Dalam jangka pendek, prioritas harus diberikan kepada negara-negara yang sedang mengalami panen padi, misalnya Sri Lanka dan Bangladesh.
Negara-negara Afrika yang bergantung pada impor pupuk juga rentan, eksportir besar seperti Argentina, Brasil, dan Amerika Serikat juga akan terpengaruh.
Sementara itu, di negara-negara Teluk, Torero mencatat bahwa harga pangan sudah melonjak di Iran meski negara tersebut memproduksi sekitar 70 persen dari pasokan pangannya sendiri, sisanya diimpor.
Adapun importir pangan besar seperti Qatar dan Uni Emirat Arab akan menghadapi tantangan karena tidak ada kapal yang menuju ke wilayah tersebut.
Baca juga:
Negara-negara Teluk juga menampung jutaan pekerja migran dari Asia Selatan dan Afrika Timur. Kiriman uang ke negara asal mereka dapat menurun jika konflik berlanjut.
Untuk mengurangi krisis, Torero menekankan perlunya menemukan jalur maritim alternatif dalam jangka pendek.
Dalam jangka menengah, negara-negara harus mulai mencari sumber impor pupuk yang lebih beragam, memperkuat kerja sama cadangan pangan di wilayah masing-masing, dan menghindari larangan ekspor.
Sementara itu, memperkuat ketahanan pangan akan menjadi hal yang sangat penting dalam jangka panjang.
"Kita perlu memperlakukan sistem pangan dengan kepentingan strategis yang sama seperti sektor energi dan transportasi, serta berinvestasi secara serius untuk meminimalkan dampak guncangan tersebut," pungkasnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya