Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

RI Mulai Masuk Musim Kemarau, Kenapa di Jakarta Masih Hujan?

Kompas.com, 6 April 2026, 20:31 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan beberapa wilayah di timur Indonesia  telah memasuki musim kemarau. Meski demikian, sejumlah daerah seperti di Jakarta terus diguyur hujan.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan hal itu dikarenakan sebagian besar wilayah Jawa belum memasuki kemarau.

"Indonesia ini kan besar sekali, musim kemarau umumnya dari Indonesia bagian timur Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa Timur, dan seterusnya. Jadi memang tidak serentak, kita masih banyak hujan di Jakarta karena memang sekarang sedang transisi tetapi di Nusa Tenggara Timur sudah kemarau," ungkap Ardhasena ditemui di kantor Kementerian Kehutanan, Senin (6/4/2026).

Baca juga: BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim

Dia menambahkan, saat ini wilayah Jawa masih berada pada fase pancaroba atau transisi dari musim hujan menuju kemarau. Pada periode tersebut, hujan masih bisa terjadi dengan pola yang tidak menentu.

Menurut Ardhasena, awal musim kemarau di Pulau Jawa umumnya dimulai secara bertahap dari wilayah timur, kemudian bergerak ke barat.

"Mulai dari (wilayah) timur, ada yang mulai bulan Mei, ada yang Juni, bervariasi. Kalau di Jawa, kecenderungannya mulai dari timur lalu daerah yang dataran rendah duluan, lalu naik jadi daerah yang dataran tinggi biasanya belakangan," tutur dia.

BMKG pun memprediksi peluang berkembangnya fenomena El Nino pada semester kedua tahun ini. Hingga akhir Maret 2026, kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau masih berada pada fase netral. Namun, Ardhasena menyatakan pemodelan iklim menunjukkan ENSO dapat berkembang menjadi fase El Nino pada semester kedua pada 2026.

“Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Nino berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80 persen, dan mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20 persen) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat," beber Ardhasena.

Sementara ini, 7 persen zona musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau sejak akhir Maret 2026. Berdasarkan perkiraan, sebagian besar wilayah Indonesia atau 61,4 persennya mengalami puncak kemarau di Agustus 2026.

Sebagian besar daerah juga diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih kering dan panjang dari normalnya.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mencatat wilayah yang telah memasuki musim kemarau antara lain Aceh, sebagian kecil wilayah Sumatera Utara, sebagian kecil Riau, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, dan sebagian Sulawesi Tenggara.

Kemudian, sebagian kecil Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagian kecil Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, serta sebagian kecil Papua Barat.

“BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika iklim global dan regional serta menyampaikan pembaruan informasi secara berkala. Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG melalui berbagai kanal komunikasi yang tersedia,” kata Faisal dalam keterangannya, Senin (6/4/2026).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau