Namun, lebih dari sepertiga pertandingan dengan peluang setidaknya 10 persen melampaui suhu 26 derajat C WBGT dijadwalkan di stadion-stadion tanpa AC, termasuk di Miami, Kansas City, New York, dan Philadelphia.
Baca juga: Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar
Hal itu mencakup pertandingan final di Stadion MetLife, New Jersey, yang kini menghadapi peluang satu banding delapan untuk melampaui batas suhu 26 derajat C.
Ada juga risiko sekitar 3 persen untuk mencapai tingkat suhu yang lebih berbahaya, risiko ini hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan tahun 1994.
Friederike Otto, profesor ilmu iklim di Imperial College London, mengatakan bahwa temuan ini menunjukkan perlunya FIFA mempertimbangkan kembali jadwal Piala Dunia di masa depan, terutama di wilayah yang rawan terkenas panas ekstrem saat musim panas.
“Dari sudut pandang kesehatan, sangat disarankan agar Piala Dunia diadakan lebih awal atau lebih akhir dalam setahun. Dengan begitu, kita bisa merayakan pesta sepak bola, bukannya menghadapi risiko kesehatan yang besar bagi seluruh kota,” kata Otto.
FIFPRO juga memperingatkan bahwa meskipun stadion ber-AC di kota-kota seperti Dallas dan Houston dapat membantu melindungi pemain, para penonton yang menghadiri pertandingan dan festival penggemar di luar ruangan tetap bisa terpapar panas yang berbahaya dalam waktu lama.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya