Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cuaca Panas Kian Ekstrem Bikin Masyarakat Sulit Berolahraga

Kompas.com, 18 Mei 2026, 20:03 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Sebuah penelitian baru menemukan bahwa cuaca panas ekstrem bisa membuat jutaan orang dewasa menjadi kurang bergerak pada tahun 2050 nanti. Akibatnya, kondisi ini bisa menambah hampir 700.000 kasus kematian dini setiap tahunnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa iklim tidak hanya memengaruhi lingkungan saja melainkan juga gaya hidup masyarakat yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan tempat teduh serta akses ke ruangan yang sejuk.

Melansir Earth, Minggu (3/5/2026) di 156 negara, bulan-bulan dengan cuaca panas yang tidak biasa tidak hanya tercatat dalam rekaman data cuaca, tetapi juga terlihat dari banyaknya orang dewasa yang aktivitas fisiknya menurun di bawah batas sehat.

Dengan membandingkan tahun-tahun yang lebih panas dan tahun-tahun yang lebih sejuk, Christian García-Witulski, Ph.D., dari Pontifical Catholic University of Argentina (UCA), membuktikan bahwa kenaikan suhu panas memang membuat lebih banyak orang menjadi malas bergerak.

Makin malas gerak karena panas

Setiap ada tambahan satu bulan dengan suhu di atas sekitar 28 derajat Celsius, jumlah orang yang malas bergerak naik sebesar 1,44 persen di seluruh dunia, dan naik 1,85 persen di negara-negara yang kurang mampu.

Baca juga: Studi Ingatkan Bahaya Panas Ekstrem di Piala Dunia 2026

Angka-angka tersebut mengubah pandangan kita tentang cuaca panas yang awalnya dianggap hanya sekadar bikin badan tidak nyaman sehari-hari, menjadi sebuah kekuatan besar yang bisa mengubah cara orang bekerja, bepergian, dan berolahraga.

Pada tahun 2050, jumlah orang yang tidak aktif bergerak diperkirakan akan naik sebesar 0,98 persen jika polusi udara bisa dikurangi, dan akan melonjak sebesar 1,75 persen jika bumi berada dalam jalur cuaca yang paling panas.

Wilayah-wilayah bersuhu panas yang berada di dekat garis khatulistiwa, termasuk Amerika Tengah, Karibia, Afrika sub-Sahara bagian timur, dan wilayah khatulistiwa Asia Tenggara, diperkirakan akan mengalami lonjakan rasa malas bergerak yang paling tajam.

Belgia dan Finlandia hampir tidak mengalami perubahan apa pun. Hal ini menegaskan bagaimana letak wilayah dan kemampuan untuk mendinginkan suhu udara sangat memengaruhi besar-kecilnya risiko tersebut.

Suhu panas tidak tersebar secara merata di seluruh peta dunia. Wilayah-wilayah yang lebih miskin menghadapi lonjakan rasa malas bergerak yang lebih tinggi, karena fasilitas pendingin ruangan (AC) dan tempat ruangan tertutup yang aman itu membutuhkan biaya yang mahal.

Kurangnya tempat berteduh, AC yang sering rusak atau tidak stabil, serta jam kerja yang kaku membuat bulan-bulan yang panas berubah menjadi hilangnya kesempatan bagi masyarakat untuk berjalan kaki, bersepeda, bermain, atau berlatih olahraga.

“Ini bukan hanya cerita tentang iklim, tetapi juga cerita tentang ketimpangan sosial,” kata García-Witulski.

Penurunan aktivitas fisik merugikan ekonomi

Penurunan aktivitas fisik juga membawa kerugian ekonomi, karena penyakit dan kematian dini mengurangi waktu yang bisa digunakan orang untuk bekerja.

Sebuah analisis mencatat bahwa pada tahun 2013, kerugian produktivitas akibat masyarakat yang kurang bergerak mencapai 13,7 miliar dolar AS di 142 negara.

Baca juga: Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga

Pada tahun 2050, rasa malas bergerak yang dipicu oleh cuaca panas diperkirakan akan membebani ekonomi global sebesar 2,40 miliar hingga 3,68 miliar dolar AS tambahan setiap tahunnya, tergantung pada seberapa parah pemanasan bumi yang terjadi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Permintaan Nikel untuk Baterai Kendaraan Listrik Dinilai Masih Prospektif
Permintaan Nikel untuk Baterai Kendaraan Listrik Dinilai Masih Prospektif
BUMN
Cuaca Panas Kian Ekstrem Bikin Masyarakat Sulit Berolahraga
Cuaca Panas Kian Ekstrem Bikin Masyarakat Sulit Berolahraga
Pemerintah
Keterlibatan Investor Asia dalam Kebijakan Iklim Melonjak 3 Kali Lipat
Keterlibatan Investor Asia dalam Kebijakan Iklim Melonjak 3 Kali Lipat
Pemerintah
Mayoritas UMKM Belum Bisa Akses Kredit, CBI Luncurkan Platform 'Andalan'
Mayoritas UMKM Belum Bisa Akses Kredit, CBI Luncurkan Platform "Andalan"
Swasta
Kasus Obesitas Anak Melonjak Tajam di Negara Berkembang
Kasus Obesitas Anak Melonjak Tajam di Negara Berkembang
Pemerintah
BNPB Catat Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah, Dua Orang Dilaporkan Tewas
BNPB Catat Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah, Dua Orang Dilaporkan Tewas
Pemerintah
Paparan Polusi Udara Jangka Panjang Tingkatkan Risiko Demensia Parkinson
Paparan Polusi Udara Jangka Panjang Tingkatkan Risiko Demensia Parkinson
LSM/Figur
PBB: Lebih dari 2 Miliar Orang di Dunia Tak Punya Hunian Layak
PBB: Lebih dari 2 Miliar Orang di Dunia Tak Punya Hunian Layak
Pemerintah
Krisis Iklim Picu Deoksigenisasi Sungai Tropis
Krisis Iklim Picu Deoksigenisasi Sungai Tropis
LSM/Figur
Komisi Eropa Sebut Pelonggaran UU EUDR Pangkas Biaya Perusahaan 75 Persen
Komisi Eropa Sebut Pelonggaran UU EUDR Pangkas Biaya Perusahaan 75 Persen
Pemerintah
Sisi Lain Dampak Perubahan Iklim: Merusak Hubungan Sosial Antar Manusia
Sisi Lain Dampak Perubahan Iklim: Merusak Hubungan Sosial Antar Manusia
Pemerintah
Menengok Si Toddler Panda Rio di Taman Safari Bogor, Tonggak Penting Konservasi Satwa Indonesia
Menengok Si Toddler Panda Rio di Taman Safari Bogor, Tonggak Penting Konservasi Satwa Indonesia
Swasta
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
LSM/Figur
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Pemerintah
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau