Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Kapitalisme, misalnya, akan melihat orang dan makhluk lain serta benda-benda, termasuk bumi, adalah aset atau investasi. Pandangan ini sangat bersifat fungsional, mengebiri setiap makna atau nilai diri.
Yang ketiga adalah keseimbangan atau harmoni. Pandangan bahwa masing-masing mempunyai nilai pada dirinya tidak berarti tidak boleh saling 'memanfaat'-kan.
Saling memanfaatkan akan terjadi, tetapi dilihat dalam cara pandang kebersamaan atau kesatuan, sehingga bisa dibaca sebaliknya, yaitu saling memberi.
Supaya tidak terjadi ada dominasi yang satu terhadap yang lain, ada nilai harmoni yang perlu dijaga.
Tanpa mengurangi makna pentingnya, Hari Bumi pada dasarnya bukan sekedar aktivisme.
Hari Bumi imperatif untuk mengingat dan merenungi kembali segala pemikiran yang ada di baliknya.
Kritik Marcuse yang paling menohok adalah cara pandang atau ideologi kapitalisme.
Kritik ini juga bagi kita yang banyak diterpa bencana, apalagi kalau digoda dengan prediksi OECD (Organizsation for Economic Co-operation and Development) baru-baru ini bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,8 persen, lebih rendah dari harapan pemerintah.
Kapitalisme bertolak dari cara pandang tentang manusia sebagai panglima bumi. Selain itu, kapitalisme juga didorong oleh pandangan liberal bahwa manusia itu individual, rasional, and bebas.
Dengan dasar pemikiran ini, dalam kebebasannya, manusia menjadi binatang ekonomi (economic animal) semata.
Baca juga: Pesan Paskah: Sarungkan Pedangmu di Ruang Publik yang Mengeras
Fakta adanya eksploitasi manusia secara langsung maupun tidak langsung di satu sisi, dan adanya penumpukan modal pada segelintir orang pada sisi lain, menunjukkan wajah getir individualisme.
Pun, bagi manusia liberal yang sok pintar, krisis dan kehancuran bumi akan bisa diatasi dengan teknologi. Inilah cara pandang tunggal yang dikritik Marcuse.
Marcuse tidak anti ekonomi. Yang dikritik adalah cara pandang dan tata-kelola atas ekonomi itu.
Jika kritik ini dihubungkan dengan para pemikir yang peduli bumi, titik lemah cara pandang kapitalisme adalah pengingkaran pada kesaling-terhubungan dan adanya nilai pada dirinya pada setiap makhluk serta benda, dan karena itu menafikan prinsip keseimbangan.
Kenyataan bahwa 'harta' bumi ini dimiliki oleh sekelompok kecil orang jelas menunjukkan dominasi.
World Inequality Report 2026 mengatakan bahwa 75 persen kekayaan global dimiliki hanya oleh 10 persen orang.
Bahwa orang lain, juga makhluk dan benda di atas bumi, hanya dilihat sebagai aset berarti tidak dihargainya nilai pada manusia, mahluk dan benda-benda pada dirinya.
Segala bencana alam dan bencana sosial yang ditimbulkannya, bencana kemiskinan di beberapa daerah dan bencana alam di Aceh dan Medan tadi sebagai contohnya, secara terang-benderang menunjukkan ketidak-seimbangan.
Memang, sudah ada gerakan-gerakan kecil untuk menjaga keseimbangan ini.
Ada konsep tentang pembangunan berkelanjutan yang mulai digagas oleh Laporan Brundtland pada tahun 1987. Laporan ini memunculkan gagasan tentang ekonomi hijau dan ekonomi sirkular.
Bola yang menggelinding pada tataran Perserikatan Bangsa-bangsa ini lalu memunculkan MDGs (2000) yang dilanjutkan dengan SDGs (2015).
Gerakan-gerakan pada ranah global itu bagus, dan berusaha mengakomodasi prinsip-prinsip ekologis, terutama keseimbangan.
Hanya saja, masih cukup kentara bahwa ekonomi menjadi panglima. Ekologi masih dipandang sebagai latar dimensionalnya.
Dengan kata lain, bau-bau BAU (business as usual) masih cukup terasa. Istilahnya singkat untuk gerakan-gerakan ini adalah ekonomi yang ekologis.
Baca juga: Film Ghost in the Cell: Potret Banalitas Lapas di Indonesia
Segala dampak kehancuran sosial dan alam itu dalam pandangan epistemologi, dengan memakai istilah Karl Popper (filsuf Austria), bisa disebut sebagai falsifikasi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya