Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Aleks Alistya
Dosen

Dosen Institut Teknologi Keling Kumang Sekadau

Kembali ke Ekonomi Bumi

Kompas.com, 20 April 2026, 09:28 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Artinya, bencana yang menimpa manusia adalah bukti bahwa cara pandang terhadap hidup dan terhadap bumi, tidak tepat, atau bahkan salah.

Memakai istilah Derrida, filsuf Perancis, dibutuhkan dekonstruksi, dan kemudian perubahan paradigma (paradigm shift) seperti dikatakan oleh Thomas Kuhn (1962) agar bencana bisa diminimalkan.

Secara sederhana, dari kacamata seluruh kehidupan di atas bumi, perubahan, atau bahkan pembalikan, paradigma itu harus menempatkan bumi sebagai sentral.

Manusia hanya bagian saja, bukan menjadi pusat. Istilah yang sering dipakai adalah membalik dari ego-logi menjadi eko-logi.

Ekologi pada dasarnya adalah ilmu (logos) tentang rumah bersama (oikos, bahasa Yunani, dalam hal ini bumi).

Ilmu atau cara pandang inilah yang seharusnya melandasi ekonomi (dari oikos, rumah bersama, dan nomos, aturan).

Logika sederhana pun mengatakan bahwa aturan itu dibuat berdasarkan pengetahuan, bukan sebaliknya.

Membuat nomos atau aturan tanpa dilandasi cara pandang yang utuh akan terjadi karut-marut dan kemudian menyebabkan kehancuran.

Itulah yang terjadi ketika ekonomi dijadikan panglima, dan ekologi sekedar dijadikan sekedar investasi, atau bahkan sekedar asesori. Sekali lagi, semua bencana sosial dan bencana alam, adalah falsifikasi cara pandang ini.

Ekonomi bumi bukan sekedar ekonomi yang berbalut jargon ekologis, tetapi ekologi yang ekonomis, ekonomi untuk sungguh menopang bumi.

NEP dan Indonesia

Upaya memperjuangkan ekologi yang ekonomis adalah upaya untuk tetap mengusahakan keseimbangan. Ekonomi tidak ditolak, tetapi ditempatkan pada porsis yang lebih pas.

Untuk itu, supaya lebih jelas dan terukur, pada tahun 1978 Riley E. Dunlap dan Kent D. van Liere, dua akademisi dari Amerika Serikat mengembangkan NEP (New Paradigm Scale), sebuah 'alat ukur' sikap dan pandangan terhadap bumi.

Dalam perkenalan pertama itu, mereka menguraikan dua belas pernyataan, yang bisa disetujui atau tidak disetujui, tentang hubungan manusia dan bumi.

Gagasan dasarnya adalah menempatkan manusia di tengah bumi ini sebagai bagiannya, bukan pusatnya. Pada tahun 2000, skala itu mereka perbarui.

Ada tiga tambahan dalam skala dengan lebih menekankan keterbatasan bumi. Dalam hal ini, manusia tetap ditempatkan sebagai yang bertanggung-jawab, meski bukan sebagai pusat.

Dengan rumusan yang lebih dimengerti dan skala yang lebih terperinci, NEP ini sudah mulai banyak digunakan beberapa lembaga internasional, termasuk PBB, akademisi, peneliti, LSM, dan juga beberapa lembaga bisnis untuk bercermin sejauh mana sudah memiliki cara pandang baru pada bumi. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana dengan Indonesia?

Apakah kita berani berkaca dengan skala NEP? NEP sudah cukup lama dikenali oleh para akademisi dan tak sedikit aktivis lingkungan.

Tentu, NEP disini bukan sekedar New Energy Policy. Tetapi perlu diingat, mereka bukan penentu kebijakan.

Para akademisi dan aktivis hanya berpendapat dan menyampaikan usul. Itu pun kalau tidak dibungkam.

Dengan segala macam bencana sosial dan lingkungan yang terjadi, demi bumi, saatnya memang kita berkaca dengan lebih mendalam.

NEP bisa membantu untuk mengevaluasi, merefleksi, bahkan meng-audit diri dengan lebih transparan, agar bisa melangkah ke depan dengan lebih baik, bukan hanya untuk generasi yang masih hidup, tetapi juga untuk generasi yang akan datang.

Memang, pada tahun 2004 muncul ESG (Environmental, Social, and Governance) tetapi lebih terfokus pada tata kelola. NEP bisa mendasarinya, dan kemudian bisa membantu para pengusaha menerapkan CSV (Creating Share Values) agar lebih mem-bumi.

Berdasarkan hal itu, pertanyaannya akhirnya sederhana: apakah kita, terutama para penentu kebijakan, termasuk para legislator dan pengusaha, berani menjadi lebih baik untuk hidup bersama bumi?

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau