Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen

Kompas.com, 4 Agustus 2026, 16:45 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com – IPB University mengembangkan Kebun Inovasi Budidaya Bawang Merah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, sebagai upaya meningkatkan produktivitas sekaligus menekan penggunaan pupuk kimia di salah satu sentra produksi bawang merah nasional.

Program yang dijalankan di Desa Pasir, Kecamatan Mijen, itu merupakan bagian dari Program Hilirisasi Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Pengembangannya melibatkan sejumlah program IPB, antara lain Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi, Dosen Pulang Kampung, Klinik Tanaman Fakultas Pertanian, serta pengembangan startup dan riset aksi dari Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I).

Baca juga: Populasi Ikan Kakatua Menurun, IPB Ingatkan Ancaman bagi Terumbu Karang dan Pesisir

Dekan Fakultas Pertanian IPB University sekaligus inisiator Kebun Inovasi Bawang Merah, Prof Suryo Wiyono, mengatakan program tersebut dikembangkan untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi petani bawang merah di Demak.

Menurut dia, lahan bawang merah di Desa Pasir menghadapi berbagai tantangan, mulai dari salinitas, banjir, serangan penyakit daun pirang, hingga penurunan kesuburan tanah yang berdampak pada turunnya produktivitas.

"Pada kondisi tertentu, budidaya bawang merah di Desa Pasir bahkan tidak lagi menguntungkan secara ekonomi," kata Suryo dalam keterangan tertulis, Minggu (2/8/2026).

Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim peneliti IPB menerapkan teknologi pengendalian hayati presisi guna menekan serangan penyakit daun pirang sekaligus meningkatkan hasil panen.

Berdasarkan hasil panen di lahan percontohan (demonstration plot), teknologi tersebut mampu mengurangi serangan penyakit, menekan penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen, mengurangi kebutuhan benih sekitar 30 persen, serta meningkatkan hasil panen lebih dari 30 persen.

Dikembangkan lebih luas

Rektor IPB University Dr Alim Setiawan Slamet menilai inovasi tersebut memiliki prospek untuk diterapkan secara lebih luas karena mampu meningkatkan efisiensi biaya produksi sekaligus menaikkan produktivitas petani.

Menurut dia, penerapan teknologi budidaya yang lebih efisien diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani bawang merah di sentra-sentra produksi.

Sementara itu, Kepala LPA2I IPB Dr Handian Purwawangsa mengatakan IPB juga mendorong diversifikasi tanaman melalui sistem rotasi agar lahan tidak terus-menerus ditanami bawang merah.

Salah satu komoditas yang disiapkan adalah kedelai edamame karena memiliki nilai ekonomi tinggi, umur panen relatif singkat, yakni sekitar 65 hari, serta telah memiliki jaringan pemasaran yang siap menyerap hasil produksi petani.

"Ekosistem bisnis hulu hingga hilir untuk edamame sudah berjalan sehingga hasil panen petani dapat langsung dipasarkan," ujar Handian.

Baca juga: FEM IPB Dorong Solusi Berbasis Alam dan ESG untuk Perkuat Ketahanan Iklim

Sekretaris Daerah Kabupaten Demak Akhmad Sugiharto menyambut baik pengembangan Kebun Inovasi Budidaya Bawang Merah tersebut.

Pemerintah Kabupaten Demak, kata dia, akan mendorong keterlibatan organisasi perangkat daerah dan masyarakat agar inovasi tersebut dapat diterapkan lebih luas di sentra-sentra bawang merah.

Ia berharap penerapan teknologi budidaya tersebut mampu mengembalikan posisi Demak sebagai salah satu daerah penghasil bawang merah utama di Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, LPA2I IPB juga menyerahkan bantuan benih kedelai edamame dan padi IPB 9G kepada petani. Selain itu, Mobil Klinik Tanaman IPB memberikan layanan konsultasi lapangan untuk membantu petani mengatasi berbagai persoalan budidaya tanaman.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau