KOMPAS.com - Pariwisata berkelanjutan melalui pengembangan area rendah emisi di kawasan warisan budaya dapat berkontribusi terhadap pencapaian target iklim nasional dalam dokumen Second Nationally Determined Contribution (SNDC).
Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Haruki Agustina mengatakan, dekarbonisasi melalui area rendah emisi di kawasan herritage dilakukan dengan menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) pada subsektor transportasi.
"Ini mungkin bisa dijadikan perencanaan-perencanaan di Yogyakarta dalam konteks subsektor transportasi, sehingga orang tidak menggunakan mobil pada saat di (area rendah emisi di kawasan heritage di Yogyakarta," ujar Haruki dalam webinar Kawasan Rendah Emisi di Kawasan Heritage, Jumat (5/6/2026).
Baca juga: Total Denda Emisi Karbon Selama 2025 Capai Rp1.897 Triliun
Selain melarang penggunaan kendaraan bermotor, kata dia, pengembangan area rendah emisi di kawasan heritage perlu diiringi dengan pembangunan transportasi umum. Namun, transportasi umum untuk peningkatan efisiensi harus tetap mempertimbangkan upaya dekarbonisasi.
Dengan demikian, dekarbonisasi subsektor transportasi menjadi salah satu pilar utama dalam pembangunan rendah karbon untuk daerah-daerah berorientasi pariwisata. Penurunan emisi GRK dari subsektor transportasi akan turut meningkatkan kualitas hidup daerah-daerah tujuan pariwisata.
Berdasarkan data KLH, potensi pengurangan emisi GRK terbesar pada area rendah emisi di kawasan heritage, seperti di Yogyakarta, berasal dari subsektor transportasi, dengan kurang lebih 93 persen untuk kendaraan berbasis darat.
"Memang di Yogyakarta ini pada saat puncak musim, maka akan padat sekali dengan orang hadir untuk menikmati keindahan Yogyakarta. Banyak orang datang dengan berkendara karena aksesnya cukup mudah, kalau dari Jakarta sekitar 5 jam ya, maka orang lebih mudah menggunakan transportasi, sehingga ini salah satu contoh bagaimana nanti aksi-aksi itu didorong kepada sumbernya," tutur Haruki.
Di masa puncak musim untuk kunjungan wisatawan, volume sampah juga akan meningkat, terutama limbah organik yang bisa menghasilkan emisi GRK metana (CH4). Oleh karena itu, area rendah emisi di kawasan heritage perlu juga penguatan tata kelola persampahan. Salah satunya, kebijakan pemerintah daerah untuk memastikan wisatawan tidak membuang sampah sembarangan.
Penurunan emisi GRK yang melampaui target iklim nasional dapat dikompensasikan menjadi nilai ekonomi karbon (NEK), di mana daerah bisa memperoleh insentif finansial melalui berbagai skema. Berdasarkan Perpres 110/2025, NEK bukan hanya ditetapkan dalam konteks untuk ketaatan SNDC, melainkan pula berbagai kemungkinan dukungan pembangunan berkelanjutan melalui pendanaan berbasis karbon dan investasi hijau.
"Ada peluang investasi ya, misalkan dalam bentuk hibah dari donor-donor yang memang tertarik dalam konteks heritage. Ada (juga) potensi perdagangan karbon kalau misalkan tadi ada ekses berbasis kinerja. Maka, nanti ada NEK, sehingga memberikan manfaat bagi provinsi Yogyakarta," ucapnya.
Baca juga: ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme
Menurut Haruki, terdapat beberapa manfaat tambahan dari pengembangan area rendah emisi di kawasan heritage. Pertama, melestarikan melestarikan nilai budaya, sejarah, dan karakter kawasan pusaka. Kedua, meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan melalui pengurangan polusi udara dan kebisingan, serta bersih dari sampah.
Ketiga, menciptakan ruang publik yang lebih nyaman bagi masyarakat dan wisatawan. Keempat, mendukung pencapaian target penurunan emisi GRK sektor energi, terutama dari subsektor transportasi. Kelima, meningkatkan daya tarik wisata.
"Pastinya kalau kota bersih ya, maka orang akan datang pastinya ya. Lalu, nyaman, udaranya bersih, tata kelolanya bersih tidak ada sampah. Nah, ini maka akan memberikan kenyamanan ataupun daya tarik wisata berbasis berkelanjutan atau kita bilang sustainable tourism," ujar Haruki.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya