Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gaya Hidup Ramah Lingkungan Masih Mahal

Kompas.com, 22 April 2026, 22:03 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi


JAKARTA, KOMPAS.com - Menjalani gaya hidup ramah lingkungan dinilai belum mudah diterapkan secara luas karena banyak solusi berkelanjutan masih tergolong rumit dan mahal. Akibatnya, praktik hidup hijau kerap dianggap sebagai privilese yang hanya bisa diakses kelompok tertentu.

Sekretaris Dewan Pengurus The Habibie Center, Nadia Sofia Habibie, mengatakan penerapan gaya hidup berkelanjutan masih menghadapi banyak kendala, baik dari sisi biaya maupun kepraktisan.

“Banyak solusi-solusi hijau agak ribet. Memang beberapa hal yang saya lakukan juga belum hijau-hijau banget karena memang rumit dan mahal,” ujar Nadia dalam peluncuran kampanye "Aku Net-Zero Hero", Rabu (22/4/2026).

Baca juga: Urine Manusia Bisa Jadi Solusi Pupuk Ramah Lingkungan

Menurut Nadia, isu keberlanjutan sering kali terasa eksklusif karena sulit relevan bagi masyarakat yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Ia menilai, keberlanjutan merupakan agenda jangka panjang yang membutuhkan kemampuan merencanakan masa depan. Karena itu, isu ini sulit menjadi prioritas bagi kelompok masyarakat yang masih fokus bertahan hidup.

“Kalau kita masih memikirkan kebutuhan besok, kita enggak bisa sustainable,” tuturnya.

Dilema di tingkat nasional

Nadia menambahkan, jika di tingkat personal isu keberlanjutan terkesan elitis, maka di tingkat nasional persoalan tersebut bersifat dilematis.

Menurut dia, banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, masih melihat industrialisasi sebagai jalan menuju kemajuan ekonomi, meski proses itu menghasilkan emisi karbon tinggi.

Di sisi lain, kebijakan nasional juga memengaruhi upaya masyarakat menjalani gaya hidup ramah lingkungan. Indonesia, misalnya, masih sangat bergantung pada energi fosil.

Aktivitas masyarakat masih banyak ditopang listrik dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara, sementara mobilitas sehari-hari masih bergantung pada kendaraan berbahan bakar minyak.

“Jadi kita semua itu bagian dari krisis iklim. Solusinya ada, tapi memang repot, sulit, dan mahal karena ketergantungan kita sudah luar biasa,” kata Nadia.

Kendaraan listrik mulai dilirik

Ia mencontohkan, peralihan dari mobil berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik belum tentu bisa dilakukan secara instan. Banyak orang memilih menunggu hingga masa pakai kendaraan lamanya habis.

Namun, menurut Nadia, ketidakpastian harga bahan bakar minyak belakangan ini mulai mendorong masyarakat mempertimbangkan kendaraan listrik karena lebih efisien dari sisi biaya energi.

Baca juga: Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari

“Sekarang banyak banget kendaraan listrik dan harganya sudah lumayan kompetitif,” ujarnya.

Meski demikian, Nadia menilai tantangan terbesar dalam menjalani gaya hidup ramah lingkungan justru terletak pada perubahan kebiasaan pribadi, terutama yang berkaitan dengan pola konsumsi dan makanan.

Ia menegaskan, transformasi menuju gaya hidup hijau membutuhkan perubahan sistemik sekaligus perubahan perilaku individu agar dapat diterapkan lebih luas di masyarakat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH: Beban Sampah Bantargebang 8.000 Ton, Jakarta Wajib Transformasi
KLH: Beban Sampah Bantargebang 8.000 Ton, Jakarta Wajib Transformasi
Pemerintah
SIG Percepat Penggunaan Energi Alternatif dan Reklamasi Tambang
SIG Percepat Penggunaan Energi Alternatif dan Reklamasi Tambang
BUMN
InJourney bersama ITDC Rehabilitasi Mangrove di KEK Mandalika
InJourney bersama ITDC Rehabilitasi Mangrove di KEK Mandalika
BUMN
IPB University Gandeng Astra, Dorong Ekosistem Bisnis Desa lewat Program OVOC
IPB University Gandeng Astra, Dorong Ekosistem Bisnis Desa lewat Program OVOC
Pemerintah
'Waste Station' bakal Lengkapi Sistem Pengelolaan Sampah WtE
"Waste Station" bakal Lengkapi Sistem Pengelolaan Sampah WtE
Swasta
Cegah Demotivasi Daur Ulang, MR.D.I.Y Luncurkan 'Waste Station' di Jakarta
Cegah Demotivasi Daur Ulang, MR.D.I.Y Luncurkan "Waste Station" di Jakarta
Swasta
Godzilla El Nino Berisiko Picu Karhutla, Ancam Iklim dan Keanekaragaman Hayati
Godzilla El Nino Berisiko Picu Karhutla, Ancam Iklim dan Keanekaragaman Hayati
LSM/Figur
Warga Eropa Bayar Listrik 25 Persen Lebih Murah Berkat Pembangkit EBT
Warga Eropa Bayar Listrik 25 Persen Lebih Murah Berkat Pembangkit EBT
Pemerintah
Pendanaan Iklim Bisa Tekan Risiko Konflik di 85 Negara Berkembang
Pendanaan Iklim Bisa Tekan Risiko Konflik di 85 Negara Berkembang
Pemerintah
Tingginya Konsumsi Daging Sapi Dunia jadi Penyebab Utama Kerusakan Hutan Amazon
Tingginya Konsumsi Daging Sapi Dunia jadi Penyebab Utama Kerusakan Hutan Amazon
Pemerintah
Citra Satelit Jadi Cara Pantau Deforestasi dan Kepatuhan ESG Secara Akurat
Citra Satelit Jadi Cara Pantau Deforestasi dan Kepatuhan ESG Secara Akurat
Pemerintah
Krisis Iklim Perparah Risiko Longsor, AI Bantu Minimalisir Korban
Krisis Iklim Perparah Risiko Longsor, AI Bantu Minimalisir Korban
LSM/Figur
LSMPA Tak Sekadar Perluas Kawasan, tapi Perkuat Pengelolaan Laut Berbasis Data
LSMPA Tak Sekadar Perluas Kawasan, tapi Perkuat Pengelolaan Laut Berbasis Data
LSM/Figur
Radiasi Radioaktif di Perbatasan Ukraina-Rusia Lampaui Zona Perang
Radiasi Radioaktif di Perbatasan Ukraina-Rusia Lampaui Zona Perang
LSM/Figur
India Dilanda Gelombang Panas, Suhunya Capai 40 Derajat
India Dilanda Gelombang Panas, Suhunya Capai 40 Derajat
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau