BOGOR, KOMPAS.com - Di sebuah ruang steril Taman Safari Indonesia (TSI), Jawa Barat, tim medis berbaju pelindung hijau berdiri melingkar menghadap sebuah boks transparan. Di dalamnya, seekor bayi panda bergerak perlahan, tubuh mungilnya berguling mencari posisi paling nyaman, seolah para petugas medis itu adalah induknya.
Tim medis yang mengenakan sarung berusaha memegang bayi panda dengan pelan dan setenang mungkin. Bayi panda itu diangkat dengan penuh kehati-hatian untuk ditimbang dan diukur. Setiap sentimeter dan gram menjadi penanda penting: Hidupnya bertahan, dan ia tumbuh hingga ke hari 40.
Baca juga:
Dialah Satrio Wiratama, yang akrab dipanggil Rio atau Li Ao dalam nama Mandarin, bayi panda raksasa pertama yang lahir di Indonesia. Ia lahir pada Kamis (27/11/2025) sore, dari induk betina Hu Chun dan pejantan Cai Tao, pasangan panda asal Sichuan, China, yang telah menetap di Indonesia sejak 2017.
Nama Rio atau Li Ao ini diberikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto saat menerima kunjungan Ketua Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat China, Wang Huning, di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (4/12/2025).
Pemberian nama itu menjadi penanda awal perhatian publik pada makhluk mungil yang kelahirannya telah lama dinanti.
Bayi panda yang lahir di Taman Safari Indonesia (TSI), Bogor, pada 27 November 2025 sekitar pukul 17.00 WIB diberi nama Satrio Wiratama oleh Presiden Prabowo Subianto. Bayi panda jantan tersebut kemudian diberi nama panggilan Rio dan saat ini usianya memasuki hari ke-40 saat diumumkan pemerintah pada Selasa (6/1/2026).Saat lahir pada Kamis (27/11/2025) pukul 17.00 WIB, beratnya hanya mencapai 100 gram. Tubuhnya merah muda, matanya tertutup rapat, pendengarannya belum berfungsi. Seperti banyak bayi panda lainnya, ia lahir dalam kondisi yang menyerupai prematur.
Memasuki usia keempat puluh hari berselang, Rio diperlihatkan ke hadapan publik dalam kondisi sehat.
Berat badannya mendekati 1,9 kilogram dan ia mulai lebih sering berada di luar inkubator, bergantian berada dalam pelukan induknya.
Momen itu diumumkan secara resmi dalam Public Announcement The 1st Giant Panda Cub Born in Indonesia, Selasa (6/1/2026), disaksikan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni, Duta Besar (Dubes) China untuk Indonesia Wang Lutong, serta jajaran pimpinan TSI.
Lagu kebangsaan kedua negara berkumandang, menandai peristiwa bersejarah konservasi dan diplomasi panjang yang dipenuhi ketelitian, kegelisahan, serta kesabaran bertahun-tahun.
Keberhasilan kelahiran Rio bukan proses singkat. Vice President of Life and Science Taman Safari Indonesia, drh. Bongot Huaso Mulia, menyebutnya sebagai hasil dari rangkaian panjang percobaan, evaluasi, dan kesabaran bertahun-tahun.
Hu Chun dan Cai Tao, sang induk yang sama-sama tiba di Indonesia pada 2017 ini, baru berhasil memiliki anak setelah empat kali upaya perkawinan.
“Tantangan terbesarnya karena panda bersifat monoestrus. Masa suburnya hanya satu kali setahun dan sangat singkat. Dari 360 hari, kami harus tepat menentukan bulan, hari, bahkan jam,” ujar Bongot.
Baca juga: Interpol Sita 30.000 Satwa dan Tanaman Ilegal di 134 Negara, Perdagangan Daging Meningkat
Metode kawin alami sempat terus diupayakan, tapi kerap kehilangan momentum. Dari pengalaman tersebut, tim akhirnya menggunakan assisted reproductive technology (ART) melalui artificial insemination (inseminasi buatan).
Tiga faktor menjadi kuncinya yaitu akurasi deteksi masa subur, pengaturan berat badan induk agar ideal, serta penentuan sisi rahim yang paling siap untuk pembuahan.
Meski pembuahan berhasil dilakukan, sambung Bongot, ketidakpastian masih menyelimuti.
“Fertilisasi terjadi di dalam tubuh. (saat itu) kami tidak pernah benar-benar tahu apakah sperma dan sel telur bertemu,” kata Bongot.
Tanda-tanda kehamilan baru mulai terbaca dari perubahan fisik dan perilaku Hu Chun, sekitar 90 hari setelah inseminasi.
Bayi panda bernama Satrio Wiratama yang lahir di Taman Safari Indonesia (TSI), Bogor, sedang dijaga dan dicek kesehatan oleh tim dokter di TSI, Puncak Bogor, Selasa (6/1/2026).Memasuki masa kelahiran, ketegangan meningkat. Bagi Bongot, momen itu menjadi salah satu pengalaman paling emosional sepanjang kariernya. Meski sudah terbiasa menangani satwa lain, kali ini berbeda.
"Jujur, saya tegang dan terharu. Tegang karena dengan satwa lain kami sudah terbiasa dan berpengalaman, tapi kelahiran panda pertama (Rio) ini prosesnya panjang, usahanya berkali-kali dan penuh kekhawatiran pas Rio keluar, apakah berhasil atau tidak," jelas Bongot.
"Pasti ada kekhawatiran, terutama pada periode awal. Hari pertama belum yakin, hari kedua mulai sedikit yakin. Tidak ada jawaban pasti saat itu, karena Semuanya adalah proses belajar," tambah dia.
Baca juga: Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar
Hari-hari awal pasca-kelahiran menjadi fase paling krusial. Rio dirawat intensif, termasuk dalam inkubator, sebelum secara bertahap diperkenalkan kembali kepada induknya.
Hu Chun pun harus belajar menjadi ibu. Ia beberapa kali tampak gelisah, berpindah posisi, mencari cara menyusui yang tepat.
Perubahan terjadi ketika Hu Chun akhirnya menemukan posisi yang stabil dan memeluk anaknya, Rio atau Li Ao.
Bagi tim medis, momen itu menjadi sinyal bahwa proses alami mulai berjalan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya