KOMPAS.com - Sekitar 20 persen area penanaman kopi arabika saat ini diprediksi tergerus krisis iklim pada tahun 2050.
Berdasarkan laporan terbaru Rabobank, saat ini delapan persen dari wilayah penanaman kopi arabika berada di sejumlah negara di benua Amerika, seperti Brasil, Kolombia, dan Honduras.
Baca juga:
Namun, krisis iklim menyebabkan banyak area penanaman kopi arabika di wilayah tersebut berubah menjadi tidak cocok untuk budi daya.
Imbasnya, investasi untuk perkebunan kopi Arabika di Brasil, Kolombia, dan Honduras, akan semakin mahal, dengan hasil panen lebih rendah.
Sekitar 20 persen area penanaman kopi arabika saat ini akan tergerus krisis iklim pada tahun 2050.Laporan Rabobank tersebut memakai panduan ilmiah untuk mengklasifikasikan area tanaman ke dalam empat kategori berdasarkan tingkat kecocokan, yang bergantung pada kondisi iklim saat ini dan prediksi masa mendatang.
Laporan tersebut menggunakan panduan ilmiah untuk mengklasifikasikan area tanaman ke dalam empat kategori, dari sangat cocok hingga tidak cocok. Hal itu menunjukkan, definisi tersebut bergantung pada kondisi iklim saat ini dan yang diprediksi ke depannya.
“Kenaikan suhu dan perubahan pola curah hujan dapat membuat kondisi pertumbuhan kopi menjadi kurang dapat diprediksi dan meningkatkan frekuensi guncangan iklim seperti kekeringan, gelombang panas, dan curah hujan lebat,” tulis laporan Rabobank, dilansir dari Reuters, Selasa (31/3/2026).
Variabilitas kondisi iklim yang lebih besar akan menimbulkan risiko terhadap keandalan pasokan.
Mayoritas kerugian atas ketidaksesuaian lahan memang terjadi di Brasil, produsen kopi arabika terbesar di dunia.
Kendati demikian, laporan Rabobank memperkirakan perubahan kesesuian lahan untuk area penanaman kopi arabika akibat krisis iklim juga akan terjadi di luar daerah penghasil.
Peningkatan marginalitas lahan penanaman di negara bagian produsen kopi utama dapat memengaruhi daerah penghasil dengan produksi tinggi.
Baca juga:
Sekitar 20 persen area penanaman kopi arabika saat ini akan tergerus krisis iklim pada tahun 2050.Kopi arabika ditanam di daerah yang diklasifikasikan sebagai "cocok" di Brasil dan menghasilkan rata-rata 32,6 karung berisi 60 kilogram (132,3 lb) kopi per hektar. Sementara itu, daerah yang tidak cocok menghasilkan sekitar 28 karung per hektar.
Namun, meskipun 81 persen dari panen Brasil saat ini berlangsung di daerah yang sesuai, angka itu bisa turun menjadi 62 persen pada tahun 2050.
Produksi kopi arabika di Brasil dapat menurun secara signifikan dalam angka absolut.
Sementara itu, area penanaman kopi arabika di Kolombia juga menurun dari 56 persen, menjadi 45 persen.
Sementara itu, area penanaman kopi arabika di Honduras menurun lebih parah, dari 53 persen, menjadi hanya 12 persen.
Namun, tidak semua daerah penghasil kopi akan dirugikan oleh pergeseran kesesuaian lahan akibat krisis iklim. Misalnya, area penanaman kopi Arabika di Ethiopia, Afrika Timur, diperkirakan justru akan meningkat, dari 39 persen, menjadi 50 persen.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya