Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap Kesenjangan di Balik Upaya Pengurangan Karbon Dioksida

Kompas.com, 28 Maret 2026, 11:32 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Distribusi pengurangan karbon dioksida (Carbon Dioxide Removal atau CDR) dipandang tidak adil antara negara satu dengan lainnya, menurut penelitian terbaru. 

"Kami menilai, sangat penting, meski saat ini belum banyak diteliti, untuk secara eksplisit meneliti aspek keadilan dalam alokasi anggaran global yang terbatas untuk penghilangan karbon, agar negara-negara dapat mewujudkan transisi menuju net-zero dan melampauinya dengan cara yang adil," tulis penelitian yang diterbitkan di jurnal Global Environmental Change, dikutip dari Science Direct, Sabtu (28/3/2026).

Baca juga:

Adapun ketegangan antara Amerika Serikat-Israel versus Iran sejak akhir Februari 2026 menunjukkan ketergantungan banyak negara terhadap minyak dan gas global (migas).

Keterbatasan opsi energi alternatif dan kebijakan iklim yang longgar untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dari atmosfer dapat memperkuat ketergantungan tersebut bagi generasi mendatang.

Studi terbaru juga menekankan, longgarnya kebijakan iklim pada gilirannya memberikan beban sangat berat dan tidak adil kepada generasi mendatang.

Hal itu mengingat sangat terbatasnya kapasitas menyerapan emisi GRK karbon dioksida (CO2) yang berkelanjutan.

Ketidakadilan dan upaya pengurangan karbon dioksida

Studi menunjukkan, negara kaya produsen migas berpotensi eksploitasi kapasitas penyimpanan karbon dunia, memperlebar jurang keadilan iklim. canva.com Studi menunjukkan, negara kaya produsen migas berpotensi eksploitasi kapasitas penyimpanan karbon dunia, memperlebar jurang keadilan iklim.

Opsi strategi pengurangan CO2 terdiri dari solusi berbasis alam (nature-based solution/NbS) dan pemanfaatan teknologi. Strategi pengurangan CO2 melalui NbS dapat berupa penghutanan kembali.

Sementara itu, strategi pengurangan CO2 memanfaatkan teknologi, seperti pembangkit bioenergi dengan penangkapan karbon, mesin yang mengekstrak gas rumah kaca langsung dari udara, atau karbon disimpan jauh di bawah tanah di bekas reservoir minyak dan gas.

Berdasarkan perhitungan realistis, kapasitas tahunan jangka panjang yang berkelanjutan untuk semua penyerap CO2 alami dan pemanfaatan teknologi ini hanya kurang dari 10 persen dari emisi GRK tahunan saat ini.

"Meningkatkan kapasitas penghilangan CO2 hingga miliaran ton juga membutuhkan waktu lama, baik itu dengan menanam pohon atau mengembangkan teknologi baru," ujar salah satu penulis studi tersebut, Julia Danzer dari Pusat Wegener dan Institut Fisika di Universitas Graz, dilansir dari Phys.org.

Baca juga:

Aspek ketidakadilan

Studi menunjukkan, negara kaya produsen migas berpotensi eksploitasi kapasitas penyimpanan karbon dunia, memperlebar jurang keadilan iklim. Unsplash Studi menunjukkan, negara kaya produsen migas berpotensi eksploitasi kapasitas penyimpanan karbon dunia, memperlebar jurang keadilan iklim.

Untuk membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat di atas tingkat pra-industri dalam jangka panjang, sebagaimana disepakati dalam Perjanjian Paris, semua emisi GRK yang masih dihasilkan usai tahun 2050 harus terus diimbangi dengan pengurangan CO2 di atmosfer.

Studi ini menggarisbawahi aspek keadilan yang sama pentingnya dengan tindakan pengurangan CO2 yang sangat dibutuhkan manakala anggaran penanganan krisis iklim terbatas.

Studi ini juga menunjukkan, hak untuk mengurangi CO2 harus didistribusikan secara adil di seluruh dunia, sama seperti anggaran penanganan krisis iklim untuk menghentikan pemanasan global.

Maka dari itu, sudah sepatutnya anggaran penanganan krisis iklim dan penyerapan CO2 yang terbatas secara global dapat dialokasikan di berbagai negara secara individual dan kolektif demi mencapai net-zero emission (NZE).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
Pemerintah
GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan
GRI Perbarui Aturan Pelaporan Dampak Polusi bagi Perusahaan
LSM/Figur
Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali
Plastik Langka, Taiwan Fokus Stabilkan Pasokan dan Dorong Penggunaan kembali
Pemerintah
Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Swasta
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Industri Plastik Asia Terguncang
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Industri Plastik Asia Terguncang
Pemerintah
Pemerintah Percepat Strategi Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino
Pemerintah Percepat Strategi Mitigasi Kekeringan Hadapi El Nino
Pemerintah
Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia
Godzilla El Nino Picu Kekeringan, Banjir, dan Karhutla di Indonesia
Pemerintah
Mengenal 'Micromanagement', Gaya Kepemimpinan 'Tirani' yang Bisa Rusak Sistem Kerja Perusahaan
Mengenal "Micromanagement", Gaya Kepemimpinan "Tirani" yang Bisa Rusak Sistem Kerja Perusahaan
LSM/Figur
Titik Panas Karhutla Kalbar Melonjak di Tengah Ancaman Godzilla El Nino
Titik Panas Karhutla Kalbar Melonjak di Tengah Ancaman Godzilla El Nino
Pemerintah
Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Swasta
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau