Selain itu, memperbaiki jalur angkut batu bara di area tambang Tanjung Enim, Sumatera Selatan yang menekan 104.638 tCO2e. Perusahaan memasang panel surya pada sejumlah fasilitas operasional, dan melakukan studi carbon capture, utilization, and storage (CCUS) guna menangkap karbon.
Dalam jangka menengah, perusahaan menargetkan mengurangi emisi dengan skema BAU sebesar 12,5-15,5 persen pada 2030 sebagai bagian dari komitmen menuju Net Zero Emission 2060.
Baca juga: Total Denda Emisi Karbon Selama 2025 Capai Rp1.897 Triliun
Laporan itu turut mengungkap peningkatan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem seperti hujan lebat, badai, dan banjir dapat menghambat operasional tambang, merusak infrastruktur, serta mengganggu distribusi hasil produksi.
Kenaikan suhu global dinilai dapat memengaruhi produktivitas pekerja sekaligus meningkatkan risiko kesehatan dan keselamatan kerja di lingkungan pertambangan.
Karenanya, PTBA memaksimalkan penambangan batu bara pada musim kemarau untuk mengurangi gangguan operasional akibat tingginya curah hujan.
"Seiring dengan itu, PTBA telah menganggarkan biaya lingkungan pada tahun 2025 sebesar Rp 404 juta. Biaya tersebut telah direalisasikan sebesar Rp 223 juta, yang sebagian besar dimanfaatkan untuk mengurangi dampak perubahan iklim melalui program-program penurunan emisi, seperti reklamasi dan revegetasi," kata PTBA.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya