Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fenomena Debu Sahara Kian Sering Terjadi, Apa Kaitannya dengan Krisis Iklim?

Kompas.com, 4 Juni 2026, 11:38 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Euronews,

JAKARTA, KOMPAS.com - Gelombang debu dari Gurun Sahara kembali menyelimuti sejumlah wilayah Eropa Barat dalam beberapa pekan terakhir.

Fenomena yang dipicu badai dan angin kencang di Afrika Utara itu tidak hanya mengubah warna langit menjadi kekuningan, tetapi juga memicu penurunan kualitas udara dan gangguan kesehatan masyarakat.

Debu Sahara terbawa arus udara melintasi Laut Mediterania menuju Portugal, Spanyol, Prancis, hingga sejumlah wilayah di Inggris dan negara-negara Skandinavia. Partikel-partikel debu yang ringan dapat bertahan lama di atmosfer dan menempuh perjalanan ribuan kilometer sebelum akhirnya jatuh ke permukaan bumi.

Baca juga: Gelombang Panas Picu Harga Jual Listrik di Eropa Jadi Negatif

Fenomena tersebut menyebabkan lapisan debu menempel pada berbagai permukaan, mulai dari kendaraan hingga panel surya. Selain itu, kabut debu yang terbentuk juga mengurangi jarak pandang dan meningkatkan risiko gangguan transportasi.

Ilmuwan dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), Mark Parrington, mengatakan pergerakan debu Sahara menunjukkan keterhubungan atmosfer lintas wilayah dan benua.

"Ini menunjukkan bahwa kita terhubung lintas batas dan lintas benua dalam komposisi atmosfer," ujarnya dikutip Kamis (4/6/2026).

Sejumlah lembaga meteorologi di Eropa, termasuk AEMET di Spanyol, IPMA di Portugal, dan Météo-France, telah mengeluarkan peringatan terkait memburuknya kualitas udara akibat konsentrasi partikel debu yang tinggi.

Partikel debu berukuran kurang dari 10 mikrometer (PM10) dinilai berisiko bagi kesehatan karena dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan partikel tersebut dapat memicu iritasi, memperburuk asma, bronkitis, hingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Baca juga: Warga Eropa Bayar Listrik 25 Persen Lebih Murah Berkat Pembangkit EBT

Meski demikian, debu Sahara juga membawa manfaat ekologis. Debu yang kaya mineral, seperti besi dan fosfor, dapat menjadi sumber nutrisi bagi ekosistem laut maupun daratan. Saat jatuh ke permukaan bumi, kandungan mineral tersebut berperan sebagai pupuk alami yang mendukung produktivitas ekosistem.

Hubungannya dengan krisis iklim

Para ilmuwan juga menyoroti kemungkinan hubungan antara krisis iklim dan perubahan pola persebaran debu Sahara. Menurut Parrington, peningkatan suhu, kekeringan, serta menurunnya kelembapan dapat menciptakan kondisi yang mendukung terbentuknya badai debu.

Namun, hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa perubahan iklim secara langsung meningkatkan frekuensi debu Sahara yang mencapai Eropa.

"Sejauh yang saya ketahui, tidak ada studi konklusif yang menghubungkan bagaimana penggurunan dan penggundulan hutan memengaruhi debu mineral di atmosfer. Ini masih menjadi pertanyaan yang terbuka," kata Parrington, dikutip dari Euronews.

Sementara itu, Senior Lecturer Division of Water Resources Engineering & Centre for Advanced Middle Eastern Studies Lund University, Hossein Hashemi, mengatakan Eropa kini semakin sering berada di jalur dampak krisis lingkungan yang terjadi di kawasan Sahara.

Menurut dia, debu Sahara tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga terhadap lingkungan dan infrastruktur. Debu yang mengendap di Pegunungan Alpen dapat mempercepat pencairan salju karena mengurangi kemampuan permukaan salju memantulkan sinar matahari.

Baca juga: Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur

Selain itu, debu juga dapat menurunkan efisiensi panel surya serta mengganggu aktivitas penerbangan dan lalu lintas darat akibat berkurangnya jarak pandang.

Studi pemodelan bahkan menunjukkan debu Sahara berkontribusi terhadap hingga 44 persen kematian terkait polusi PM10 di Spanyol dan Italia.

Meski beberapa penelitian menunjukkan badai debu Sahara tertentu justru menjadi lebih jarang dalam dua dekade terakhir akibat meningkatnya vegetasi di kawasan Sahel dan perubahan pola angin, para ilmuwan menilai fenomena ini akan tetap menjadi indikator penting kondisi lingkungan global di masa depan.

Hashemi menegaskan bahwa penanganan dampak debu Sahara membutuhkan kerja sama lintas negara karena partikel debu dapat bergerak jauh melampaui batas geografis.

"Dalam beberapa dekade mendatang, sabuk debu Sahara akan tetap menjadi indikator nyata kesehatan bumi. Debu tidak mengenal batas negara sehingga pengelolaannya membutuhkan kerja sama internasional yang lebih kuat," ujarnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Pemerintah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
LSM/Figur
El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
Pemerintah
Saat Plastik Tak Lagi Murah, Sistem Guna Ulang Jadi Makin Relevan
Saat Plastik Tak Lagi Murah, Sistem Guna Ulang Jadi Makin Relevan
BrandzView
Reformasi Subsidi BBM-LPG Bisa Hemat Ratusan Triliun untuk Energi Terbarukan
Reformasi Subsidi BBM-LPG Bisa Hemat Ratusan Triliun untuk Energi Terbarukan
LSM/Figur
Emil Salim Serukan Perubahan Model Pembangunan yang Lebih Holistik
Emil Salim Serukan Perubahan Model Pembangunan yang Lebih Holistik
LSM/Figur
BNPB: Karhutla hingga Banjir Landa Sejumlah Wilayah Indonesia
BNPB: Karhutla hingga Banjir Landa Sejumlah Wilayah Indonesia
Pemerintah
Reformasi Subsidi Energi Jadi Kunci Pulihkan Kredibilitas Fiskal dan Percepat Transisi Energi
Reformasi Subsidi Energi Jadi Kunci Pulihkan Kredibilitas Fiskal dan Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
Dibanding Biofuel, EV Disebut Lebih Layak Jadi Alternatif untuk Tekan Impor BBM
LSM/Figur
FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan
FEM IPB: Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen Belum Mampu Kurangi Ketimpangan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau