KOMPAS.com - Somdet Singthong (69) pasrah dengan nasibnya usai para dokter menemukan kadar arsenik beracun dalam jumlah tinggi di kukur dan urinennya. Logam berat yang terakumulasi dalam tubuh Somdet berasal ikan hasil tangkapannya dari Sungai Mekong.
Warna air sungai yang menjadi sumber kehidupan bagi jutaan orang Asia Tenggara ini sudah berubah cokelat, terkontaminasi limbah aktivitas penambangan ilegal di Myanmar.
Dulu, penduduk setempat biasanya membeli ikan langsung dari Somdet di dermaga dekat Chiang Saen di Thailand utara, di perbatasan dengan Myanmar dan Laos.
Namun, sejak pihak berwenang mendeteksi arsenik dan logam berat lainnya di beberapa anak sungai Mekong tahun lalu, jumlah pelanggan Somdet menyusut, menyebabkan ikan mas dan lele miliknya membusuk.
Baca juga: BRIN: Ikan Tuna akan Lebih Mudah Ditangkap saat El Nino Terjadi
"Aku hanya hidup normal. Aku tidak pernah takut, tetapi penduduk desa lainnya khawatir. Mereka tidak makan ikan, beberapa bahkan tidak mau menyentuhnya sama sekali," ujar Somdet, dilansir dari AFP, Senin (22/6/2026).
Asisten profesor dari Universitas Chiang Mai di Thailand, Wan Wiriya menggambarkan kondisinya sebagai 'bom waktu'. "Karena logam berat meningkatkan risiko jangka panjang, jika Anda terpapar, logam berat akan terakumulasi (dalam tubuh Anda), yang pada akhirnya menyebabkan kanker dan merusak sistem kekebalan tubuh Anda," ucapnya.
Selama dekade terakhir, ledakan penambangan ilegal telah mengirimkan kontaminan berbahaya, seperti sianida, merkuri, arsenik, dan logam berat lainnya langsung ke sejumlah sungai di seluruh daratan Asia Tenggara.
Pada awal tahun 2025, pengujian di dua anak sungai Mekong oleh akademisi dan otoritas pemerintah Thailand di Provinsi Chiang Mai dan Chiang Rai menunjukkan bahwa pencemaran dari tambang ilegal di Myanmar merusak mata pencaharian di hilir sungai di Thailand.
Saat itu, puluhan ribu orang yang tinggal di sepanjang Sungai Kok dan Sungai Sai-Ruak di Thailand telah berhenti atau mengurangi penggunaan sungai-sungai tersebut. Pada November 2025 lalu, pengujian di Sungai Salween oleh para ilmuwan dan otoritas pemerintah Thailand menemukan kadar arsenik di sana lima kali lebih tinggi dari standar yang aman.
Berdasarkan laporan Stimson pada akhir 2025 lalu, setidaknya ada 549 lokasi pertambangan logam tanah jarang dengan metode pelindian in-situ ilegal di Myanmar.
Baca juga: Mengandung Logam Berat, Efek Konsumsi Ikan Sapu-Sapu Muncul Jangka Panjang
Pelindian in-situ yang dikembangkan di China didesain untuk memenuhi tingginya permintaan unsur tanah jarang, dengan aktivitas pertambangan ilegal berpindah dari Tiongkok selatan ke Negara Bagian Kachin pada 2010-an usai serangkaian reformasi penindakan hukum dari pemerintah China.
Kudeta tahun 2021 menyebabkan perusahaan-perusahaan China penambang ilegal di Myanmar memindahkan operasinya dari Negara Bagian Kachin ke Negara Bagian Shan, di mana kendali junta militer kini semakin terkikis.
Beberapa jenis aktivitas pertambangan ilegal di Myanmar terjadi di daerah aliran sungai, dengan mayoritas mengalir ke hilir melalui Thailand. Misalnya, terdapat 125 tambang di sebagian jalur dari Sungai Salween di Myanmar. Sementara, di Sungai Sai-Ruak dengan 46 tambang dan Sungai Kok sebanyak 3 tambang juga mengalir dari Myanmar ke Thailand sebelum memasuki Mekong.
Merujuk data WWF dan Komisi Sungai Mekong, cekungan Sungai Mekong pernah menopang sekitar 60 juta orang dan menyediakan hingga 25 persen dari hasil tangkapan ikan air tawar dunia. Sebanyak satu dari lima spesies ikan di Sungai Mekong berisiko punah.
Berdasarkan laporan Mekong Dam Monitor tahun 2023–2024 dan penelitian oleh International Rivers, aliran sedimen serta nutrisi sungai telah berkurang drastis.
Baca juga: Populasi Capai 80 Persen di Perairan Jakarta, Pemprov Cari Cara Hilirisasi Ikan Sapu-Sapu
Direktur Regional Asia Pasifik WWF, Lan Mercado mengatakan, penurunan populasi ikan yang mengkhawatirkan di Sungai Mekong merupakan peringatan mendesak untuk bertindak demi menyelamatkan spesies-spesies luar biasa dan sangat penting ini
"(Populasi ikan itu) tidak hanya menopang masyarakat dan ekonomi kawasan, tetapi juga kesehatan ekosistem air tawar Mekong,” ujar Lan Mercado, pada peluncuran laporan tahun 2024 berjudul Ikan-Ikan Mekong yang Terlupakan, dilansir dari Al Jazeera.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya