Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

KKP Gandeng Konservasi Indonesia untuk Perkuat Pendanaan Inovatif

Kompas.com, 8 Juni 2026, 11:56 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Konservasi Indonesia (KI) menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) untuk mengatasi degradasi ekosistem laut, serta memperkuat perlindungan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Dalam kerja sama tersebut, kedua pihak membidik penyempurnaan program pengalihan utang untuk terumbu karang atau Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act (TFCCA) dan pengelolaan Blue Abadi Fund (BAF).

Skema-skema pendanaan alternatif juga dirancang untuk mengatasi kesenjangan anggaran pengelolaan laut yang selama ini kerap menjadi tantangan terbesar di berbagai daerah.

Baca juga: Nelayan di Pesisir Aceh hingga NTT Keluhkan Kesulitan BBM

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara mengatakan, PKS ini menjadi langkah penting untuk memperkuat kolaborasi dalam mendorong pengelolaan kelautan yang berkelanjutan melalui pengembangan berbagai instrumen dan skema pendanaan inovatif.

“Melalui pengembangan skema pendanaan inovatif seperti Blue Halo S dan Manta Impact Bond, kami mendorong penguatan pengelolaan kawasan konservasi, perlindungan spesies laut yang dilindungi dan terancam punah, serta pengelolaan karbon biru sektor kelautan yang lebih produktif. Pada saat yang sama, upaya ini diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir,” ujar Koswara, dalam keterangan tertulis Minggu (7/6/2026).

Ia menganggap, dukung multipihak yang berbasis sains dibutuhkan karena wilayah laut Indonesia sangat luas, dengan berbagai tantangan yang dihadapinya, seperti krisis iklim sampai tekanan terhadap sumber daya kelautan.

Penguatan SDM

Senior Vice President and Executive Chair KI, Meizani Irmadhiany mengatakan, penguatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) di tingkat tapak, termasuk pengakuan terhadap masyarakat adat dan pesisir, menjadi kunci keberhasilan dari seluruh rencana aksi ini.

“Kerusakan ekosistem laut akibat dampak aktivitas yang terekam dalam berbagai ekspedisi ilmiah menunjukkan bahwa pengelolaan laut harus terintegrasi secara utuh. Data sains yang dihasilkan dari peneliti kami ini diharapkan dapat melengkapi ketersediaan data kepada pengelola kawasan,” tutur Meizani.

Sebagai satu kesatuan ekologis yang lintas batas administratif, kata dia, efektivitas perlindungan laut akan sangat ditentukan oleh kesiapan dan kompetensi para pengelolanya.

Melalui kerja sama ini, KI akan membantu masyarakat pesisir mengamankan lumbung pangan  dan menjaga kelestarian spesies laut yang dilindungi dari ancaman degradasi.

Baca juga: Beratnya Penanaman Bibit Mangrove di Pesisir Jakarta akibat Sampah Plastik

Adapun Lokasi prioritas yang disasar meliputi Nias di Sumatra Utara; Bintan di Kepulauan Riau; Wetar di Maluku; Morotai di Maluku Utara; Belu dan Sumba di Nusa Tenggara Timur; Teluk Saleh di Nusa Tenggara Barat; Raja Ampat di Papua Barat Daya; Fakfak dan Kaimana di Papua Barat; sampai Biak-Supiori di Papua.

Di dalam kegiatan peringatan Hari Laut Sedunia di Bali, terdapat pula serangkaian lokakarya yang membahas peta jalan pengelolaan kelautan berbasis masyarakat.

Keterlibatan aktif kelompok masyarakat penggerak (community champions), tokoh masyarakat pesisir, dan kawan laut menjadi penggerak utama dalam kemitraan ini.

Di sektor budi daya, para penggerak lokal di bidang rumput laut Desa Manadang, Kaliuda, Sumba Timur, NTT membagikan praktik terbaik mengenai pengelolaan komoditas bahari yang ramah lingkungan dan bebas dari eksploitasi merusak.

Melalui kolaborasi antara KI dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pembibitan rumput laut berkelanjutan di Pantai Lendunga saat ini telah melipatgandakan kapasitas budi daya petani, dari yang semula hanya memiliki 5 tali bibit, menjadi 185 tali siap panen.

"Kemampuan memproduksi dan menjual bibit unggul secara mandiri ini tidak hanya mendongkrak pendapatan masyarakat Sumba Timur menuju kemandirian desa, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap kelestarian ekosistem pesisir serta perlindungan terumbu karang setempat,” ucap perwakilan BUMDes Manandang Kaliuda, Christiani Valentine.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
Pemerintah
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Pemerintah
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Pemerintah
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
LSM/Figur
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
BUMN
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
Swasta
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
Swasta
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pemerintah
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Pemerintah
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
Pemerintah
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Pemerintah
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Pemerintah
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
Pemerintah
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pemerintah
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau