Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Terbaru: Kondisi Thailand Berpotensi Seterik Gurun Sahara pada 2070

Kompas.com, 20 April 2026, 15:47 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Selama gelombang panas parah tahun 2016, gambar dari NASA menunjukkan bahwa suhu permukaan tanah di beberapa bagian Thailand mencapai 12 derajat Celsius di atas rata-rata.

Laporan tahun 2020 juga mencatat bahwa lebih dari 50 kota menyamai atau memecahkan rekor panas harian. Sementara itu, wilayah Mae Hong Son mencatat suhu 44,6 derajat Celsius pada 28 April 2016, yang saat itu merupakan suhu udara tertinggi yang pernah tercatat di Thailand.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah kemungkinan bahwa gelombang panas "biasa" di masa depan akan terasa sama parahnya dengan gelombang panas paling berbahaya saat ini. Di masa depan tersebut, panas ekstrem tidak lagi dianggap sebagai kejadian aneh, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Suhu panas yang meningkat berdampak langsung pada kesehatan, produktivitas kerja, pertanian, dan ketahanan pangan. Suhu yang lebih tinggi meningkatkan risiko penyakit jantung, pernapasan, dan penyakit menular, di mana dampak terberatnya akan dirasakan oleh kelompok rentan seperti keluarga berpenghasilan rendah, lansia, dan pekerja luar ruangan.

Masyarakat yang terdampak

Masyarakat di pedesaan sangat terancam karena mereka sering kali kesulitan mendapatkan akses ke AC atau sistem pendingin lainnya.

Panas yang berlebihan membuat kerja di luar ruangan menjadi tidak efisien, menurunkan hasil panen, dan meningkatkan penggunaan listrik untuk pendingin ruangan.

Hal tersebut pada akhirnya bisa memperburuk krisis iklim jika pembangkit listriknya masih bergantung pada bahan bakar fosil.

Dengan kata lain, panas bukan hanya ancaman bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga penghambat jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi, pemerataan, dan ketahanan negara.

AC sering dianggap sebagai cara untuk bertahan hidup, tetapi itu saja tidak akan cukup untuk menyelesaikan masalah.

Memperluas akses pendingin ke seluruh negeri akan membutuhkan infrastruktur energi baru yang sangat besar. Selain itu, ketergantungan yang berlebihan pada AC justru bisa memperburuk emisi jika sumber energinya belum ramah lingkungan.

AC adalah salah satu bentuk adaptasi, namun berisiko memperparah krisis jika tidak dibarengi dengan perubahan sistem secara menyeluruh.

Di Thailand, panas ekstrem berkaitan erat dengan kekeringan yang semakin parah, banjir yang lebih sering dan merusak, serta naiknya permukaan air laut yang mengancam masyarakat pesisir dan pusat ekonomi.

Baca juga: Bumi Catat Rekor Panas Ekstrem Tahun 2025, PBB Ingatkan Dampaknya

Tekanan-tekanan ini saling tumpang tindih, sehingga membuat upaya penanganan menjadi lebih sulit dan jauh lebih mahal.

Itulah sebabnya perdebatannya bukan lagi sekadar tentang bagaimana cara menghadapi cuaca yang lebih panas.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau