KOMPAS.com - World Benchmarking Alliance (WBA) menyebut hanya sebagian kecil dari sektor keuangan yang memiliki rencana kuat untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil, dan dana untuk bantuan iklim juga masih jauh dari kata cukup.
Melansir Edie, Kamis (14/5/2026) sektor keuangan global baik itu bank, perusahaan asuransi, maupun pengelola aset memiliki peran yang sangat besar dalam transisi rendah karbon.
Mereka seharusnya mengalihkan modal dalam jumlah besar ke teknologi ramah lingkungan dan menjauh dari bahan bakar fosil. Namun, menurut WBA, lembaga-lembaga ini tidak bergerak cukup cepat.
Dalam Penilaian Iklim Sistem Keuangan terbaru yang diterbitkan pada 14 Mei, WBA menekankan bahwa meskipun ada kemajuan, lembaga-lembaga keuangan belum berbuat cukup banyak untuk memindahkan modal ke solusi rendah karbon dan menghentikan pendanaan bahan bakar fosil.
Baca juga: Bank Dunia Komitmen Tingkatkan Ketahanan Air untuk 1 Miliar Orang pada 2030
Temuan ini didasarkan pada analisis terhadap 400 lembaga keuangan paling berpengaruh di dunia, termasuk Allianz, BlackRock, dan HSBC.
Lebih dari sepertiga organisasi yang diperiksa, yaitu 146 perusahaan, sudah memiliki rencana transisi iklim yang mencakup sebagian aktivitas keuangan mereka. Artinya, mereka mulai menetapkan ukuran dan target untuk memantau kemajuan, atau memasukkan rencana transisi ke dalam struktur manajemen mereka.
Namun, hal ini juga berarti dua dari setiap tiga perusahaan masih belum memiliki rencana tersebut. Selain itu, jika emisi dari proyek yang mereka danai juga dihitung, ternyata hanya seperempat perusahaan yang menetapkan target.
Secara keseluruhan, laporan tersebut memperkirakan bahwa aktivitas rendah karbon hanya mewakili 2,7 persen dari total aktivitas yang didanai oleh lembaga-lembaga yang diperiksa.
Hal ini bervariasi di setiap wilayah. Lembaga yang bermarkas di Eropa dan Asia Tengah mengalokasikan 3,6 persen dana mereka untuk aktivitas rendah karbon, sementara wilayah Asia Timur dan Pasifik hanya mengalokasikan 1 persen.
Perencanaan transisi juga berbeda-beda tergantung jenis lembaganya. Seperangkat rencana transisi milik bank mencakup target waktu pendanaan untuk solusi rendah karbon yang sesuai dengan target batas pemanasan 1,5 derajat C. Namun, kurang dari 3 persen rencana milik pengelola aset yang memiliki target serupa.
Hal yang paling kritis, laporan tersebut menemukan bahwa hanya dua lembaga yakni ING yang bermarkas di Belanda dan Zürcher Kantonalbank di Swiss yang menunjukkan pembatasan bahan bakar fosil yang kuat, termasuk komitmen untuk menghapus pendanaan fosil secara bertahap dan menghentikan alokasi modal baru.
Selain menghambat transisi rendah karbon, penulis laporan menekankan bahwa keterlibatan lembaga-lembaga tersebut pada bahan bakar fosil membuat mereka rentan terhadap ketidakpastian pasar saat ini, di tengah krisis minyak dan gas global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
Baca juga: PBB Usul Pajak bagi Perusahaan Bahan Bakar Fosil dan Orang Terkaya
“Krisis bahan bakar fosil yang terus berulang menunjukkan betapa pentingnya rencana transisi bagi stabilitas ekonomi dunia,” kata Pauliina Murphy dari WBA.
Lembaga keuangan memegang peranan kunci. Keputusan mereka untuk mengalihkan uang ke solusi rendah karbon dan menghentikan pendanaan bahan bakar fosil akan menentukan seberapa cepat ekonomi dunia bisa pulih dan menjadi lebih kuat.
Selain itu dasar-dasar untuk mencapai target suhu 1,5 derajat C semakin terbentuk karena makin banyak lembaga yang membuat rencana dan lebih terbuka dalam memberikan informasi.
Kesempatan sekarang adalah menghubungkan rencana tersebut dengan keputusan ke mana uang akan disalurkan serta janji kebijakan yang jelas untuk menghapus bahan bakar fosil.
Karena tuntutan dari pemerintah, pasar, dan masyarakat terus meningkat, lembaga keuangan yang bergerak lebih awal untuk memperkuat kejujuran dan keterbukaan akan berada dalam posisi yang lebih menguntungkan selama masa perubahan ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya