Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BPS Sebut Angka Pengangguran Turun 0,08 Persen dibanding Tahun Lalu

Kompas.com, 7 Mei 2026, 18:49 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran di Indonesia turun 0,08 persen pada Februari 2026 dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Laporan Keadaan Ketenagakerjaan BPS per Februari 2026 menyebutkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2025 sebanyak 7.278.307 orang menjadi 7.243.605 orang pada Februari 2026.

"Terdapat tambahan 1,9 juta angkatan kerja yang bekerja, dan juga terjadi tambahan orang yang masuk ke pasar kerja sebesar 1,86 juta dan terjadi penurunan yang menganggur sebesar 35.000," kata Amalia Adininggar Widyasanti dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat Bappenas, Kamis (7/5/2026).

Baca juga: Stres dan Jam Kerja Berlebih Jadi Ancaman Kematian Dini Pekerja Global

Laporan BPS menyatakan tingkat setengah pengangguran sebesar 7,27 persen. Angkanya turun 0,74 persen dibandingkan Februari 2025. Kelompok ini merupakan pekerja di bawah jam normal atau kurang dari 35 jam sepekan.

Pengangguran di daerah perkotaan mencapai 5,60 persen, dibandingkan daerah perdesaan yakni 3,20 persen. Sedangkan berdasarkan usia, kelompok muda (15-24 tahun) memiliki TPT tertinggi sebesar 16,36 persen, dan usia 60 tahun ke atas tercatat sebagai TPT terendah sebesar 1,89 persen.

Pada Februari 2026, TPT laki-laki sebesar 4,88 persen, lebih tinggi dibanding TPT perempuan yang sebesar 4,36 persen. TPT laki-laki dan perempuan mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,10 persen serta 0,05 persen dibandingkan Februari 2025.

"Apabila dilihat berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, TPT mempunyai pola yang hampir sama dari Februari 2024 sampai dengan Februari 2026. Pada Februari 2026, TPT tamatan Sekolah Menengah Kejuruan sebesar 7,74 persen, tertinggi dibandingkan tamatan pada jenjang pendidikan lainnya. Sementara itu, TPT paling rendah berada pada tingkat pendidikan SD ke bawah yaitu sebesar 2,32 persen," tulis BPS dalam laporannya.

Baca juga: Gen Z dan Karyawan Senior Berpengalaman Makin Sulit Cari Kerja

Selama periode Februari 2024 sampai Februari 2026, distribusi pengangguran menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan didominasi oleh tamatan Sekolah Menengah Atas yang pada Februari 2026 mencapai 28 persen. Sementara itu, distribusi pengangguran terendah tamatan Diploma I/II/III yaitu 2,48 persen pada Februari 2026.

Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026, total angkatan kerja sebanyak 154,91 juta orang. Sementara, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 70,56 persen, turun 0,04 persen dibanding Februari 2025.

Menurut BPS, rata-rata upah buruh di Indonesia Rp 3,29 juta. Upah tertinggi ialah pekerja di bidang keuangan dan asuransi, yaitu Rp 5,05 juta dan upah terendah merupakan pekerja di bidang kesenian, jasa hingga aktivitas rumah tangga sebesar Rp 2 juta.

Dilihat dari usia, rata-rata upah buruh tertinggi sebesar Rp 3,77 juta terdapat pada kelompok umur 55–59 tahun, sedangkan terendah Rp 1,99 juta pada kelompok usia 15–19 tahun.

"Hasil Sakernas Februari 2026 menunjukkan bahwa upah buruh berkorelasi positif dengan tingkat pendidikan. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditamatkan, semakin besar upah yang diterima," jelas BPS pada laporannya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Ledakan AI Paksa Microsoft Tinjau Ulang Target Energi Bersih 2030
Ledakan AI Paksa Microsoft Tinjau Ulang Target Energi Bersih 2030
Pemerintah
Mengenal Hantavirus yang Menginfeksi Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius
Mengenal Hantavirus yang Menginfeksi Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius
LSM/Figur
Pemprov Riau Bentuk BLUD Baru untuk Kelola Kawasan Konservasi Perairan
Pemprov Riau Bentuk BLUD Baru untuk Kelola Kawasan Konservasi Perairan
Pemerintah
Krisis Iklim Picu Perombakan Habitat Tanaman pada 2100, Keanekaragaman Hayati di Asia Tenggara
Krisis Iklim Picu Perombakan Habitat Tanaman pada 2100, Keanekaragaman Hayati di Asia Tenggara
LSM/Figur
WHO Pastikan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Samudra Atlantik Bukan Pandemi
WHO Pastikan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Samudra Atlantik Bukan Pandemi
Pemerintah
Populasi Capai 80 Persen di Perairan Jakarta, Pemprov Cari Cara 'Hilirisasi' Ikan Sapu-Sapu
Populasi Capai 80 Persen di Perairan Jakarta, Pemprov Cari Cara "Hilirisasi" Ikan Sapu-Sapu
Pemerintah
Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap
Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau