KOMPAS.com – Harga secangkir kopi yang biasa dibeli setiap pagi pelan-pelan naik. Di warung, kantong plastik mulai dihitung sebagai biaya tambahan. Pelaku usaha makanan, minuman, hingga binatu juga mulai merasakan tekanan yang sama.
Kenaikan harga tidak selalu datang dari bahan utama produk yang dijual. Dalam banyak kasus, tekanan justru muncul dari sesuatu yang selama ini dianggap sepele, yakni kemasan.
Bagi konsumen, plastik mungkin hanya terlihat sebagai pembungkus. Namun, bagi pedagang dan pelaku usaha, plastik adalah bagian dari biaya produksi harian.
Ketika harga plastik naik, ruang gerak pelaku usaha ikut menyempit. Menaikkan harga bisa membuat pembeli berpikir ulang. Namun, menahan harga berarti menerima konsekuensi penurunan margin keuntungan.
Kondisi itu mulai dirasakan para pedagang. Dalam video Filonomics Kompas.com bertajuk “Plastik Mahal, Solusi Guna Ulang Makin Relevan”, sejumlah pelaku usaha dan konsumen menggambarkan bagaimana kenaikan harga plastik merembet ke kebutuhan sehari-hari.
Seorang pedagang lotek, Siti, misalnya, merasakan kenaikan harga plastik merembet ke berbagai kebutuhan belanja.
“Iya, berasa banget. Soalnya kok plastik yang naik, tapi kayaknya semuanya jadi naik. Kita belanja, malah ada yang mengecas (biaya) plastik juga,” ujar Siti dalam video yang ditayangkan Selasa (26/5/2026) tersebut.
Pedagang kopi bernama Adryan juga menghadapi tekanan serupa. Di tengah penjualan yang belum sepenuhnya stabil, kenaikan biaya kemasan membuat beban usaha bertambah.
“Kenaikan, ya berasa juga sih sama omzet. Berdampak banget sih. Apalagi, sekarang sudah mulai sepi juga kan, penurunan ya. 30 persen lah, 20 persen lah,” katanya.
Bagi konsumen, dampaknya muncul dalam bentuk yang lebih sederhana. Harga kopi naik Rp 2.000 sampai Rp 3.000. Ada pula gerai yang tidak lagi otomatis memberi kantong plastik untuk membawa pesanan.
Fenomena itu memperlihatkan satu hal penting. Plastik bukan lagi sekadar barang murah yang bisa dipakai sebentar lalu dibuang.
Kenaikan harga plastik tidak bisa dilepaskan dari rantai pasok global. Plastik merupakan produk turunan petrokimia yang berkaitan erat dengan minyak bumi, gas, dan bahan baku seperti nafta.
Ketika pasokan energi dan bahan baku petrokimia terganggu, harga plastik ikut terdorong. Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan di kawasan Timur Tengah dan gangguan jalur distribusi global ikut menambah tekanan terhadap pasar bahan baku plastik.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik penting dalam rantai pasok energi dunia dan lintasan strategis bagi perdagangan minyak, gas, dan produk petrokimia.
Gangguan di jalur tersebut menunjukkan betapa rentannya rantai pasok bahan baku plastik. Apalagi, industri dalam negeri masih memiliki ketergantungan terhadap bahan baku dari luar negeri.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menyebut, 60–70 persen bahan baku petrokimia datang dari Timur Tengah.
Artinya, ketika distribusi dari kawasan tersebut terganggu, efeknya tidak berhenti di pasar energi. Dampaknya bisa menjalar ke industri kemasan, makanan dan minuman, ritel, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), hingga rumah tangga.
Pembukaan kembali Selat Hormuz pun tidak otomatis membuat harga plastik langsung turun. Sebab, harga plastik dibentuk oleh rantai yang lebih panjang daripada harga minyak mentah saja, sebagaimana dikutip dari pemberitaan Kompas.com, Senin (20/4/2026).
Plastik masih bergantung pada feedstock seperti nafta dan propana, olefin seperti etilena dan propilena, kapasitas produksi petrokimia, biaya logistik, hingga premi risiko akibat ketidakpastian pasar.
Dengan kata lain, krisis tersebut bukan hanya soal naik-turunnya harga dalam jangka pendek. Krisis ini memperlihatkan bahwa sistem yang terlalu bergantung pada bahan baku baru sangat mudah terguncang oleh kondisi global.
Tekanan biaya tidak hanya terasa di tingkat pedagang. Industri yang bergantung pada kemasan plastik juga menghadapi risiko serupa, terutama ketika pasokan bahan baku tidak stabil.
Bagi industri makanan dan minuman, kemasan bukan sekadar pelengkap. Kemasan menjadi bagian penting dari proses produksi, distribusi, hingga keamanan produk sampai ke tangan konsumen.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) Firman Sukirman memberi peringatan bahwa kelangkaan plastik bisa berdampak serius terhadap keberlangsungan produksi.
“Kalau dua bulan ke depan plastik masih langka, beberapa industri air minum kemasan bakal terpukul keras,” kata Firman.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa persoalan plastik sudah melampaui isu harga kemasan. Ketika industri terus bergantung pada plastik baru, gangguan pasokan dapat ikut memengaruhi stabilitas produksi dan ketersediaan produk di pasar.
Di titik inilah, sistem sekali pakai mulai layak dipertanyakan. Jika setiap kemasan hanya digunakan sekali lalu dibuang, kebutuhan terhadap bahan baku baru akan terus berulang. Saat rantai pasok global terguncang, pola tersebut berubah menjadi risiko ekonomi.
Selama plastik murah dan mudah didapat, pola sekali pakai tampak sebagai pilihan paling praktis. Produk dikemas, dibeli, digunakan, lalu kemasannya dibuang.
Namun, ketika harga plastik naik dan pasokannya tidak lagi stabil, pola lama itu mulai terlihat rapuh. Masalahnya bukan hanya plastik menjadi mahal. Hal yang ikut dipertanyakan adalah cara memperlakukan plastik selama ini.
Jika satu kemasan hanya dipakai sekali, kebutuhan terhadap plastik baru akan terus berulang. Setiap kali kemasan dibuang, sistem harus kembali memproduksi kemasan baru dari bahan baku baru.
Persoalan itu tidak berhenti pada harga. Setelah selesai digunakan, kemasan plastik juga menjadi bagian dari beban pengelolaan sampah.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan, porsi sampah plastik dalam komposisi sampah nasional meningkat dalam lima tahun terakhir. Pada 2021, sampah plastik menyumbang 17,85 persen dari total komposisi sampah nasional. Angkanya naik menjadi 18,40 persen pada 2022, 19,19 persen pada 2023, 19,37 persen pada 2024, dan 20,11 persen pada 2025.
Dengan komposisi tersebut, plastik menjadi jenis sampah terbesar kedua setelah sisa makanan. Artinya, sistem sekali pakai menimbulkan tekanan dari dua sisi sekaligus. Di hulu, plastik bergantung pada bahan baku yang rentan terhadap gejolak harga global. Di hilir, plastik yang cepat dibuang menambah beban pengelolaan sampah.
Di tengah tekanan tersebut, sistem guna ulang mulai terlihat semakin relevan. Sistem ini menawarkan cara pandang berbeda terhadap kemasan.
Kemasan tidak lagi diperlakukan sebagai barang yang langsung berakhir setelah sekali pakai. Sebaliknya, kemasan dijaga agar bisa digunakan kembali dalam siklus yang lebih panjang.
Gagasan itu sebenarnya bukan hal baru. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sudah mengenal berbagai bentuk guna ulang, mulai dari membawa tumbler, memakai tote bag, menggunakan kotak bekal, hingga memilih sistem isi guna ulang.
Sejumlah konsumen juga mulai mengubah kebiasaan tersebut. Syifa Fauzyyah, seorang karyawan swasta, mengaku mulai membawa tumbler saat membeli kopi. Karyawan swasta lain, Rizky Fauzy, memilih membawa tote bag saat berbelanja ke warung atau minimarket agar tidak perlu menambah biaya kantong plastik.
Perubahan itu juga muncul pada pilihan kebutuhan rumah tangga. Rizky menyebut mulai mempertimbangkan penggunaan galon yang bisa ditukar kembali.
“Di kosan kemarin lagi pakai galon yang sekali buang. Nah, sekarang lagi mau mencoba pakai galon yang bisa ditukar,” ujarnya.
Syifa Maulida, karyawan swasta lain, juga mengaku lebih memilih galon yang dipakai ulang di rumah. Menurut dia, pilihan itu terasa lebih praktis sekaligus tidak menambah banyak sampah setelah digunakan.
“Saya di rumah pakainya yang galon guna ulang,” kata Syifa.
Kesaksian itu memperlihatkan bahwa solusi tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kadang, perubahan dimulai dari cara memperpanjang usia pakai barang yang sudah ada.
Dalam konteks industri, prinsip yang sama dapat diterapkan melalui sistem guna ulang yang lebih terstruktur. Kemasan dikembalikan, dibersihkan, diperiksa, lalu digunakan kembali sesuai standar.
Semakin panjang umur pakai sebuah kemasan, semakin kecil pula kebutuhan untuk terus memproduksi kemasan baru. Pada saat harga bahan baku plastik tidak stabil, pola seperti ini menjadi lebih masuk akal, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.
Meski demikian, guna ulang tidak bisa dilakukan sembarangan. Utamanya pada produk pangan dan minuman, keamanan tetap menjadi syarat utama.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong industri mengutamakan penggunaan kemasan guna ulang. Namun, penerapannya perlu dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan aspek keamanan, kesiapan infrastruktur, serta kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.
Diberitakan Kompas.com, Senin (18/5/2026), Kemenperin menegaskan bahwa kemasan plastik guna ulang untuk produk pangan olahan harus memenuhi standar food grade dan dipastikan tidak menimbulkan kontaminasi ataupun migrasi senyawa kimia berbahaya ke dalam produk pangan.
Selain itu, material yang digunakan harus memiliki ketahanan yang baik. Dengan begitu, kemasan tidak mengalami perubahan fisik ataupun struktur meski melalui pencucian, sterilisasi, pengisian ulang, dan distribusi secara berulang.
Ketentuan ini sejalan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) serta regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait kemasan pangan.
Sistem pengembalian kemasan juga menjadi bagian penting. Dalam konsep logistik balik atau reverse logistics, kemasan kosong dikumpulkan kembali dari konsumen, dibawa ke fasilitas pengolahan, lalu diproses sebelum digunakan kembali.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief turut menjelaskan bahwa sistem pengembalian kemasan yang efisien dapat dilakukan melalui penyediaan titik konsolidasi atau hub, serta penerapan backhauling.
Adapun backhauling merupakan integrasi antara distribusi produk baru dan pengambilan kembali kemasan kosong dari konsumen.
Dengan sistem seperti itu, guna ulang bukan sekadar memakai ulang kemasan. Guna ulang menjadi bagian dari tata kelola yang memastikan efisiensi, kebersihan, dan keamanan berjalan bersama.
Pada kemasan guna ulang, standar keamanan menjadi penting. Karena itu, kemasan guna ulang yang digunakan industri diatur oleh BPOM dari sisi keamanan pangan, higienitas, hingga cara produksi.
Pengaturan tersebut diperlukan agar kemasan yang digunakan berulang tetap aman, bersih, dan memenuhi standar sebelum kembali dipakai untuk produk pangan ataupun minuman.
Krisis harga plastik memberi pelajaran penting bahwa kemasan yang selama ini dianggap murah ternyata terhubung dengan rantai pasok global yang kompleks. Ketika pasokan bahan baku terganggu, dampaknya bisa menjalar ke harga barang, biaya usaha, hingga kebiasaan konsumsi sehari-hari.
Di saat yang sama, meningkatnya porsi sampah plastik menunjukkan bahwa pola sekali pakai juga memberi tekanan di hilir.
Karena itu, ekonomi sirkular menawarkan cara pandang berbeda, yakni material tidak langsung berakhir sebagai sampah, tetapi dijaga agar tetap bernilai selama mungkin melalui sistem guna ulang yang aman dan terkontrol.
Pada akhirnya, masa depan plastik bukan hanya soal mengurangi penggunaannya. Hal yang tidak kalah penting adalah memperpanjang umur pakainya, menjaga sistem pengelolaannya, dan memastikan material tersebut terus berputar dalam sistem yang lebih efisien.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya