JAKARTA, KOMPAS.com - Gelombang debu dari Gurun Sahara kembali menyelimuti sejumlah wilayah Eropa Barat dalam beberapa pekan terakhir.
Fenomena yang dipicu badai dan angin kencang di Afrika Utara itu tidak hanya mengubah warna langit menjadi kekuningan, tetapi juga memicu penurunan kualitas udara dan gangguan kesehatan masyarakat.
Debu Sahara terbawa arus udara melintasi Laut Mediterania menuju Portugal, Spanyol, Prancis, hingga sejumlah wilayah di Inggris dan negara-negara Skandinavia. Partikel-partikel debu yang ringan dapat bertahan lama di atmosfer dan menempuh perjalanan ribuan kilometer sebelum akhirnya jatuh ke permukaan bumi.
Baca juga: Gelombang Panas Picu Harga Jual Listrik di Eropa Jadi Negatif
Fenomena tersebut menyebabkan lapisan debu menempel pada berbagai permukaan, mulai dari kendaraan hingga panel surya. Selain itu, kabut debu yang terbentuk juga mengurangi jarak pandang dan meningkatkan risiko gangguan transportasi.
Ilmuwan dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), Mark Parrington, mengatakan pergerakan debu Sahara menunjukkan keterhubungan atmosfer lintas wilayah dan benua.
"Ini menunjukkan bahwa kita terhubung lintas batas dan lintas benua dalam komposisi atmosfer," ujarnya dikutip Kamis (4/6/2026).
Sejumlah lembaga meteorologi di Eropa, termasuk AEMET di Spanyol, IPMA di Portugal, dan Météo-France, telah mengeluarkan peringatan terkait memburuknya kualitas udara akibat konsentrasi partikel debu yang tinggi.
Partikel debu berukuran kurang dari 10 mikrometer (PM10) dinilai berisiko bagi kesehatan karena dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan partikel tersebut dapat memicu iritasi, memperburuk asma, bronkitis, hingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Baca juga: Warga Eropa Bayar Listrik 25 Persen Lebih Murah Berkat Pembangkit EBT
Meski demikian, debu Sahara juga membawa manfaat ekologis. Debu yang kaya mineral, seperti besi dan fosfor, dapat menjadi sumber nutrisi bagi ekosistem laut maupun daratan. Saat jatuh ke permukaan bumi, kandungan mineral tersebut berperan sebagai pupuk alami yang mendukung produktivitas ekosistem.
Para ilmuwan juga menyoroti kemungkinan hubungan antara krisis iklim dan perubahan pola persebaran debu Sahara. Menurut Parrington, peningkatan suhu, kekeringan, serta menurunnya kelembapan dapat menciptakan kondisi yang mendukung terbentuknya badai debu.
Namun, hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa perubahan iklim secara langsung meningkatkan frekuensi debu Sahara yang mencapai Eropa.
"Sejauh yang saya ketahui, tidak ada studi konklusif yang menghubungkan bagaimana penggurunan dan penggundulan hutan memengaruhi debu mineral di atmosfer. Ini masih menjadi pertanyaan yang terbuka," kata Parrington, dikutip dari Euronews.
Sementara itu, Senior Lecturer Division of Water Resources Engineering & Centre for Advanced Middle Eastern Studies Lund University, Hossein Hashemi, mengatakan Eropa kini semakin sering berada di jalur dampak krisis lingkungan yang terjadi di kawasan Sahara.
Menurut dia, debu Sahara tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga terhadap lingkungan dan infrastruktur. Debu yang mengendap di Pegunungan Alpen dapat mempercepat pencairan salju karena mengurangi kemampuan permukaan salju memantulkan sinar matahari.
Baca juga: Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Selain itu, debu juga dapat menurunkan efisiensi panel surya serta mengganggu aktivitas penerbangan dan lalu lintas darat akibat berkurangnya jarak pandang.
Studi pemodelan bahkan menunjukkan debu Sahara berkontribusi terhadap hingga 44 persen kematian terkait polusi PM10 di Spanyol dan Italia.
Meski beberapa penelitian menunjukkan badai debu Sahara tertentu justru menjadi lebih jarang dalam dua dekade terakhir akibat meningkatnya vegetasi di kawasan Sahel dan perubahan pola angin, para ilmuwan menilai fenomena ini akan tetap menjadi indikator penting kondisi lingkungan global di masa depan.
Hashemi menegaskan bahwa penanganan dampak debu Sahara membutuhkan kerja sama lintas negara karena partikel debu dapat bergerak jauh melampaui batas geografis.
"Dalam beberapa dekade mendatang, sabuk debu Sahara akan tetap menjadi indikator nyata kesehatan bumi. Debu tidak mengenal batas negara sehingga pengelolaannya membutuhkan kerja sama internasional yang lebih kuat," ujarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya