Editor
KOMPAS.com – IPB University mengembangkan Kebun Inovasi Budidaya Bawang Merah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, sebagai upaya meningkatkan produktivitas sekaligus menekan penggunaan pupuk kimia di salah satu sentra produksi bawang merah nasional.
Program yang dijalankan di Desa Pasir, Kecamatan Mijen, itu merupakan bagian dari Program Hilirisasi Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat.
Pengembangannya melibatkan sejumlah program IPB, antara lain Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi, Dosen Pulang Kampung, Klinik Tanaman Fakultas Pertanian, serta pengembangan startup dan riset aksi dari Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I).
Baca juga: Populasi Ikan Kakatua Menurun, IPB Ingatkan Ancaman bagi Terumbu Karang dan Pesisir
Dekan Fakultas Pertanian IPB University sekaligus inisiator Kebun Inovasi Bawang Merah, Prof Suryo Wiyono, mengatakan program tersebut dikembangkan untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi petani bawang merah di Demak.
Menurut dia, lahan bawang merah di Desa Pasir menghadapi berbagai tantangan, mulai dari salinitas, banjir, serangan penyakit daun pirang, hingga penurunan kesuburan tanah yang berdampak pada turunnya produktivitas.
"Pada kondisi tertentu, budidaya bawang merah di Desa Pasir bahkan tidak lagi menguntungkan secara ekonomi," kata Suryo dalam keterangan tertulis, Minggu (2/8/2026).
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim peneliti IPB menerapkan teknologi pengendalian hayati presisi guna menekan serangan penyakit daun pirang sekaligus meningkatkan hasil panen.
Berdasarkan hasil panen di lahan percontohan (demonstration plot), teknologi tersebut mampu mengurangi serangan penyakit, menekan penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen, mengurangi kebutuhan benih sekitar 30 persen, serta meningkatkan hasil panen lebih dari 30 persen.
Rektor IPB University Dr Alim Setiawan Slamet menilai inovasi tersebut memiliki prospek untuk diterapkan secara lebih luas karena mampu meningkatkan efisiensi biaya produksi sekaligus menaikkan produktivitas petani.
Menurut dia, penerapan teknologi budidaya yang lebih efisien diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani bawang merah di sentra-sentra produksi.
Sementara itu, Kepala LPA2I IPB Dr Handian Purwawangsa mengatakan IPB juga mendorong diversifikasi tanaman melalui sistem rotasi agar lahan tidak terus-menerus ditanami bawang merah.
Salah satu komoditas yang disiapkan adalah kedelai edamame karena memiliki nilai ekonomi tinggi, umur panen relatif singkat, yakni sekitar 65 hari, serta telah memiliki jaringan pemasaran yang siap menyerap hasil produksi petani.
"Ekosistem bisnis hulu hingga hilir untuk edamame sudah berjalan sehingga hasil panen petani dapat langsung dipasarkan," ujar Handian.
Baca juga: FEM IPB Dorong Solusi Berbasis Alam dan ESG untuk Perkuat Ketahanan Iklim
Sekretaris Daerah Kabupaten Demak Akhmad Sugiharto menyambut baik pengembangan Kebun Inovasi Budidaya Bawang Merah tersebut.
Pemerintah Kabupaten Demak, kata dia, akan mendorong keterlibatan organisasi perangkat daerah dan masyarakat agar inovasi tersebut dapat diterapkan lebih luas di sentra-sentra bawang merah.
Ia berharap penerapan teknologi budidaya tersebut mampu mengembalikan posisi Demak sebagai salah satu daerah penghasil bawang merah utama di Indonesia.
Pada kesempatan tersebut, LPA2I IPB juga menyerahkan bantuan benih kedelai edamame dan padi IPB 9G kepada petani. Selain itu, Mobil Klinik Tanaman IPB memberikan layanan konsultasi lapangan untuk membantu petani mengatasi berbagai persoalan budidaya tanaman.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya