Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AC Dinginkan Rumah Tapi Lemahkan Komitmen Masyarakat dalam Aksi Iklim

Kompas.com, 21 Mei 2026, 14:29 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

Jika disimpulkan, temuan ini menunjukkan masalah yang lebih besar daripada sekadar sifat cuek masing-masing orang. Ada pergeseran kebiasaan yang terjadi secara perlahan.

Ketergantungan yang luas pada AC pribadi lama-kelamaan bisa merusak mental dan kepedulian masyarakat untuk ikut serta dalam aksi nyata menyelamatkan bumi bersama-sama.

"Suhu panas bukan hanya masalah angka di termometer. Ini juga masalah perilaku manusia dan bagaimana kita mengatur rencana pembangunan kota," kata Samuel Chng, Profesor Asisten Peneliti dan Kepala Lab Psikologi Perkotaan di LKYCIC, SUTD.

"Jika kota-kota terlalu bergantung pada AC pribadi, mereka berisiko terjebak dalam kebutuhan listrik yang sangat tinggi, sekaligus melemahkan kerja sama masyarakat yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah panas di seluruh kota," terangnya.

Para peneliti ini bukan melarang orang memakai AC di kota yang panas dan lembap, alat pendingin memang sangat penting demi kenyamanan, kesehatan, dan kesejahteraan hidup.

Maksud dari penelitian ini adalah bahwa kota-kota tidak boleh menganggap AC sebagai satu-satunya jawaban otomatis untuk mengatasi suhu bumi yang makin panas.

Mengurangi ketergantungan pada AC berarti kita harus mengatasi suhu panas kota secara langsung yaitu dengan membuat peneduh, menanam lebih banyak pohon, mengatur aliran angin yang baik, menggunakan bahan bangunan yang memantulkan panas, serta merancang bangunan yang ramah iklim.

Dengan begitu, usaha membuat warga tetap merasa sejuk dan usaha menjaga lingkungan bisa berjalan beriringan.

Baca juga: Bagai Pedang Bermata Dua, Permintaan AC Naik Meski Perburuk Krisis Iklim

"Penelitian ini menunjukkan bahwa beradaptasi dengan perubahan iklim bukan cuma masalah teknologi atau pembangunan fasilitas saja. Ini sebenarnya adalah masalah sosial dan perilaku manusia," kata Dr. Harvey Neo, Kepala Peneliti Utama dalam proyek Climate Resilient Citizenry.

"Tantangan bagi kota-kota besar adalah bagaimana merancang sebuah sistem di mana kenyamanan masing-masing orang dan keselamatan lingkungan bisa saling mendukung, bukan malah berjalan berlawanan arah," paparnya.

Karena penggunaan AC kini makin mudah dijangkau di berbagai wilayah dunia yang suhunya makin panas, hasil penelitian di Singapura ini menjadi sangat penting bagi kota-kota lain.

Alat pendingin bisa mengubah jumlah kebutuhan listrik suatu negara. Lebih dari itu, AC juga bisa mengubah cara pandang masyarakat terhadap tanggung jawab mereka dalam menghadapi masalah iklim.

Hal ini menunjukkan bahwa gerakan mendinginkan kota secara massal seperti penghijauan kini menjadi semakin penting, tidak bisa hanya mengandalkan AC di rumah masing-masing.

Karya ilmiah yang berjudul "Private cooling, urban heat, and the limits of collective climate action in tropical cities" diterbitkan dalam jurnal Sustainable Cities and Society.

Penelitian ini merupakan bagian dari proyek Climate Resilient Citizenry yakni sebuah kerja sama antar-lembaga yang menguji bagaimana penduduk kota melihat dan menghadapi risiko perubahan iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau