Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Aleks Alistya
Dosen

Dosen Institut Teknologi Keling Kumang Sekadau

Kembali ke Ekonomi Bumi

Kompas.com, 20 April 2026, 09:28 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Kapitalisme, misalnya, akan melihat orang dan makhluk lain serta benda-benda, termasuk bumi, adalah aset atau investasi. Pandangan ini sangat bersifat fungsional, mengebiri setiap makna atau nilai diri.

Yang ketiga adalah keseimbangan atau harmoni. Pandangan bahwa masing-masing mempunyai nilai pada dirinya tidak berarti tidak boleh saling 'memanfaat'-kan.

Saling memanfaatkan akan terjadi, tetapi dilihat dalam cara pandang kebersamaan atau kesatuan, sehingga bisa dibaca sebaliknya, yaitu saling memberi.

Supaya tidak terjadi ada dominasi yang satu terhadap yang lain, ada nilai harmoni yang perlu dijaga.

Ekonomi Ekologis

Tanpa mengurangi makna pentingnya, Hari Bumi pada dasarnya bukan sekedar aktivisme.

Hari Bumi imperatif untuk mengingat dan merenungi kembali segala pemikiran yang ada di baliknya.

Kritik Marcuse yang paling menohok adalah cara pandang atau ideologi kapitalisme.

Kritik ini juga bagi kita yang banyak diterpa bencana, apalagi kalau digoda dengan prediksi OECD (Organizsation for Economic Co-operation and Development) baru-baru ini bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,8 persen, lebih rendah dari harapan pemerintah.

Kapitalisme bertolak dari cara pandang tentang manusia sebagai panglima bumi. Selain itu, kapitalisme juga didorong oleh pandangan liberal bahwa manusia itu individual, rasional, and bebas.

Dengan dasar pemikiran ini, dalam kebebasannya, manusia menjadi binatang ekonomi (economic animal) semata.

Baca juga: Pesan Paskah: Sarungkan Pedangmu di Ruang Publik yang Mengeras

Fakta adanya eksploitasi manusia secara langsung maupun tidak langsung di satu sisi, dan adanya penumpukan modal pada segelintir orang pada sisi lain, menunjukkan wajah getir individualisme.

Pun, bagi manusia liberal yang sok pintar, krisis dan kehancuran bumi akan bisa diatasi dengan teknologi. Inilah cara pandang tunggal yang dikritik Marcuse.

Marcuse tidak anti ekonomi. Yang dikritik adalah cara pandang dan tata-kelola atas ekonomi itu.

Jika kritik ini dihubungkan dengan para pemikir yang peduli bumi, titik lemah cara pandang kapitalisme adalah pengingkaran pada kesaling-terhubungan dan adanya nilai pada dirinya pada setiap makhluk serta benda, dan karena itu menafikan prinsip keseimbangan.

Kenyataan bahwa 'harta' bumi ini dimiliki oleh sekelompok kecil orang jelas menunjukkan dominasi.

World Inequality Report 2026 mengatakan bahwa 75 persen kekayaan global dimiliki hanya oleh 10 persen orang.

Bahwa orang lain, juga makhluk dan benda di atas bumi, hanya dilihat sebagai aset berarti tidak dihargainya nilai pada manusia, mahluk dan benda-benda pada dirinya.

Segala bencana alam dan bencana sosial yang ditimbulkannya, bencana kemiskinan di beberapa daerah dan bencana alam di Aceh dan Medan tadi sebagai contohnya, secara terang-benderang menunjukkan ketidak-seimbangan.

Memang, sudah ada gerakan-gerakan kecil untuk menjaga keseimbangan ini.

Ada konsep tentang pembangunan berkelanjutan yang mulai digagas oleh Laporan Brundtland pada tahun 1987. Laporan ini memunculkan gagasan tentang ekonomi hijau dan ekonomi sirkular.

Bola yang menggelinding pada tataran Perserikatan Bangsa-bangsa ini lalu memunculkan MDGs (2000) yang dilanjutkan dengan SDGs (2015).

Gerakan-gerakan pada ranah global itu bagus, dan berusaha mengakomodasi prinsip-prinsip ekologis, terutama keseimbangan.

Hanya saja, masih cukup kentara bahwa ekonomi menjadi panglima. Ekologi masih dipandang sebagai latar dimensionalnya.

Dengan kata lain, bau-bau BAU (business as usual) masih cukup terasa. Istilahnya singkat untuk gerakan-gerakan ini adalah ekonomi yang ekologis.

Baca juga: Film Ghost in the Cell: Potret Banalitas Lapas di Indonesia

Segala dampak kehancuran sosial dan alam itu dalam pandangan epistemologi, dengan memakai istilah Karl Popper (filsuf Austria), bisa disebut sebagai falsifikasi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau