Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB: Plastik Daur Ulang untuk Bungkus Makanan Butuh Regulasi Ketat

Kompas.com, 15 Mei 2026, 12:04 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Namun, "berbahan dasar alami" tidak selalu berarti bisa hancur secara alami. Beberapa bahan yang berasal dari sumber terbarukan, seperti jagung atau tebu, secara kimiawi mirip dengan plastik berbahan bakar fosil, sementara yang lainnya hanya bisa hancur di bawah kondisi tertentu.

Laporan tersebut memperingatkan bahwa kemasan berbahan tanaman dapat membawa risiko yang berkaitan dengan pertanian, termasuk sisa pestisida, racun, dan logam berat.

Bahan berbahan dasar protein juga dapat menyebabkan zat pemicu alergi, seperti gluten, berpindah ke dalam makanan. Seperti plastik biasa, banyak bahan alternatif juga bergantung pada bahan kimia tambahan untuk meningkatkan kualitasnya, dan beberapa di antaranya masih kekurangan data keamanan jangka panjang yang cukup.

Sistem daur ulang yang terkendali

Analisis tersebut juga membahas kekhawatiran masyarakat yang semakin meningkat terhadap mikroplastik dan nanoplastik yang ditemukan dalam makanan dan minuman.

Para ilmuwan telah menemukan partikel plastik kecil di dalam darah, paru-paru, ASI, dan plasenta manusia, yang membuktikan bahwa paparan ini sudah sangat luas. Namun, pihak berwenang belum memiliki cara yang pasti dan seragam untuk mendeteksi serta mengukur partikel-partikel tersebut secara konsisten, sehingga sulit untuk menilai risiko yang jelas terhadap kesehatan manusia.

Baca juga: Industri Pengolah Sampah Ini Mampu Hasilkan 26.000 Liter BBM dari Plastik

Laporan tersebut mencatat bahwa fasilitas daur ulang itu sendiri dapat menyumbang polusi mikroplastik, terutama selama proses daur ulang mekanis yang menghancurkan plastik menjadi potongan-potongan kecil.

“Semuanya harus dimulai dengan proses daur ulang yang terkendali dengan baik, termasuk pembersihan dan penghilangan zat kimia berbahaya,” kata Fattori.

Temuan-temuan ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi diskusi yang sedang berlangsung di Codex Alimentarius Commission, yaitu badan standar pangan internasional yang dibentuk oleh FAO dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Laporan tersebut mencatat bahwa saat ini negara-negara menerapkan aturan yang berbeda-beda terkait plastik daur ulang dan bahan kemasan makanan, sehingga menimbulkan tantangan bagi perdagangan dan perlindungan konsumen.

“Peran kami adalah memberikan dukungan kepada negara-negara, pertama-tama dalam hal menyamakan aturan mengenai dampak keamanan pangan yang berkaitan dengan bahan kemasan,” kata Fattori.

Standar dunia yang seragam akan membantu negara-negara memperkuat sistem keamanan pangan yang berdasarkan ilmu pengetahuan, sekaligus membantu mereka mengurangi sampah plastik.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
LSM/Figur
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Pemerintah
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Pemerintah
Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama
Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama
Pemerintah
Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan
Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan
Pemerintah
Kreator Konten Mukbang Korsel Sumbang Rp 600 Juta untuk Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
Kreator Konten Mukbang Korsel Sumbang Rp 600 Juta untuk Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut
Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut
Pemerintah
Tekan Emisi AI, Jepang Fokus Benahi Konsumsi Energi Pusat Data
Tekan Emisi AI, Jepang Fokus Benahi Konsumsi Energi Pusat Data
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Beralih ke Energi Terbarukan
Indonesia Dinilai Terlambat Beralih ke Energi Terbarukan
LSM/Figur
Waspada, Hujan Masih Mengintai Indonesia di Masa Peralihan Musim
Waspada, Hujan Masih Mengintai Indonesia di Masa Peralihan Musim
Pemerintah
13 Perusahaan Global PHK Karyawan karena Kehadiran AI
13 Perusahaan Global PHK Karyawan karena Kehadiran AI
Swasta
Rumitnya Pemulung Urus Administrasi demi Akses Layanan Dasar
Rumitnya Pemulung Urus Administrasi demi Akses Layanan Dasar
LSM/Figur
Percepatan Penggunaan Avtur Berkelanjutan di Eropa Berisiko Bebani Industri
Percepatan Penggunaan Avtur Berkelanjutan di Eropa Berisiko Bebani Industri
Pemerintah
Permintaan Pasir Dunia Naik Drastis, PBB Peringatkan Dampak Lingkungan
Permintaan Pasir Dunia Naik Drastis, PBB Peringatkan Dampak Lingkungan
Pemerintah
WBA: Lembaga Keuangan Belum Maksimal Dukung Transisi Hijau
WBA: Lembaga Keuangan Belum Maksimal Dukung Transisi Hijau
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau