Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap Manfaat Kerja untuk Kesehatan Mental, Tak Hanya Gaji

Kompas.com, 28 Maret 2026, 08:18 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Terkadang bekerja tak cuma untuk mencari uang, tapi juga membantu menjaga kesehatan mental. 

Studi terbaru dalam Psychiatric Research & Clinical Practice menunjukkan, orang dengan gangguan kecemasan sosial dan depresi cenderung bekerja dengan jam kerja yang lebih sedikit.

"Temuan ini memberi informasi baru mengenai dampak jangka panjang baik kecemasan sosial dan depresi terhadap jam kerja, serta menunjukkan bahwa gejala kecemasan sosial atau depresi dapat menjadi hambatan dalam mencari atau mempertahankan pekerjaan," tulis penelitian tersebut, dilansir dari Psychiatry Online, Jumat (27/3/2026).

Baca juga:

Apa manfaat bekerja untuk kesehatan mental?

Dari struktur hidup hingga kesempatan berinteraksi

Bekerja memberikan struktur dan interaksi sosial. Ini alasan mengapa rutinitas kantor terkadang baik untuk kesehatan mental.Dok. Freepik/pressfoto Bekerja memberikan struktur dan interaksi sosial. Ini alasan mengapa rutinitas kantor terkadang baik untuk kesehatan mental.

Para peneliti menganalisis data dari 250 orang dewasa berusia 18-60 tahun yang didiagnosis menderita gangguan kecemasan sosial.

Mereka melacak berapa jam setiap peserta bekerja selama periode 52 minggu, serta mencatat gejala kecemasan dan depresi setiap peserta untuk melihat apakah kondisi mentalnya dapat memprediksi jam kerja.

Kesehatan mental pekerja yang terus memburuk berdampak terhadap pimpinan perusahaan dan karyawan tersebut, dilansir dari CNBC. 

Menurut psikolog klinis dan instruktur di Harvard Medical School, Natalie Datillo, depresi dan kecemasan ditangani secara berbeda. Namun, depresi dan kecemasan sama-sama menyebabkan orang mengisolasi diri.

Akibatnya, menurut Datillo, mereka membatasi kesempatan untuk memiliki pengalaman yang bisa memperkuat diri secara positif. 

Bekerja bisa memberi beberapa efek perlindungan terhadap kesehatan mental pekerja, yang sering kali diabaikan.

Secara keseluruhan, bekerja menjadi kegiatan yang baik bagi kesehatan mental manusia, tentunya jika hak-hak mereka terpenuhi, tak hanya dari gaji, tapi juga keamanan dan kebijakan.

Baca juga:

Bekerja memberikan struktur dan interaksi sosial. Ini alasan mengapa rutinitas kantor terkadang baik untuk kesehatan mental.SHUTTERSTOCK/Africa Studio Bekerja memberikan struktur dan interaksi sosial. Ini alasan mengapa rutinitas kantor terkadang baik untuk kesehatan mental.

"Bekerja memberikan struktur bagi hidup kita, memberi kita sesuatu untuk dilakukan, memberi kita kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain, belum lagi memberi kita penghasilan," kata Datillo.

"Semakin sedikit yang kita lakukan, semakin kecil kemungkinan mengalami hal-hal yang membuat kita merasa lebih baik," imbuh dia.

Pekerja yang cenderung bergumul dengan kecemasan mungkin merasa kesulitan untuk pergi ke kantor, menyalakan laptop, atau berinteraksi dengan rekan kerja. Namun, akhirnya mereka disebut tidak merasa tertekan oleh keputusan mereka untuk melakukannya. 

"Pada umumnya, kita bisa mengendalikan diri dan melakukannya, lalu merasa lebih baik setelahnya," kata Datillo. 

Sementara itu, pekerja yang depresi bisa terlalu keras dalam mengkritik diri sendiri. Imbasnya, mereka bisa pulang kerja lebih awal, izin sakit, dan semakin mengisolasi diri.

"Ironisnya, semakin mereka menghindari pekerjaan, semakin parah gejala kecemasan dan depresi yang mereka alami. Semakin sedikit yang kita lakukan dan semakin banyak yang kita hindari, semakin kecil kemungkinan kita mengalami hal-hal yang membuat kita merasa lebih baik,” terang Datillo.

Dengan memperhatikan kesehatan mental karyawan, perusahaan sebenarnya dapat membantu meningkatkan keuntungannya.

Baca juga:

Sementara itu, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bekerja tidak hanya bermanfaat sebagai mata pencaharian, tapi juga untuk rasa percaya diri, tujuan hidup, dan pencapaian.

Bekerja juga menjadi kesempatan untuk menjalin hubungan yang positif dan merasa diterima dalam suatu komunitas.

"Bagi orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan mental, pekerjaan yang layak dapat mendukung proses pemulihan dan inklusi, serta meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan berinteraksi sosial," tulis WHO.

Kendati demikian, perlu ditekankan, manfaat pada kesehatan mental ini bisa didapat bila pekerjaan yang dijalani adalah pekerjaan yang layak.

Sebab, pekerjaan yang tidak layak bisa membahayakan kesehatan mental. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau