KOMPAS.com - Terkadang bekerja tak cuma untuk mencari uang, tapi juga membantu menjaga kesehatan mental.
Studi terbaru dalam Psychiatric Research & Clinical Practice menunjukkan, orang dengan gangguan kecemasan sosial dan depresi cenderung bekerja dengan jam kerja yang lebih sedikit.
"Temuan ini memberi informasi baru mengenai dampak jangka panjang baik kecemasan sosial dan depresi terhadap jam kerja, serta menunjukkan bahwa gejala kecemasan sosial atau depresi dapat menjadi hambatan dalam mencari atau mempertahankan pekerjaan," tulis penelitian tersebut, dilansir dari Psychiatry Online, Jumat (27/3/2026).
Baca juga:
Bekerja memberikan struktur dan interaksi sosial. Ini alasan mengapa rutinitas kantor terkadang baik untuk kesehatan mental.Para peneliti menganalisis data dari 250 orang dewasa berusia 18-60 tahun yang didiagnosis menderita gangguan kecemasan sosial.
Mereka melacak berapa jam setiap peserta bekerja selama periode 52 minggu, serta mencatat gejala kecemasan dan depresi setiap peserta untuk melihat apakah kondisi mentalnya dapat memprediksi jam kerja.
Kesehatan mental pekerja yang terus memburuk berdampak terhadap pimpinan perusahaan dan karyawan tersebut, dilansir dari CNBC.
Menurut psikolog klinis dan instruktur di Harvard Medical School, Natalie Datillo, depresi dan kecemasan ditangani secara berbeda. Namun, depresi dan kecemasan sama-sama menyebabkan orang mengisolasi diri.
Akibatnya, menurut Datillo, mereka membatasi kesempatan untuk memiliki pengalaman yang bisa memperkuat diri secara positif.
Bekerja bisa memberi beberapa efek perlindungan terhadap kesehatan mental pekerja, yang sering kali diabaikan.
Secara keseluruhan, bekerja menjadi kegiatan yang baik bagi kesehatan mental manusia, tentunya jika hak-hak mereka terpenuhi, tak hanya dari gaji, tapi juga keamanan dan kebijakan.
Baca juga:
Bekerja memberikan struktur dan interaksi sosial. Ini alasan mengapa rutinitas kantor terkadang baik untuk kesehatan mental."Bekerja memberikan struktur bagi hidup kita, memberi kita sesuatu untuk dilakukan, memberi kita kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain, belum lagi memberi kita penghasilan," kata Datillo.
"Semakin sedikit yang kita lakukan, semakin kecil kemungkinan mengalami hal-hal yang membuat kita merasa lebih baik," imbuh dia.
Pekerja yang cenderung bergumul dengan kecemasan mungkin merasa kesulitan untuk pergi ke kantor, menyalakan laptop, atau berinteraksi dengan rekan kerja. Namun, akhirnya mereka disebut tidak merasa tertekan oleh keputusan mereka untuk melakukannya.
"Pada umumnya, kita bisa mengendalikan diri dan melakukannya, lalu merasa lebih baik setelahnya," kata Datillo.
Sementara itu, pekerja yang depresi bisa terlalu keras dalam mengkritik diri sendiri. Imbasnya, mereka bisa pulang kerja lebih awal, izin sakit, dan semakin mengisolasi diri.
"Ironisnya, semakin mereka menghindari pekerjaan, semakin parah gejala kecemasan dan depresi yang mereka alami. Semakin sedikit yang kita lakukan dan semakin banyak yang kita hindari, semakin kecil kemungkinan kita mengalami hal-hal yang membuat kita merasa lebih baik,” terang Datillo.
Dengan memperhatikan kesehatan mental karyawan, perusahaan sebenarnya dapat membantu meningkatkan keuntungannya.
Baca juga:
Sementara itu, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bekerja tidak hanya bermanfaat sebagai mata pencaharian, tapi juga untuk rasa percaya diri, tujuan hidup, dan pencapaian.
Bekerja juga menjadi kesempatan untuk menjalin hubungan yang positif dan merasa diterima dalam suatu komunitas.
"Bagi orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan mental, pekerjaan yang layak dapat mendukung proses pemulihan dan inklusi, serta meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan berinteraksi sosial," tulis WHO.
Kendati demikian, perlu ditekankan, manfaat pada kesehatan mental ini bisa didapat bila pekerjaan yang dijalani adalah pekerjaan yang layak.
Sebab, pekerjaan yang tidak layak bisa membahayakan kesehatan mental.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya