Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AC Dinginkan Rumah Tapi Lemahkan Komitmen Masyarakat dalam Aksi Iklim

Kompas.com, 21 Mei 2026, 14:29 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Penelitian baru dari Singapore University of Technology and Design (SUTD) dan Singapore-ETH Centre (SEC) menemukan bahwa alat pendingin pribadi seperti AC memang bisa melindungi orang dari udara panas.

Namun, alat ini ternyata membuat orang merasa bahwa solusi mengatasi krisis iklim di kota menjadi tidak terlalu mendesak lagi. Para peneliti kemudian menyebut pola ini sebagai "isolasi perilaku" atau behavioral insulation.

Melansir Phys, Rabu (20/5/2026) penelitian baru ini menemukan bahwa ketergantungan yang tinggi pada AC pribadi bisa menciptakan sebuah keanehan di perkotaan.

Baca juga: AC Bisa Tambah Pemanasan Global di Bumi 0,05 Derajat, Mengapa?

Paradoks yang dimaksud adalah makin sukses sebuah keluarga mendinginkan rumah mereka di dalam ruangan, maka semakin berkurang pula keinginan mereka untuk mendukung gerakan bersama yang bisa menurunkan suhu panas di kota untuk semua orang.

Karena AC sangat ampuh mengatasi rasa gerah akibat cuaca panas, alat ini akhirnya membuat kita merasa bahwa tindakan untuk menyelamatkan bumi baik dengan cara mengubah kebiasaan sehari-hari atau mendukung gerakan bersama seperti menanam pohon dan membuat peneduh di kota menjadi tidak terlalu mendesak lagi.

Singapura jadi contoh

Singapura memberikan contoh awal yang sangat jelas tentang tantangan yang akan segera dihadapi oleh banyak kota lain yang suhunya makin memanas.

Singapura adalah kota yang padat, beriklim tropis, sangat modern, dan hampir semua warganya punya AC. Karena penggunaan AC makin meluas ke kota-kota lain yang juga makin panas, cara setiap keluarga menghadapi rasa gerah ini akan sangat memengaruhi jumlah kebutuhan listrik, rencana pembangunan kota, dan dukungan masyarakat terhadap aturan penyelamatan lingkungan.

Untuk bisa memahami pola ini, tim peneliti menguji jawaban survei dari 967 orang dewasa dari 416 keluarga di Singapura. Mereka juga memeriksa peta titik panas di kota tersebut serta catatan penggunaan listrik di rumah-rumah tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang sangat jelas. Orang-orang yang merasa sangat kepanasan biasanya lebih sering mengobrol tentang masalah iklim dan mengajak orang lain untuk ikut bertindak. Namun, hal ini jarang membuat mereka mengurangi penggunaan listrik di rumah sendiri.

Sementara orang-orang yang paling ketergantungan pada AC justru cenderung memakai lebih banyak listrik dan malas melakukan kebiasaan hemat energi.

"Salah satu temuan penting kami adalah bahwa merasakan suhu panas tidak otomatis membuat seseorang hemat energi atau mau ikut serta dalam aksi nyata menyelamatkan lingkungan secara bersama-sama," kata Dr. Natalia Borzino, penulis utama dan Peneliti Pascadoktoral di SEC.

"Orang-orang bisa saja menjadi lebih sadar tentang isu iklim dan lebih vokal protes tentang cuaca panas, sementara mereka sendiri masih sangat ketergantungan pada AC yang boros listrik untuk menjalani kehidupan sehari-hari," tambahnya.

Penggunaan AC yang berlebihan juga membuat orang kurang mendukung gerakan bersama untuk mendinginkan lingkungan seperti proyek menanam pohon atau membuat peneduh di sekitar perumahan.

Padahal, di saat yang sama, orang-orang tersebut rela mengeluarkan uang lebih banyak demi membuat bagian dalam rumah mereka sendiri menjadi lebih sejuk dan nyaman.

Baca juga: Permintaan AC Diprediksi Meningkat Tiga Kali Lipat pada Tahun 2050

AC penyebab suhu kota makin panas

Penelitian ini juga menemukan bahwa daerah perumahan yang suhunya lebih panas otomatis memakai lebih banyak listrik karena penggunaan AC yang meningkat. Hal ini membuktikan bahwa AC adalah penyebab utama mengapa suhu kota yang makin panas selalu diikuti oleh lonjakan kebutuhan listrik.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau