Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Bikin Area Tanam Kopi Arabika Berkurang Tahun 2050

Kompas.com, 31 Maret 2026, 16:18 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Reuters

KOMPAS.com - Sekitar 20 persen area penanaman kopi arabika saat ini diprediksi tergerus krisis iklim pada tahun 2050.

Berdasarkan laporan terbaru Rabobank, saat ini delapan persen dari wilayah penanaman kopi arabika berada di sejumlah negara di benua Amerika, seperti Brasil, Kolombia, dan Honduras.

Baca juga:

Namun, krisis iklim menyebabkan banyak area penanaman kopi arabika di wilayah tersebut berubah menjadi tidak cocok untuk budi daya.

Imbasnya, investasi untuk perkebunan kopi Arabika di Brasil, Kolombia, dan Honduras, akan semakin mahal, dengan hasil panen lebih rendah.

Krisis iklim bikin tanaman kopi arabika berkurang

Pasokan bisa terancam

Sekitar 20 persen area penanaman kopi arabika saat ini akan tergerus krisis iklim pada tahun 2050.Syah Antoni Sekitar 20 persen area penanaman kopi arabika saat ini akan tergerus krisis iklim pada tahun 2050.

Laporan Rabobank tersebut memakai panduan ilmiah untuk mengklasifikasikan area tanaman ke dalam empat kategori berdasarkan tingkat kecocokan, yang bergantung pada kondisi iklim saat ini dan prediksi masa mendatang.

Laporan tersebut menggunakan panduan ilmiah untuk mengklasifikasikan area tanaman ke dalam empat kategori, dari sangat cocok hingga tidak cocok. Hal itu menunjukkan, definisi tersebut bergantung pada kondisi iklim saat ini dan yang diprediksi ke depannya.

“Kenaikan suhu dan perubahan pola curah hujan dapat membuat kondisi pertumbuhan kopi menjadi kurang dapat diprediksi dan meningkatkan frekuensi guncangan iklim seperti kekeringan, gelombang panas, dan curah hujan lebat,” tulis laporan Rabobank, dilansir dari Reuters, Selasa (31/3/2026).

Variabilitas kondisi iklim yang lebih besar akan menimbulkan risiko terhadap keandalan pasokan.

Mayoritas kerugian atas ketidaksesuaian lahan memang terjadi di Brasil, produsen kopi arabika terbesar di dunia.

Kendati demikian, laporan Rabobank memperkirakan perubahan kesesuian lahan untuk area penanaman kopi arabika akibat krisis iklim juga akan terjadi di luar daerah penghasil.

Peningkatan marginalitas lahan penanaman di negara bagian produsen kopi utama dapat memengaruhi daerah penghasil dengan produksi tinggi.

Baca juga:

Sekitar 20 persen area penanaman kopi arabika saat ini akan tergerus krisis iklim pada tahun 2050.Syah Antoni Sekitar 20 persen area penanaman kopi arabika saat ini akan tergerus krisis iklim pada tahun 2050.

Kopi arabika ditanam di daerah yang diklasifikasikan sebagai "cocok" di Brasil dan menghasilkan rata-rata 32,6 karung berisi 60 kilogram (132,3 lb) kopi per hektar. Sementara itu, daerah yang tidak cocok menghasilkan sekitar 28 karung per hektar.

Namun, meskipun 81 persen dari panen Brasil saat ini berlangsung di daerah yang sesuai, angka itu bisa turun menjadi 62 persen pada tahun 2050.

Produksi kopi arabika di Brasil dapat menurun secara signifikan dalam angka absolut.

Sementara itu, area penanaman kopi arabika di Kolombia juga menurun dari 56 persen, menjadi 45 persen.

Sementara itu, area penanaman kopi arabika di Honduras menurun lebih parah, dari 53 persen, menjadi hanya 12 persen.

Namun, tidak semua daerah penghasil kopi akan dirugikan oleh pergeseran kesesuaian lahan akibat krisis iklim. Misalnya, area penanaman kopi Arabika di Ethiopia, Afrika Timur, diperkirakan justru akan meningkat, dari 39 persen, menjadi 50 persen.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau