Hasil studi ini pun membantu menentukan lokasi penyimpanan stok antibisa, penyediaan fasilitas kesehatan, serta fokus upaya pelestarian alam.
"Langkah pertama untuk membantu korban gigitan ular adalah dengan mengetahui di mana interaksi antara manusia dan ular paling sering terjadi. Dengan begitu, kita bisa menyalurkan bantuan ke tempat dan orang yang tepat, yang sering kali berada di komunitas pedesaan terpencil," tulis laporan tersebut.
Lebih lanjut, tidak semua spesies ular akan memperluas wilayahnya. Banyak spesies di cekungan Kongo, Amazon, dan Asia Tenggara, terutama yang habitatnya memang sudah sempit diperkirakan justru akan mengalami penyusutan wilayah, sehingga memicu kekhawatiran akan kepunahan.
Baca juga: Melacak Perdagangan Satwa Liar di Era Pasar Online
Ular puff adder yang tersebar luas dan sering menggigit manusia di Afrika juga diperkirakan akan kehilangan sebagian besar wilayah habitatnya saat ini.
"Prediksi kami dapat digunakan untuk memutuskan di mana harus menyimpan stok antibisa tertentu, cara memastikan kapasitas fasilitas kesehatan yang memadai, cara meningkatkan akses layanan kesehatan bagi komunitas terpencil yang berisiko, serta menentukan fokus upaya pelestarian bagi spesies ular yang terancam punah," kata para peneliti.
Hasil studi ini sendiri muncul saat PBB memperingatkan bahwa sistem iklim dunia dalam keadaan darurat.
Laporan State of the Global Climate 2025 dari Organisasi Meteorologi Dunia menemukan bahwa periode 11 tahun dari 2015 hingga 2025 adalah rekor tahun terpanas, dengan suhu tahun 2025 sekitar 1,43 derajat C di atas level pra-industri.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyatakan bahwa setiap indikator utama iklim sedang dalam kondisi "bahaya besar". Ia menambahkan bahwa ketergantungan planet ini pada bahan bakar fosil telah "mengganggu kestabilan iklim maupun keamanan global".
Laju pemanasan samudra antara tahun 2005 hingga 2025 meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode 1960 hingga 2005.
Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo menambahkan aktivitas manusia semakin merusak keseimbangan alam dengan dampak yang akan terasa selama ratusan bahkan ribuan tahun ke depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya