Di beberapa negara, termasuk Prancis, Italia, dan Portugal, pertumbuhan angka obesitas bahkan mungkin sudah sedikit menurun.
Sebaliknya, angka obesitas di antara anak-anak dan remaja justru terus meningkat tanpa henti atau semakin cepat di banyak negara yang berpenghasilan rendah dan menengah.
Para peneliti menemukan bahwa pada tahun 2024, tingkat pertumbuhan obesitas mencapai level tertingginya sejak tahun 1980 di 110 dari 200 negara untuk anak perempuan, dan di 91 negara untuk anak laki-laki.
Sebagian besar negara tersebut berada di wilayah yang sedang berkembang. Peningkatan yang cepat ini bahkan tercatat di negara-negara yang jumlah kasus obesitasnya sebenarnya masih tergolong rendah, termasuk Tanzania, Rwanda, Etiopia, Nepal, dan Bangladesh.
Pada saat yang sama, angka obesitas sebenarnya sudah melonjak ke tingkat yang tinggi di beberapa negara kepulauan Karibia dan Pasifik, termasuk Niue dan Bahama.
Hal yang sama juga terjadi di beberapa negara di Timur Tengah dan Afrika Utara, serta negara-negara Asia Tenggara seperti Brunei dan Malaysia. Selain itu juga sebagian wilayah Amerika Latin, termasuk Cile.
Baca juga: Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara
Perbedaan kondisi yang sangat beragam ini menunjukkan bahwa tren sosial, ekonomi, dan teknologi yang memengaruhi cara makanan disediakan, harga makanan, serta apa yang dimakan masyarakat mungkin telah membantu mengerem pertumbuhan obesitas di negara-negara kaya.
Namun, di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, hal ini masih membutuhkan campur tangan kebijakan pemerintah yang lebih tegas.
Studi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kota yang sangat cepat, perubahan pola makan, meningkatnya konsumsi makanan yang sangat tinggi proses olahannya, serta kurangnya aktivitas fisik menjadi penyebab melonjaknya kasus obesitas di wilayah berkembang.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa obesitas berhubungan erat dengan risiko kesehatan yang serius, termasuk penyakit jantung, penyakit ginjal, penyakit hati , gangguan pernapasan, diabetes, dan beberapa jenis kanker.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya