Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DUNIA hari ini tampak semakin rajin berbicara tentang keberlanjutan. Laporan makin tebal, istilah makin canggih, dan ukuran kinerja makin rinci.
Tahun depan, perusahaan-perusahaan di Indonesia secara bertahap bahkan diwajibkan memenuhi Standar Pengungkapan Keberlanjutan — bukan sekadar audit keuangan, tetapi juga audit atas cara mereka memperlakukan bumi dan masyarakat. Keberlanjutan, dengan kata lain, kini resmi menjadi kewajiban hukum.
Namun, justru di tengah semua itu, bumi tetap kelelahan dan ketimpangan tetap mengeras. Kita seperti sedang sibuk merapikan bahasa, tetapi lupa memeriksa kenyataan.
Semakin banyak yang dibicarakan tentang keberlanjutan, semakin terasa bahwa ada sesuatu yang hilang di dalamnya. Barangkali yang hilang itu adalah jiwa.
Keberlanjutan kini terlalu sering hadir sebagai urusan prosedur, bukan kesadaran. Ia tampak rapi sebagai dokumen, meyakinkan sebagai presentasi, dan terdengar mulia dalam pidato-pidato resmi.
Namun dalam praktik, ia kerap berhenti sebagai tubuh teknis yang bergerak tanpa nyawa. Kita tahu cara mengukur, tetapi belum tentu tahu untuk apa semua itu diukur.
Kita fasih menyebut masa depan, tetapi sering gagap ketika harus menjawab pertanyaan paling sederhana: apakah semua ini sungguh membuat hidup menjadi lebih layak?
Di titik inilah kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menolak seluruh perangkat global tentang keberlanjutan, melainkan untuk menempatkannya kembali pada tempat yang wajar.
Standar tetap penting. Ukuran tetap dibutuhkan. Dunia modern memang perlu bahasa bersama agar negara, pasar, dan masyarakat bisa saling berbicara.
Namun, arah hidup tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada bahasa teknis. Sebab pada akhirnya, pembangunan bukan hanya soal seberapa rapi ia dilaporkan, melainkan ke mana ia membawa manusia dan alam.
Di tengah kegaduhan itu, kosmologi Jawa menawarkan sesuatu yang sederhana, tetapi dalam: cara memandang kehidupan bukan sekadar sebagai persoalan efisiensi, melainkan sebagai upaya menjaga harmoni.
Bukan harmoni yang pasif, melainkan harmoni yang harus dirawat dengan kesadaran dan tindakan.
Karena itu, ketika kita bicara tentang pembangunan dan keberlanjutan, pertanyaannya semestinya tidak berhenti pada “bagaimana mengurangi kerusakan,” tetapi meluas menjadi “bagaimana membuat kehidupan bersama menjadi lebih baik, lebih adil, dan lebih bermakna.”
Di situlah prinsip Hamemayu Hayuning Bawana menjadi penting. Ia mengandung ajakan yang lebih aktif daripada sekadar bertahan.
Bukan hanya menjaga agar dunia tidak makin rusak, tetapi merawat dan memperindah kehidupan itu sendiri.
Ada perbedaan besar antara sekadar mengurangi luka dan sungguh-sungguh menumbuhkan kebaikan.
Banyak agenda keberlanjutan modern masih bergerak pada tingkat pertama — sibuk memastikan bahwa kerusakan tidak terlalu besar, bahwa emisi turun sekian persen, bahwa risiko dapat dikelola.
Semua itu tentu penting. Namun, dunia tidak hanya butuh kerusakan yang diperlambat. Dunia butuh arah yang dipulihkan.
Karena itu, kepatuhan terhadap standar keberlanjutan tidak boleh hanya dimaknai sebagai cara menghindari risiko atau menjaga citra.
Ia harus dilihat sebagai tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa setiap keputusan ekonomi benar-benar memperbaiki relasi kita dengan sesama dan dengan alam.
Jika tidak, maka keberlanjutan mudah berubah menjadi topeng yang sopan: tampak hijau di atas kertas, tetapi meninggalkan jejak luka di bawahnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya