KOMPAS.com - Saat cuaca ekstrem mengancam, peringatan yang cepat dan akurat memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk mengubah rencana, bersiap menghadapi bahaya, dan dalam kondisi yang paling parah, mengambil keputusan yang menyelamatkan nyawa mereka.
Namun, apakah itu berarti memperbaiki prakiraan cuaca benar-benar bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa di tengah Bumi yang semakin panas?
Peneliti dari Universitas Arizona di Amerika Serikat mencoba menjawab pertanyaan tersebut.
Melansir Phys, Senin (13/4/2026) penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PNAS itu menunjukkan bahwa memperbaiki prakiraan suhu jangka pendek dapat mengurangi angka kematian akibat panas di Amerika Serikat sebesar 18 persen hingga 25 persen pada tahun 2100.
"Hal itu dapat menutupi jumlah kematian tambahan akibat panas yang disebabkan oleh perubahan iklim," kata Derek Lemoine, seorang profesor ekonomi dari Universitas Arizona.
Baca juga: Gelombang Panas Picu Kematian Dini, 90 Persen Terjadi di Negara Miskin
Menurutnya, mengingat perubahan iklim akan membuat gelombang panas semakin sering terjadi, prakiraan cuaca yang akurat akan menjadi semakin berharga.
Untuk mencapai kesimpulan tersebut, Lemoine dan rekan-rekannya memeriksa prakiraan cuaca harian dari National Weather Service di seluruh wilayah Amerika Serikat sejak musim panas tahun 2004.
Mereka menggabungkan informasi prakiraan tersebut dengan data cuaca asli yang dikumpulkan oleh kelompok riset dari Oregon State University.
Setelah mengumpulkan data cuaca historis tersebut, para peneliti kemudian memasukkan catatan angka kematian di tingkat daerah dari CDC (Lembaga Pengendalian Penyakit AS) yang mencatat kejadian-kejadian penting di seluruh negeri.
Setelah memilah kematian yang bukan disebabkan oleh cuaca, tim peneliti menemukan bahwa kunci utama dalam hubungan antara suhu dan angka kematian adalah akurasi prakiraan cuaca.
Risiko terbesar muncul ketika prakiraan cuaca memperkirakan suhu lebih rendah daripada panas yang sebenarnya terjadi.
Lemoine bersama timnya pun membuktikan bahwa prakiraan cuaca yang lebih akurat dapat membantu mengurangi angka kematian pada hari-hari dengan panas yang berbahaya.
Para peneliti kemudian melihat masa depan prakiraan cuaca dan bagaimana kemajuan teknologi bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa. Mereka melakukannya dengan mewawancarai para ahli meteorologi pada awal 2025 untuk memperkirakan perkembangan teknologi ke depannya.
Para ahli tersebut memberikan pandangan tentang berbagai faktor, termasuk kemajuan kecerdasan buatan (AI), dampak perubahan iklim, serta perubahan dalam jumlah anggaran dan staf.
Jawaban-jawaban tersebut digunakan untuk membuat tiga skenario masa depan.
Pertama, jika prakiraan cuaca menjadi sangat akurat sesuai harapan terbaik para ahli, kedua, jika kemajuannya sangat lambat sesuai perkiraan terburuk mereka, dan ketiga jika prakiraan cuaca menjadi benar-benar sempurna tanpa kesalahan sedikit pun.
Baca juga: Suhu Air Laut yang Naik Picu Gelombang Panas Ekstrem di Darat
Menggunakan data kematian dan iklim di masa lalu, para peneliti memperkirakan bagaimana setiap skenario tersebut akan memengaruhi angka kematian di masa depan dalam beberapa kondisi iklim: kondisi tanpa perubahan iklim, kondisi dengan pemanasan 1,6 derajat Celsius, pemanasan 2,7 derajat Celsius, hingga kondisi ekstrem di mana suhu Amerika Serikat naik sebesar 3,8 derajat Celsius.
Hasilnya sama. Para peneliti menemukan beberapa skenario di mana prakiraan cuaca yang lebih akurat dapat menutupi lonjakan angka kematian akibat panas.
Mereka juga menyimpulkan bahwa jika investasi pada prakiraan cuaca menurun dan kualitasnya memburuk, prediksi yang tidak akurat justru dapat menyebabkan lebih banyak orang meninggal karena panas.
"Jumlah nyawa yang selamat berkat prakiraan cuaca yang lebih baik memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Jika nilai tersebut dikalikan dengan jumlah nyawa yang selamat, maka investasi pada ramalan cuaca akan menghasilkan keuntungan yang sangat besar," kata Lemoine.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya