JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan hujan bakal melanda beberapa wilayah hingga Senin (20/4/2026). Hujan intensitas ringan-sedang ini terjadi di tengah peralihan musim kemarau.
"Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang sampai lebat yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau," kata BMKG dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026).
Lainnya di Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua, serta Papua Selatan.
Baca juga: Menurut BMKG, Curah Hujan 2026 akan Lebih Rendah dari Curah Hujan 30 Tahun Terakhir
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi di wilayah tersebut.
BMKG menjelaskan bahwa saat ini kondisi cuaca di Indonesia masih dipengaruhi dinamika atmosfer dalam skala global, regional, dan lokal. Pada skala global, fenomena El Nino–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase netral.
Secara regional, pengaruh monsun Australia makin kuat dan diperkirakan masih akan bertahan dalam beberapa hari ke depan.
"Penguatan ini mendorong masuknya massa udara yang relatif kering dari Australia ke Indonesia. Di sisi lain, pola angin zonal yang didominasi angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia menjadi salah satu tanda bahwa beberapa wilayah mulai berangsur memasuki masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau," ungkap BMKG.
Di sisi lain, dinamika atmosfer lainnya masih berperan memicu hujan hingga pertengahan April 2026. BMKG menyebut, madden-julian oscillation (MJO) diprediksi melintasi sebagian wilayah Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan Kepulauan Riau.
Di samping itu, gelombang kelvin diprediksi aktif di Pulau Sumatera bagian tengah hingga selatan, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua bagian utara hingga tengah. Gelombang rossby ekuatorial juga diprakirakan aktif di pesisir selatan Jawa Barat, Kalimantan Timur, Pulau Sulawesi bagian utara hingga tengah, Maluku Utara, dan Papua Selatan.
Aktivitas gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG) juga diprediksi aktif di Laut Banda dan Laut Arafura. Kondisi ini dapat memicu terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
Baca juga: Kualitas Udara di Jabodetabek Membaik hanya Kalau Hujan
Diberitakan sebelumby, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menyampaikan kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau berada pada fase netral.
Pemodelan iklim menunjukkan ENSO dapat berkembang menjadi fase El Nino pada semester kedua 2026.
"Kita akan memasuki musim kemarau ya Mulai di April-Mei, puncaknya nanti di Agustus, kemudian nanti berakhir di bulan September hingga awal Oktober," papar Faisal di kantor Kementerian Kehutanan, Senin (6/4/2026).
"Tahun ini kemarau akan datang lebih cepat dan lebih panjang, dan dengan hujan rata-rata itu di bawah normal Ini dibandingkan musim kemarau selama 30 tahun terakhir maka kondisi hujan kira-kira akan lebih rendah," imbuh dia.
BMKG melaporkan hingga akhir Maret 2026, sebanyak 7 persen zona musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Jumlah ini akan terus bertambah secara signifikan dengan sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya