JAKARTA, KOMPAS.com - Keanekaragaman hayati Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi fondasi pembangunan bioekonomi berkelanjutan. Namun, eksplorasi sumber daya hayati atau bioprospeksi harus dilakukan secara bijak agar menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memberikan manfaat yang adil bagi masyarakat.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna menjelaskan bioprospeksi bukan sekadar eksplorasi potensi ekonomi dari sumber daya hayati Indonesia saja.
Hal itu disampaikannya dalam Belantara Learning Series Episode 15 (BLS Eps15) bertajuk Bioprospeksi untuk Bioekonomi Berkelanjutan di Indonesia: Menjembatani Konservasi, Inovasi dan Keadilan Manfaat yang digelar Belantara Foundation dan Universitas Pakuan.
Baca juga: Krisis Iklim Picu Perombakan Habitat Tanaman pada 2100, Keanekaragaman Hayati di Asia Tenggara
“Bioprospeksi juga tentang bagaimana memastikan masyarakat lokal sebagai penjaga utama hutan dan ekosistem memperoleh manfaat yang adil dan berkelanjutan,” kata Dolly, Kamis (21/5/2026).
Menurut dia, bioprospeksi berkelanjutan bisa menjadi instrumen strategis untuk menjembatani konservasi lingkungan, inovasi teknologi, dan pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Dolly berpandangan bahwa transformasi menuju bioekonomi berkelanjutan membutuhkan dukungan regulasi yang kuat, tata kelola, serta riset berbasis ilmu pengetahuan.
Perpaduan antara riset, inovasi, dan kearifan lokal dapat melahirkan solusi bernilai ekonomi tinggi tanpa mengorbankan kelestarian alam.
“Transformasi menuju bioekonomi berkelanjutan membutuhkan dukungan regulasi yang kuat, tata kelola yang baik, serta riset berbasis ilmu pengetahuan yang komprehensif. Belantara Foundation meyakini bahwa perpaduan antara riset, inovasi, dan kearifan lokal dapat melahirkan solusi bernilai ekonomi tinggi tanpa mengorbankan kelestarian alam," beber dia.
Baca juga: Begini Nasib Hewan dan Tumbuhan Pasca Ledakan Nuklir Chernobyl
Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Hadi Sukadi Alikodra menjelaskan bahwa bioprospeksi merupakan penelusuran dan investigasi sistematis terhadap senyawa kimia baru, bahan aktif, gen, protein, maupun informasi genetik lain yang memiliki nilai ekonomi.
Ia menyampaikan, komersialisasi bioprospeksi dapat memperkuat ekonomi nasional secara berkelanjutan karena dilakukan dengan prinsip kehati-hatian serta tetap menjaga kelestarian keanekaragaman hayati.
“Dari sistem royalti yang dihasilkannya, bioprospeksi dapat menjadi dukungan finansial bagi perlindungan hutan dan masyarakat hukum adat, sekaligus menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekonomi masyarakat, dan menambah devisa negara,” tutur Hadi.
Sementara itu, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A A Teguh Sambodo, menegaskan pengembangan bioekonomi bukan hanya transformasi ekonomi, melainkan juga transformasi sosial yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama sekaligus penerima manfaat.
Transformasi dari sumber daya hayati menuju bioeconomy ekonomi berbasis hayati memerlukan kerja sama lintas sektor antara pemerintah dengan akademisi, dunia usaha, masyarakat lokal dan adat, serta media.
“Pengembangan bioprospeksi harus dilakukan secara terintegrasi mulai dari penguatan eksplorasi dan basis data biodiversitas, riset dan validasi senyawa bioaktif, konservasi berbasis daya dukung lingkungan, penerapan mekanisme akses dan pembagian manfaat yang adil, hingga penguatan tata kelola dan pembiayaan inovatif,” ungkap Teguh.
Dia menambahkan, arah kebijakan tersebut telah diatur dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, RPJMN 2025–2029, dan Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045 sebagai bagian dari agenda pembangunan hijau dan penguatan bioekonomi nasional.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya