Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Terbaru: Kondisi Thailand Berpotensi Seterik Gurun Sahara pada 2070

Kompas.com, 20 April 2026, 15:47 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Thailand berpotensi menghadapi kondisi panas ekstrem yang setara dengan Gurun Sahara pada tahun 2070.

Menurut berbagai penelitian iklim, pemanasan global terus mendorong beberapa wilayah di dunia melampaui batas suhu yang biasanya bisa ditinggali manusia dengan nyaman.

Melansir Straits Times, Sabtu (18/4/2026) peringatan tersebut ditekankan oleh Tara Buakamsri, direktur program Climate Connectors, saat membahas artikel karya Owen Mulhern tahun 2020 yang berjudul "Too Hot To Live: Climate Change In Thailand" serta studi penting berjudul "Future Of The Human Climate Niche" oleh Xu dan rekan-rekannya.

Toleransi manusia terhadap panas

Penelitian tersebut berpendapat bahwa suhu panas yang meningkat dapat mengancam batas kemampuan manusia untuk bertahan hidup. Hal ini didasarkan pada data bahwa 19 dari 20 tahun terpanas yang pernah tercatat terjadi setelah tahun 2001.

Inti dari studi ini adalah gagasan tentang "relung iklim manusia", yaitu rentang suhu yang relatif sempit di mana manusia selama ribuan tahun telah berkembang, menetap, dan membangun peradaban.

Baca juga: Panas Ekstrem Bisa Ganggu Aktivitas Sehari-hari Manusia

Menurut laporan tersebut, secara historis sebagian besar penduduk manusia berkumpul di wilayah dengan suhu rata-rata tahunan sekitar 11 hingga 15 derajat Celsius.

Namun, banyak orang saat ini sudah tinggal di tempat yang lebih hangat dari rentang sejarah tersebut, namun dalam kondisi yang secara umum masih bisa diadaptasi oleh masyarakat.

Kekhawatirannya adalah apa yang akan terjadi jika suhu rata-rata tahunan naik di atas 29 derajat Celsius. Studi tersebut menyebutkan bahwa kondisi seperti itu saat ini hanya ditemukan di sekitar 0,8 persen daratan bumi, sebagian besar di Gurun Sahara.

Namun, jika emisi gas rumah kaca tetap tinggi, wilayah panas tersebut bisa meluas secara drastis dan membuat sepertiga penduduk dunia terpapar suhu panas yang saat ini hanya terjadi di segelintir tempat saja.

Suhu panas di Thailand

Bagi Thailand, dampak itu sangat mengkhawatirkan. Saat ini, suhu rata-rata tahunan di sana sudah mencapai sekitar 26 derajat Celsius, angka yang cukup tinggi dan mendekati zona bahaya.

Prediksi iklim dalam diskusi tersebut menunjukkan bahwa pada akhir abad ini, Thailand bisa melewati ambang batas 29 derajat Celsius. Hal ini akan mendorong kondisi rata-rata suhu di sana menyamai level suhu di iklim gurun.

Hal ini bukan sekadar berarti hari-hari akan terasa lebih panas. Ini menandakan perubahan besar menuju iklim yang jauh lebih sulit bagi kehidupan manusia dan kegiatan ekonomi untuk bisa berkembang.

Tanda-tandanya sudah mulai terlihat. Dari bulan Maret hingga Mei setiap tahunnya, Thailand secara rutin mengalami suhu di atas 40 derajat Celsius.

Baca juga: Suhu Air Laut yang Naik Picu Gelombang Panas Ekstrem di Darat

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau