KOMPAS.com - Ajang balap mobil Formula 1 paling terkenal karena kecepatannya, teknologinya yang canggih, dan persaingannya yang sengit. Namun, di balik keseruan di lintasan balap, ajang mobil global ini juga sedang tancap gas untuk menjadi lebih ramah lingkungan.
Melansir Know ESG, Jumat (19/6/2026) ini telah memasang target besar, yaitu mencapai bebas polusi pada tahun 2030. Menurut Formula 1, kemajuan nyata sudah terlihat.
Jumlah emisi mereka telah turun sebesar 35 persen dibandingkan tahun 2018, termasuk penurunan 12 persen yang tercatat pada tahun 2025 kemarin dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Hebatnya lagi, pencapaian ini berhasil diraih justru di saat industri mereka sedang berkembang pesat. Jadwal balapan Formula 1 terus bertambah, dari yang tadinya hanya 21 balapan di tahun 2018 menjadi 24 balapan saat ini. Bertambahnya balapan otomatis membuat perjalanan dan pengiriman logistik keliling dunia menjadi jauh lebih banyak.
Faktor terbesar yang membantu penurunan polusi ini adalah penggunaan sertifikat bahan bakar penerbangan ramah lingkungan (SAF). Sertifikat ini memungkinkan sebuah organisasi untuk mendukung pembuatan serta penggunaan bahan bakar ramah lingkungan tersebut, sekaligus mendapatkan hak klaim atas pengurangan polusi yang dihasilkan.
Sejak tahun 2018, Formula 1 menyatakan telah menghapus lebih dari 80.000 ton polusi karbon berkat penggunaan SAF, peralihan ke tenaga listrik, serta alternatif rendah karbon lainnya.
Baca juga: Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
Mengangkut mobil balap, peralatan tim, alat siaran televisi, hingga seluruh staf keliling benua masih menjadi salah satu tantangan lingkungan terbesar bagi Formula 1. Untuk mengatasinya, organisasi ini mendesain ulang strategi pengiriman barang mereka.
Formula 1 berencana memindahkan setengah dari peralatan siaran dan barang terkait lainnya menggunakan kapal laut atau lewat pusat logistik wilayah, guna mengurangi ketergantungan pada pesawat terbang.
Formula 1 bersama mitra logistiknya, DHL, juga terus meningkatkan investasi pada bahan bakar kapal laut yang ramah lingkungan serta memperbanyak penggunaan truk yang berbahan bakar nabati.
Ellen Jones, Kepala ESG di Formula 1, mengatakan bahwa kelestarian lingkungan kini menjadi pertimbangan utama dalam operasional balapan maupun pelaksanaan acara.
Ia menyebutkan bahwa peningkatan investasi pada bahan bakar yang lebih bersih dan solusi transportasi sangat membantu Formula 1 mengurangi polusi, sekaligus mendorong masyarakat luas untuk ikut menggunakan teknologi baru yang bermunculan ini.
Penyempurnaan lebih lanjut diharapkan terwujud melalui Program Operasional Balapan Masa Depan milik Formula 1 serta jadwal balapan yang diatur lebih rapi berdasarkan wilayah mulai tahun 2026 ini, yang dirancang untuk memperpendek jarak perjalanan antarnegara.
Formula 1 juga menggunakan acara balapan sebagai tempat uji coba bagi berbagai teknologi baru yang nantinya bisa bermanfaat bagi industri-industri lainnya.
Bekerja sama dengan penyedia solusi energi Aggreko, Formula 1 mulai memperbanyak penggunaan bahan bakar dari minyak nabati, sistem tenaga surya, serta baterai penyimpanan energi di balapan-balapan wilayah Eropa.
Sistem energi sementara ini membantu menurunkan polusi tanpa harus membangun fasilitas permanen yang mahal di sirkuit-sirkuit yang hanya menggelar acara beberapa kali dalam setahun.
Presiden dan CEO Formula 1, Stefano Domenicali mengungkapkan Formula 1 tetap berada di jalur yang benar untuk mencapai target iklimnya melalui tindakan nyata dan hasil yang bisa diukur.
Ia menekankan bahwa investasi pada bahan bakar yang lebih bersih, teknologi energi alternatif, serta perbaikan cara kerja operasional adalah pendorong utama dari kemajuan ini.
Baca juga: Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar
Upaya Formula 1 untuk menjaga kelestarian lingkungan tidak hanya dilakukan oleh pihak penyelenggara balapan. Tim-tim balap yang bertanding pun ikut mengambil langkah nyata untuk mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan.
Tim Formula 1 Mercedes-AMG Petronas baru-baru ini mulai menggunakan truk bertenaga listrik penuh, yaitu eActros 600, untuk mengangkut peralatan mereka di balapan-balapan wilayah Eropa.
Sementara itu, McLaren Racing berkomitmen untuk menghapus semua polusi dari perjalanan pesawat mereka menggunakan sertifikat bahan bakar ramah lingkungan serta terus bekerja keras membuat mobil Formula 1 yang bahannya berasal dari hasil daur ulang dan bisa didaur ulang kembali.
DHL juga terus memperluas kemampuannya dalam bidang pengiriman barang menggunakan energi baru, demi memenuhi tingginya permintaan akan solusi transportasi yang ramah lingkungan.
Seiring dengan Formula 1 yang terus berkembang di seluruh dunia, perubahan cara mereka dalam mengurangi polusi karbon, mengatur pengiriman barang yang ramah lingkungan, serta menggunakan energi alternatif membuktikan bahwa olahraga dengan performa tinggi dan tanggung jawab menjaga alam bisa berjalan maju bersama-sama.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya