KOMPAS.com - Sebuah penelitian baru menemukan bahwa cuaca panas ekstrem bisa membuat jutaan orang dewasa menjadi kurang bergerak pada tahun 2050 nanti. Akibatnya, kondisi ini bisa menambah hampir 700.000 kasus kematian dini setiap tahunnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa iklim tidak hanya memengaruhi lingkungan saja melainkan juga gaya hidup masyarakat yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan tempat teduh serta akses ke ruangan yang sejuk.
Melansir Earth, Minggu (3/5/2026) di 156 negara, bulan-bulan dengan cuaca panas yang tidak biasa tidak hanya tercatat dalam rekaman data cuaca, tetapi juga terlihat dari banyaknya orang dewasa yang aktivitas fisiknya menurun di bawah batas sehat.
Dengan membandingkan tahun-tahun yang lebih panas dan tahun-tahun yang lebih sejuk, Christian García-Witulski, Ph.D., dari Pontifical Catholic University of Argentina (UCA), membuktikan bahwa kenaikan suhu panas memang membuat lebih banyak orang menjadi malas bergerak.
Setiap ada tambahan satu bulan dengan suhu di atas sekitar 28 derajat Celsius, jumlah orang yang malas bergerak naik sebesar 1,44 persen di seluruh dunia, dan naik 1,85 persen di negara-negara yang kurang mampu.
Baca juga: Studi Ingatkan Bahaya Panas Ekstrem di Piala Dunia 2026
Angka-angka tersebut mengubah pandangan kita tentang cuaca panas yang awalnya dianggap hanya sekadar bikin badan tidak nyaman sehari-hari, menjadi sebuah kekuatan besar yang bisa mengubah cara orang bekerja, bepergian, dan berolahraga.
Pada tahun 2050, jumlah orang yang tidak aktif bergerak diperkirakan akan naik sebesar 0,98 persen jika polusi udara bisa dikurangi, dan akan melonjak sebesar 1,75 persen jika bumi berada dalam jalur cuaca yang paling panas.
Wilayah-wilayah bersuhu panas yang berada di dekat garis khatulistiwa, termasuk Amerika Tengah, Karibia, Afrika sub-Sahara bagian timur, dan wilayah khatulistiwa Asia Tenggara, diperkirakan akan mengalami lonjakan rasa malas bergerak yang paling tajam.
Belgia dan Finlandia hampir tidak mengalami perubahan apa pun. Hal ini menegaskan bagaimana letak wilayah dan kemampuan untuk mendinginkan suhu udara sangat memengaruhi besar-kecilnya risiko tersebut.
Suhu panas tidak tersebar secara merata di seluruh peta dunia. Wilayah-wilayah yang lebih miskin menghadapi lonjakan rasa malas bergerak yang lebih tinggi, karena fasilitas pendingin ruangan (AC) dan tempat ruangan tertutup yang aman itu membutuhkan biaya yang mahal.
Kurangnya tempat berteduh, AC yang sering rusak atau tidak stabil, serta jam kerja yang kaku membuat bulan-bulan yang panas berubah menjadi hilangnya kesempatan bagi masyarakat untuk berjalan kaki, bersepeda, bermain, atau berlatih olahraga.
“Ini bukan hanya cerita tentang iklim, tetapi juga cerita tentang ketimpangan sosial,” kata García-Witulski.
Penurunan aktivitas fisik juga membawa kerugian ekonomi, karena penyakit dan kematian dini mengurangi waktu yang bisa digunakan orang untuk bekerja.
Sebuah analisis mencatat bahwa pada tahun 2013, kerugian produktivitas akibat masyarakat yang kurang bergerak mencapai 13,7 miliar dolar AS di 142 negara.
Baca juga: Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
Pada tahun 2050, rasa malas bergerak yang dipicu oleh cuaca panas diperkirakan akan membebani ekonomi global sebesar 2,40 miliar hingga 3,68 miliar dolar AS tambahan setiap tahunnya, tergantung pada seberapa parah pemanasan bumi yang terjadi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya