Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Satrio Wiratama, Bayi Panda Pertama di Indonesia yang Jadi Simbol Diplomasi

Kompas.com, 8 Januari 2026, 21:12 WIB
Afdhalul Ikhsan,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

BOGOR, KOMPAS.com - Di sebuah ruang steril Taman Safari Indonesia (TSI), Jawa Barat, tim medis berbaju pelindung hijau berdiri melingkar menghadap sebuah boks transparan. Di dalamnya, seekor bayi panda bergerak perlahan, tubuh mungilnya berguling mencari posisi paling nyaman, seolah para petugas medis itu adalah induknya.

Tim medis yang mengenakan sarung berusaha memegang bayi panda dengan pelan dan setenang mungkin. Bayi panda itu diangkat dengan penuh kehati-hatian untuk ditimbang dan diukur. Setiap sentimeter dan gram menjadi penanda penting: Hidupnya bertahan, dan ia tumbuh hingga ke hari 40.

Baca juga:

Dialah Satrio Wiratama, yang akrab dipanggil Rio atau Li Ao dalam nama Mandarin, bayi panda raksasa pertama yang lahir di Indonesia. Ia lahir pada Kamis (27/11/2025) sore, dari induk betina Hu Chun dan pejantan Cai Tao, pasangan panda asal Sichuan, China, yang telah menetap di Indonesia sejak 2017.

Nama Rio atau Li Ao ini diberikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto saat menerima kunjungan Ketua Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat China, Wang Huning, di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (4/12/2025). 

Pemberian nama itu menjadi penanda awal perhatian publik pada makhluk mungil yang kelahirannya telah lama dinanti.

Cerita bayi panda pertama di Indonesia, Satrio Wiratama

Menandai peristiwa konservasi dan diplomasi Indonesia-China

Bayi panda yang lahir di Taman Safari Indonesia (TSI), Bogor, pada 27 November 2025 sekitar pukul 17.00 WIB diberi nama Satrio Wiratama oleh Presiden Prabowo Subianto. Bayi panda jantan tersebut kemudian diberi nama panggilan Rio dan saat ini usianya memasuki hari ke-40 saat diumumkan pemerintah pada Selasa (6/1/2026).KOMPAS.COM/AFDHALUL IKHSAN Bayi panda yang lahir di Taman Safari Indonesia (TSI), Bogor, pada 27 November 2025 sekitar pukul 17.00 WIB diberi nama Satrio Wiratama oleh Presiden Prabowo Subianto. Bayi panda jantan tersebut kemudian diberi nama panggilan Rio dan saat ini usianya memasuki hari ke-40 saat diumumkan pemerintah pada Selasa (6/1/2026).

Saat lahir pada Kamis (27/11/2025) pukul 17.00 WIB, beratnya hanya mencapai 100 gram. Tubuhnya merah muda, matanya tertutup rapat, pendengarannya belum berfungsi. Seperti banyak bayi panda lainnya, ia lahir dalam kondisi yang menyerupai prematur.

Memasuki usia keempat puluh hari berselang, Rio diperlihatkan ke hadapan publik dalam kondisi sehat.

Berat badannya mendekati 1,9 kilogram dan ia mulai lebih sering berada di luar inkubator, bergantian berada dalam pelukan induknya.

Momen itu diumumkan secara resmi dalam Public Announcement The 1st Giant Panda Cub Born in Indonesia, Selasa (6/1/2026), disaksikan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni, Duta Besar (Dubes) China untuk Indonesia Wang Lutong, serta jajaran pimpinan TSI.

Lagu kebangsaan kedua negara berkumandang, menandai peristiwa bersejarah konservasi dan diplomasi panjang yang dipenuhi ketelitian, kegelisahan, serta kesabaran bertahun-tahun.

Tantangan di balik kelahiran panda Satrio Wiratama

Keberhasilan kelahiran Rio bukan proses singkat. Vice President of Life and Science Taman Safari Indonesia, drh. Bongot Huaso Mulia, menyebutnya sebagai hasil dari rangkaian panjang percobaan, evaluasi, dan kesabaran bertahun-tahun.

Hu Chun dan Cai Tao, sang induk yang sama-sama tiba di Indonesia pada 2017 ini, baru berhasil memiliki anak setelah empat kali upaya perkawinan.

“Tantangan terbesarnya karena panda bersifat monoestrus. Masa suburnya hanya satu kali setahun dan sangat singkat. Dari 360 hari, kami harus tepat menentukan bulan, hari, bahkan jam,” ujar Bongot.

Baca juga: Interpol Sita 30.000 Satwa dan Tanaman Ilegal di 134 Negara, Perdagangan Daging Meningkat

Metode kawin alami sempat terus diupayakan, tapi kerap kehilangan momentum. Dari pengalaman tersebut, tim akhirnya menggunakan assisted reproductive technology (ART) melalui artificial insemination (inseminasi buatan).

Tiga faktor menjadi kuncinya yaitu akurasi deteksi masa subur, pengaturan berat badan induk agar ideal, serta penentuan sisi rahim yang paling siap untuk pembuahan.

Meski pembuahan berhasil dilakukan, sambung Bongot, ketidakpastian masih menyelimuti.

“Fertilisasi terjadi di dalam tubuh. (saat itu) kami tidak pernah benar-benar tahu apakah sperma dan sel telur bertemu,” kata Bongot. 

Tanda-tanda kehamilan baru mulai terbaca dari perubahan fisik dan perilaku Hu Chun, sekitar 90 hari setelah inseminasi.

Bayi panda bernama Satrio Wiratama yang lahir di Taman Safari Indonesia (TSI), Bogor, sedang dijaga dan dicek kesehatan oleh tim dokter di TSI, Puncak Bogor, Selasa (6/1/2026).KOMPAS.COM/AFDHALUL IKHSAN Bayi panda bernama Satrio Wiratama yang lahir di Taman Safari Indonesia (TSI), Bogor, sedang dijaga dan dicek kesehatan oleh tim dokter di TSI, Puncak Bogor, Selasa (6/1/2026).

Memasuki masa kelahiran, ketegangan meningkat. Bagi Bongot, momen itu menjadi salah satu pengalaman paling emosional sepanjang kariernya. Meski sudah terbiasa menangani satwa lain, kali ini berbeda.

"Jujur, saya tegang dan terharu. Tegang karena dengan satwa lain kami sudah terbiasa dan berpengalaman, tapi kelahiran panda pertama (Rio) ini prosesnya panjang, usahanya berkali-kali dan penuh kekhawatiran pas Rio keluar, apakah berhasil atau tidak," jelas Bongot.

"Pasti ada kekhawatiran, terutama pada periode awal. Hari pertama belum yakin, hari kedua mulai sedikit yakin. Tidak ada jawaban pasti saat itu, karena Semuanya adalah proses belajar," tambah dia.

Baca juga: Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar

Hari-hari awal pasca-kelahiran menjadi fase paling krusial. Rio dirawat intensif, termasuk dalam inkubator, sebelum secara bertahap diperkenalkan kembali kepada induknya.

Hu Chun pun harus belajar menjadi ibu. Ia beberapa kali tampak gelisah, berpindah posisi, mencari cara menyusui yang tepat.

Perubahan terjadi ketika Hu Chun akhirnya menemukan posisi yang stabil dan memeluk anaknya, Rio atau Li Ao.

Bagi tim medis, momen itu menjadi sinyal bahwa proses alami mulai berjalan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
LSM/Figur
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Pemerintah
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
LSM/Figur
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pemerintah
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
Pemerintah
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
LSM/Figur
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
LSM/Figur
Peringkat Kesehatan Laut Indonesia Naik, tapi Nelayan Kecil Masih Belum Sejahtera
Peringkat Kesehatan Laut Indonesia Naik, tapi Nelayan Kecil Masih Belum Sejahtera
LSM/Figur
Kebijakan Pencegahan Kanker Serviks di Indonesia Dinilai Belum Menyeluruh
Kebijakan Pencegahan Kanker Serviks di Indonesia Dinilai Belum Menyeluruh
LSM/Figur
Cerita Satrio Wiratama, Bayi Panda Pertama di Indonesia yang Jadi Simbol Diplomasi
Cerita Satrio Wiratama, Bayi Panda Pertama di Indonesia yang Jadi Simbol Diplomasi
Pemerintah
Di Tengah Krisis Ekologis, Riset Ungkap Peran Sekolah Bentuk Perilaku Ramah Lingkungan Siswa
Di Tengah Krisis Ekologis, Riset Ungkap Peran Sekolah Bentuk Perilaku Ramah Lingkungan Siswa
LSM/Figur
Deforestasi Skala Kecil Jadi Ancaman Serius Iklim Dunia, Mengapa?
Deforestasi Skala Kecil Jadi Ancaman Serius Iklim Dunia, Mengapa?
Pemerintah
Desa Terdampak Banjir Sumatera Disebut Lebih Banyak dari yang Dilaporkan
Desa Terdampak Banjir Sumatera Disebut Lebih Banyak dari yang Dilaporkan
Pemerintah
Generasi Baby Boomer Dinilai Efektif Dorong Keberlanjutan Perusahaan
Generasi Baby Boomer Dinilai Efektif Dorong Keberlanjutan Perusahaan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau