TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Pohon manggis sangat rentan terhadap krisis iklim. Cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim, mengganggu siklus produksi pohon manggis dan jadwal panennya.
Iim Suherman (51 tahun) mengatakan, terlalu sering hujan telah menurunkan produktivitas perkebunan manggisnya di Desa Puspahiang, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.
"Hasil panen berkurang, dari 700 kg per musim, menjadi 400 kg," ujar Iim di Tasikmalaya, Rabu (8/4/2026).
Baca juga: RI Mulai Masuk Musim Kemarau, Kenapa di Jakarta Masih Hujan?
Menurut Iim, musim kemarau yang agak panjang atau sekitar 4-5 bulan menjadi kondisi paling ideal untuk pohon manggis bisa berbuah banyak.
"Kalau baru satu bulan langsung ada hujan lagi, enggak akan berbuah kalau di sini," tutur Iim.
Kata dia, pohon manggis harus berusia di atas 10 tahun untuk mencapai fase produktif. Buah manggis berasal dari perkembangan bunga. Pohon manggis membutuhkan waktu 4-6 bulan untuk mengubah bunga menjadi buah.
CEO Java Fresh, Margareta Astaman mengatakan, musim hujan menyebabkan bunga pada pohon manggis akan rontok atau tidak muncul dan menjadi daun. Dalam kondisi ini, produksi manggis perkebunan di Desa Puspahiang, menurun.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia akan lebih kering dan berlangsung semakin panjang dari normalnya yang dipicu fenomena El Niño.
Pohon manggis membutuhkan keseimbangan iklim dengan kadar sinar matahari dan air hujan yang proporsional agar mampu mengubah bunga menjadi buah. Setelah berbuah, pohon manggis membutuhkan pasokan air yang cukup untuk membesarkannya.
"Iya, kalau tahun sebelumnya sudah enggak berbuah (tahun 2025), tahun ini ada kemarau yang panjang, harusnya tahun ini sudah pasti ada buah. Hanya saja ketika kemaraunya itu terlalu panjang, berarti kan pohon manggis yang sudah berbuah itu, enggak dapat cukup air untuk membesarkan buahnya. Akibatnya, buahnya cenderung biasanya kecil-kecil," ujar Margareta.
Menurut Margareta, mengelola bisnis ekspor manggis semakin susah akibat dampak krisis iklim terhadap perkebunan manggis.
Tahun lalu, cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim mengakibatkan Java Fresh berhenti mengekspor manggis. Padahal, sejak beroperasi pada 2014, setiap tahunnya, Java Fresh selalu mengirim manggis ke luar negeri.
"Ada musim (panen) besar, ada musim kecil, tetapi kita selalu bisa ekspor manggis. Cuman tahun lalu karena cuacanya lumayan ekstrem, kacau gitu ya karena hujan yang berkepanjangan dan di semua daerah. Jadinya sempat ada 1-2 bulan di Indonesia enggak ada manggis sama sekali. Itu sebenarnya tidak normal karena tidak pernah terjadi, bahkan dari 10 tahun belakangan tuh enggak pernah terjadi juga," tutur Margareta.
Baca juga: RI Mulai Masuk Musim Kemarau, Kenapa di Jakarta Masih Hujan?
Meski komoditas Java Fresh paling laku, kata dia, manggis justru terdampak krisis iklim terparah. Khususnya, disebabkan siklus produksi manggis lebih lama dari komoditas ekspor Java Fresh lainnya, seperti salak dan kelapa. Jika siklus produksinya semakin panjang, pohon akan lebih lama menghadapi berbagai risiko yang mempengaruhi pohon sebelum dipanen.
"Iya, kalau salah satu komoditas utama kita juga salak. Nah kalau salak itu ada proses pengawinan yang dilakukan oleh petaninya jadi lebih bisa diatur lah, ada hujan juga ya nggak apa-apa gitu masih bisa," ucapnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya