Namun, "berbahan dasar alami" tidak selalu berarti bisa hancur secara alami. Beberapa bahan yang berasal dari sumber terbarukan, seperti jagung atau tebu, secara kimiawi mirip dengan plastik berbahan bakar fosil, sementara yang lainnya hanya bisa hancur di bawah kondisi tertentu.
Laporan tersebut memperingatkan bahwa kemasan berbahan tanaman dapat membawa risiko yang berkaitan dengan pertanian, termasuk sisa pestisida, racun, dan logam berat.
Bahan berbahan dasar protein juga dapat menyebabkan zat pemicu alergi, seperti gluten, berpindah ke dalam makanan. Seperti plastik biasa, banyak bahan alternatif juga bergantung pada bahan kimia tambahan untuk meningkatkan kualitasnya, dan beberapa di antaranya masih kekurangan data keamanan jangka panjang yang cukup.
Analisis tersebut juga membahas kekhawatiran masyarakat yang semakin meningkat terhadap mikroplastik dan nanoplastik yang ditemukan dalam makanan dan minuman.
Para ilmuwan telah menemukan partikel plastik kecil di dalam darah, paru-paru, ASI, dan plasenta manusia, yang membuktikan bahwa paparan ini sudah sangat luas. Namun, pihak berwenang belum memiliki cara yang pasti dan seragam untuk mendeteksi serta mengukur partikel-partikel tersebut secara konsisten, sehingga sulit untuk menilai risiko yang jelas terhadap kesehatan manusia.
Baca juga: Industri Pengolah Sampah Ini Mampu Hasilkan 26.000 Liter BBM dari Plastik
Laporan tersebut mencatat bahwa fasilitas daur ulang itu sendiri dapat menyumbang polusi mikroplastik, terutama selama proses daur ulang mekanis yang menghancurkan plastik menjadi potongan-potongan kecil.
“Semuanya harus dimulai dengan proses daur ulang yang terkendali dengan baik, termasuk pembersihan dan penghilangan zat kimia berbahaya,” kata Fattori.
Temuan-temuan ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi diskusi yang sedang berlangsung di Codex Alimentarius Commission, yaitu badan standar pangan internasional yang dibentuk oleh FAO dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Laporan tersebut mencatat bahwa saat ini negara-negara menerapkan aturan yang berbeda-beda terkait plastik daur ulang dan bahan kemasan makanan, sehingga menimbulkan tantangan bagi perdagangan dan perlindungan konsumen.
“Peran kami adalah memberikan dukungan kepada negara-negara, pertama-tama dalam hal menyamakan aturan mengenai dampak keamanan pangan yang berkaitan dengan bahan kemasan,” kata Fattori.
Standar dunia yang seragam akan membantu negara-negara memperkuat sistem keamanan pangan yang berdasarkan ilmu pengetahuan, sekaligus membantu mereka mengurangi sampah plastik.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya