Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penghidupan Jutaan Orang Asia Tenggara dari Sungai Mekong Terancam Tambang Ilegal di Myanmar

Kompas.com, 22 Juni 2026, 10:47 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Somdet Singthong (69) pasrah dengan nasibnya usai para dokter menemukan kadar arsenik beracun dalam jumlah tinggi di kukur dan urinennya. Logam berat yang terakumulasi dalam tubuh Somdet berasal ikan hasil tangkapannya dari Sungai Mekong.

Warna air sungai yang menjadi sumber kehidupan bagi jutaan orang Asia Tenggara ini sudah berubah cokelat, terkontaminasi limbah aktivitas penambangan ilegal di Myanmar.

Dulu, penduduk setempat biasanya membeli ikan langsung dari Somdet di dermaga dekat Chiang Saen di Thailand utara, di perbatasan dengan Myanmar dan Laos.

Namun, sejak pihak berwenang mendeteksi arsenik dan logam berat lainnya di beberapa anak sungai Mekong tahun lalu, jumlah pelanggan Somdet menyusut, menyebabkan ikan mas dan lele miliknya membusuk.

Baca juga: BRIN: Ikan Tuna akan Lebih Mudah Ditangkap saat El Nino Terjadi

"Aku hanya hidup normal. Aku tidak pernah takut, tetapi penduduk desa lainnya khawatir. Mereka tidak makan ikan, beberapa bahkan tidak mau menyentuhnya sama sekali," ujar Somdet, dilansir dari AFP, Senin (22/6/2026).

Asisten profesor dari Universitas Chiang Mai di Thailand, Wan Wiriya menggambarkan kondisinya sebagai 'bom waktu'. "Karena logam berat meningkatkan risiko jangka panjang, jika Anda terpapar, logam berat akan terakumulasi (dalam tubuh Anda), yang pada akhirnya menyebabkan kanker dan merusak sistem kekebalan tubuh Anda," ucapnya.

Penambangan ilegal

Selama dekade terakhir, ledakan penambangan ilegal telah mengirimkan kontaminan berbahaya, seperti sianida, merkuri, arsenik, dan logam berat lainnya langsung ke sejumlah sungai di seluruh daratan Asia Tenggara.

Pada awal tahun 2025, pengujian di dua anak sungai Mekong oleh akademisi dan otoritas pemerintah Thailand di Provinsi Chiang Mai dan Chiang Rai menunjukkan bahwa pencemaran dari tambang ilegal di Myanmar merusak mata pencaharian di hilir sungai di Thailand.

Saat itu, puluhan ribu orang yang tinggal di sepanjang Sungai Kok dan Sungai Sai-Ruak di Thailand telah berhenti atau mengurangi penggunaan sungai-sungai tersebut. Pada November 2025 lalu, pengujian di Sungai Salween oleh para ilmuwan dan otoritas pemerintah Thailand menemukan kadar arsenik di sana lima kali lebih tinggi dari standar yang aman.

Berdasarkan laporan Stimson pada akhir 2025 lalu, setidaknya ada 549 lokasi pertambangan logam tanah jarang dengan metode pelindian in-situ ilegal di Myanmar.

Baca juga: Mengandung Logam Berat, Efek Konsumsi Ikan Sapu-Sapu Muncul Jangka Panjang

Pelindian in-situ yang dikembangkan di China didesain untuk memenuhi tingginya permintaan unsur tanah jarang, dengan aktivitas pertambangan ilegal berpindah dari Tiongkok selatan ke Negara Bagian Kachin pada 2010-an usai serangkaian reformasi penindakan hukum dari pemerintah China.

Kudeta tahun 2021 menyebabkan perusahaan-perusahaan China penambang ilegal di Myanmar memindahkan operasinya dari Negara Bagian Kachin ke Negara Bagian Shan, di mana kendali junta militer kini semakin terkikis.

Beberapa jenis aktivitas pertambangan ilegal di Myanmar terjadi di daerah aliran sungai, dengan mayoritas mengalir ke hilir melalui Thailand. Misalnya, terdapat 125 tambang di sebagian jalur dari Sungai Salween di Myanmar. Sementara, di Sungai Sai-Ruak dengan 46 tambang dan Sungai Kok sebanyak 3 tambang juga mengalir dari Myanmar ke Thailand sebelum memasuki Mekong.

Penurunan populasi ikan

Merujuk data WWF dan Komisi Sungai Mekong, cekungan Sungai Mekong pernah menopang sekitar 60 juta orang dan menyediakan hingga 25 persen dari hasil tangkapan ikan air tawar dunia. Sebanyak satu dari lima spesies ikan di Sungai Mekong berisiko punah.

Berdasarkan laporan Mekong Dam Monitor tahun 2023–2024 dan penelitian oleh International Rivers, aliran sedimen serta nutrisi sungai telah berkurang drastis.

Baca juga: Populasi Capai 80 Persen di Perairan Jakarta, Pemprov Cari Cara Hilirisasi Ikan Sapu-Sapu

Direktur Regional Asia Pasifik WWF, Lan Mercado mengatakan, penurunan populasi ikan yang mengkhawatirkan di Sungai Mekong merupakan peringatan mendesak untuk bertindak demi menyelamatkan spesies-spesies luar biasa dan sangat penting ini

"(Populasi ikan itu) tidak hanya menopang masyarakat dan ekonomi kawasan, tetapi juga kesehatan ekosistem air tawar Mekong,” ujar Lan Mercado, pada peluncuran laporan tahun 2024 berjudul Ikan-Ikan Mekong yang Terlupakan, dilansir dari Al Jazeera.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Penghidupan Jutaan Orang Asia Tenggara dari Sungai Mekong Terancam Tambang Ilegal di Myanmar
Penghidupan Jutaan Orang Asia Tenggara dari Sungai Mekong Terancam Tambang Ilegal di Myanmar
LSM/Figur
Kunang-kunang Semakin Sulit Dijumpai, Pertanda Apa?
Kunang-kunang Semakin Sulit Dijumpai, Pertanda Apa?
Pemerintah
Pemerintah Perancis Tetapkan Siaga Panas Tertinggi di 35 Wilayah
Pemerintah Perancis Tetapkan Siaga Panas Tertinggi di 35 Wilayah
Pemerintah
Panas Ekstrem Jadi Ancaman Nyata Bagi Kelangsungan Hidup Satwa Liar
Panas Ekstrem Jadi Ancaman Nyata Bagi Kelangsungan Hidup Satwa Liar
LSM/Figur
Formula 1 Kejar Target Ramah Lingkungan
Formula 1 Kejar Target Ramah Lingkungan
Pemerintah
Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh
Studi: Perusahaan Sulit Terapkan Strategi Iklim secara Menyeluruh
Pemerintah
'Langkah Membumi', Memantik Aksi Nyata Generasi Muda untuk Gaya Hidup Berkelanjutan
"Langkah Membumi", Memantik Aksi Nyata Generasi Muda untuk Gaya Hidup Berkelanjutan
Swasta
Dorong Anak Muda Suarakan Gagasan, Lembaga Filantropi Dukung Festival Film Mikro 2026
Dorong Anak Muda Suarakan Gagasan, Lembaga Filantropi Dukung Festival Film Mikro 2026
LSM/Figur
Literasi Keuangan Inklusif Penting untuk Wujudkan Kemandirian Penyandang Disabilitas
Literasi Keuangan Inklusif Penting untuk Wujudkan Kemandirian Penyandang Disabilitas
Pemerintah
Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU
Pengamat: Target PLTS 100 GW di RUPTL Harus Dibarengi Pengurangan PLTU
LSM/Figur
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Pemerintah
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Pemerintah
PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah
PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah
Pemerintah
Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi
Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi
Pemerintah
238 Batang Kayu Ilegal Disembunyikan di Pabrik Humbang Hasundutan Sumut
238 Batang Kayu Ilegal Disembunyikan di Pabrik Humbang Hasundutan Sumut
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau