non-tenaga kerja, seperti gedung perkantoran, material, dan jasa, dikutip dari Business.
Berdasarkan Global Workplace Analytics, hampir 60 persen perusahaan mengidentifikasi penghematan biaya sebagai manfaat signifikan dari bekerja jarak jauh.
Kerja jarak jauh dapat menghemat sewa dan utilitas, layanan kebersihan, dan berbagai biaya lainnya, seperti keamanan, relokasi, makanan dan minuman, dan perlengkapan kantor.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya