Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?

Kompas.com, 4 Agustus 2026, 19:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Sebuah penelitian mengungkapkan dukungan warga terhadap kebijakan iklim sangat bergantung pada bagaimana biaya, manfaat, dan dampak pembagian hasilnya disampaikan ke publik.

Penelitian yang terbit di jurnal West European Politics ini mencoba menjelaskan mengapa aturan iklim tertentu justru ditolak warga, padahal sebagian besar orang setuju bahwa krisis iklim memang harus dilawan.

Melansir Phys, Jumat (31/7/2026) dalam studinya, tim peneliti merancang dua eksperimen unik. Eksperimen pertama berupa simulasi cerita yang diselipkan dalam dua periode survei yang memperlihatkan 10 jenis kebijakan iklim yang berbeda kepada para peserta, lalu secara acak menampilkan informasi tentang biaya atau manfaat dari kebijakan-kebijakan tersebut.

Eksperimen kedua berupa penggabungan berbagai pilihan skenario yang menyajikan paket rencana kebijakan iklim untuk kota-kota buatan. Isi kebijakan, biaya, manfaat, serta yang paling utama dampaknya terhadap warga terkaya dan termiskin dibuat bervariasi.

Baca juga: Kebijakan Iklim yang Parsial Berisiko Rugikan Ekosistem dan Anggaran Publik

Hasil penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa menonjolkan biaya ekonomi dari suatu kebijakan secara signifikan menurunkan dukungan publik. Sebaliknya, menekankan manfaatnya, hanya sedikit meningkatkan dukungan. Menurut para peneliti, masyarakat cenderung bereaksi lebih kuat terhadap potensi kerugian daripada potensi keuntungan.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa pemerataan keadilan sosial adalah faktor yang paling menentukan.

Para peserta jauh lebih mendukung kebijakan iklim ketika diberi tahu bahwa aturan tersebut akan membantu meningkatkan kehidupan warga yang kurang mampu. Sebaliknya, dampak kebijakan terhadap orang-orang paling kaya hanya memberikan sedikit pengaruh pada pilihan mereka.

Selain itu, ditemukan juga perbedaan pandangan politik yang cukup tajam. Kelompok sayap kiri paling mendukung langkah penanganan iklim dan sangat peduli pada dampak pemerataan sosialnya.

Sementara itu, kelompok sayap kanan secara umum menunjukkan dukungan yang lebih rendah. Para peneliti juga mencatat adanya penolakan yang sangat kuat dari kelompok sayap kanan ekstrem.

Hasil studi ini memberikan masukan penting untuk merancang dan menyampaikan kebijakan iklim.

Baca juga: Keterlibatan Investor Asia dalam Kebijakan Iklim Melonjak 3 Kali Lipat

Di satu sisi, dukungan publik tidak hanya bergantung pada untuk apa aturan yang dibuat, tetapi juga bagaimana pembagian biaya dan manfaatnya dijelaskan.

Menekankan keadilan pembagian hasil seperti memastikan aturan tersebut tidak merugikan warga kurang mampu bisa menjadi cara ampuh untuk meningkatkan penerimaan masyarakat.

Di sisi lain, studi ini memperingatkan bahwa perdebatan tentang iklim makin terpecah secara politik. Kelompok kanan ekstrem menjadi aktor kunci yang menolak aturan-aturan ini sebuah tren yang dapat memengaruhi keberhasilan aksi iklim di negara-negara Eropa ke depan.

"Hasil penelitian ini dapat membantu mengubah fokus dari sekadar dukungan teori menjadi tindakan nyata yang lebih efektif dan dapat diterima masyarakat," kata Marc Guinjoan yang merupakan pemimpin studi dari University of Barcelona.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa demi menggalang dukungan publik yang kuat dalam menghadapi krisis iklim, ambisi penyelamatan lingkungan harus digabungkan dengan rasa keadilan sosial dan komunikasi yang jujur mengenai biaya aturan tersebut," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau