Penelitian tersebut menunjukkan beberapa kemungkinan alasan di balik perbedaan gender ini.
“Teknologi dan AI sering kali dianggap sebagai bidang yang didominasi oleh laki-laki, yang dapat memengaruhi keyakinan siswa terhadap kemampuan mereka dan keterlibatan mereka dalam mata pelajaran tersebut,” kata Dr. Ahmad.
“Dan sebagai hasilnya, siswa perempuan mungkin memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah terhadap kemampuan mereka atau lebih kecil kemungkinannya untuk mencoba-coba alat AI,” terangnya.
Baca juga: Ada 273 Juta Anak Tidak Sekolah pada 2024 Menurut UNESCO
Rasa ragu tersebut sangat berpengaruh karena belajar AI sering kali bergantung pada metode coba-coba.
Siswa menjadi lebih mahir dengan cara menguji berbagai perintah, memperbaiki kesalahan, dan menjelajahi sendiri alat-alat yang ada. Seseorang yang merasa gugup karena takut melakukan kesalahan mungkin akan menjadi jarang berpartisipasi.
Gaya mengajar di kelas juga mungkin berpengaruh.
“Gaya mengajar juga penting. Kami tahu, misalnya, ada siswa yang lebih suka pelajaran yang sangat teratur, sementara yang lain justru lebih berkembang jika diberikan bimbingan yang santai dan kebebasan untuk bereksplorasi,” kata Dr. Ahmad.
Masalah ini terjadi di banyak negara, tidak hanya di satu tempat saja. Penelitian di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia berulang kali menunjukkan bahwa anak perempuan sering kali merasa kurang percaya diri dalam pelajaran ilmu komputer dan teknik, padahal nilai mereka sama bagusnya dengan anak laki-laki.
Para ahli juga mengatakan bahwa harapan sosial, stereotipe, dan kurangnya contoh tokoh perempuan di bidang tersebut menjadi penyebab masalah ini.
Mendukung kepercayaan diri perempuan
Para peneliti berpendapat bahwa pendidikan AI harus dimulai jauh lebih awal daripada sekolah menengah (SMA). Mereka menyarankan untuk mengenalkan konsep-konsep dasar AI sejak sekolah dasar (SD) dan terus membangun keterampilan tersebut secara bertahap seiring berjalannya waktu.
Kendati demikian peneliti menekankan pentingnya mengajarkan siswa cara menggunakan AI secara bertanggung jawab. Hal itu termasuk membantu mereka memahami perbedaan antara mendapatkan bantuan dan menyontek.
Karena alat AI menjadi semakin umum di ruang kelas, sekolah-sekolah di seluruh dunia sedang berjuang untuk menemukan keseimbangan tersebut.
Baca juga: Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
“Sekolah juga harus berbuat lebih banyak untuk mendukung anak perempuan secara khusus,” kata Dr. Ahmad.
Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan lebih banyak sosok perempuan yang sukses di bidang AI sebagai contoh, menciptakan suasana kelas yang membuat semua siswa merasa nyaman, sehingga anak perempuan merasa mereka didukung secara setara. Itu akan meningkatkan keyakinan mereka terhadap kemampuan diri untuk menggunakan AI.
Salah satu cara untuk melakukannya adalah melalui apa yang disebut sebagai praktik terbimbing.
“Salah satu contohnya adalah guru memperagakan cara menggunakan alat AI, kemudian membiarkan siswa berlatih sambil memberikan bimbingan saat diperlukan,” kata Dr. Ahmad.
“Guru tersebut kemudian secara bertahap mengurangi tingkat bantuan seiring dengan bertambahnya kemahiran siswa. Pendekatan seperti ini akan memastikan bahwa siswa, terutama anak perempuan, merasa didukung selama proses belajar,” tambahnya.
Hal ini membangun keterampilan, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya