Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pembersih air tercemar logam berat, khususnya tembaga (Cu²?), dengan memanfaatkan karbon aktif yang dimodifikasi menggunakan iradiasi gamma dan bahan ramah lingkungan.
Dosen Poltek Nuklir BRIN yang sekaligus sebagai ketua tim riset, Dhita Ariyanti, menjelaskan inovasi ini menjadi upaya menghadirkan solusi praktis dalam pengolahan air limbah.
"Kami mengembangkan metode untuk meningkatkan kemampuan karbon aktif dalam menyerap logam berat. Hasilnya menunjukkan potensi yang baik untuk diterapkan dalam pengolahan air limbah, terutama karena prosesnya relatif cepat dan efisien. Namun demikian, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan demi meningkatkan kinerja penyerapan limbah karbon aktif melalui inovasi teknologi radiasi," katanya, dikutip dari Antara, Jumat (3/4/2026).
Baca juga: Jepang Incar Pulau Terpencil Jadi Lokasi Pembuangan Limbah Nuklir
Dia menjelaskan karbon aktif yang umum digunakan sebagai penyaring air ditingkatkan kemampuannya melalui proses modifikasi. Karbon aktif dicampur dengan surfaktan Methyl Ester Sulfonate (MES), yaitu bahan yang lebih mudah terurai dan berasal dari sumber yang lebih ramah lingkungan.
Selanjutnya, material tersebut diproses menggunakan iradiasi gamma untuk memperbaiki struktur permukaan dan meningkatkan daya serapnya terhadap logam berat.
Hasilnya, ujar dia, karbon aktif yang telah dimodifikasi mampu menyerap logam tembaga secara lebih cepat dan efektif dibandingkan dengan karbon aktif biasa.
Kondisi optimal dicapai pada waktu kontak 15 menit dengan dosis iradiasi gamma 10 kiloGray (kGy), dengan kapasitas adsorpsi yang lebih tinggi.
Ia mengatakan penggunaan surfaktan MES menjadi keunggulan tersendiri karena lebih aman bagi lingkungan dibandingkan dengan bahan kimia konvensional.
Dosen Poltek Nuklir BRIN Deny Swantomo menjelaskan iradiasi mampu mengubah struktur karbon aktif hingga tingkat mikro.
"Iradiasi gamma memungkinkan perubahan struktur material hingga tingkat mikro, sehingga karbon aktif memiliki lebih banyak ruang dan situs aktif untuk menangkap logam berat. Ini menunjukkan bahwa teknologi nuklir dapat dimanfaatkan untuk mendukung solusi lingkungan," ujarnya.
Selain meningkatkan efektivitas penyerapan, katanya, metode ini juga berpotensi menghemat waktu dalam proses pengolahan air. Hal ini menjadi nilai tambah, terutama untuk aplikasi di sektor industri yang membutuhkan proses cepat dan efisien.
Baca juga: Bahlil Tawarkan Mineral Kritis RI ke Jepang, Kerja Sama Nuklir Ikut Dibahas
Meskipun demikian, penelitian masih terus berlanjut sebagai bentuk penyempurnaan hasil penelitian sebelumnya.
Pada masa mendatang, inovasi ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut dan diterapkan secara luas, baik untuk pengolahan limbah industri maupun penyediaan air bersih, sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya