Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis

Kompas.com, 25 Juni 2026, 13:16 WIB
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

 

KOMPAS.com - Agenda dekarbonisasi dan transisi menuju ekonomi hijau kini bukan lagi sekadar komitmen moral, melainkan penggerak utama transformasi industri global.

Di tengah tuntutan pasar yang semakin ketat terhadap penerapan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG), pemenuhan standar keberlanjutan menjadi kunci utama dalam meningkatkan daya saing industri nasional di kancah domestik maupun global.

Dalam ekosistem keberlanjutan ini, instrumen akreditasi serta sistem Testing, Inspection, Certification, Verification, and Assurance (TICVA) memegang peran krusial.

Transparansi dan tata kelola yang akuntabel hanya dapat dicapai jika proses pemantauan dampak lingkungan didasarkan pada pemenuhan standar yang kredibel.

Salah satu sektor yang menjadi jantung dari agenda ini adalah pasar karbon nasional melalui kerangka Nilai Ekonomi Karbon (NEK).

Indonesia memiliki modal kuat dengan hadirnya infrastruktur domestik seperti Lembaga Validasi dan Verifikasi (LVV) pertama terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) dengan nomor LVV-001-IDN, yaitu PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU).

Sebagai salah satu dari sedikit lembaga aktif beroperasi di ruang lingkup NEK, institusi ini mengintegrasikan kapabilitas validasi dan verifikasi (V&V) berstandar internasional dalam kerangka Measurement, Reporting, and Verification (MRV).

Langkah ini menjadi instrumen penting bagi pemerintah dan sektor industri untuk mempercepat tercapainya target pengurangan emisi.

Selain penguatan pada pasar emisi dan dekarbonisasi, perluasan prinsip keberlanjutan juga mulai menyentuh sektor pemenuhan kebutuhan pangan dan gaya hidup.

Sektor potensial seperti industri halal serta food and beverage (F&B) nasional kini dituntut memiliki sistem sertifikasi, inspeksi, dan jaminan mutu yang kuat.

Integrasi antara kepatuhan syariah dan standardisasi keamanan pangan yang diakui secara internasional menjadi dimensi baru dalam membangun ekosistem ekonomi berkelanjutan yang inklusif di Indonesia.

Urgensi dan kuatnya fondasi bisnis yang berbasis pada agenda ekonomi hijau ini pada akhirnya menarik perhatian besar dari komunitas investasi.

Sinyal positif ini terlihat dari langkah strategis PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU) yang tengah bersiap memasuki fase pertumbuhan baru melalui aksi Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement.

Aksi korporasi ini mendapat dukungan dari sejumlah investor strategis nasional dan regional yang melihat potensi besar pada bisnis berbasis ESG, di antaranya pengusaha nasional Sandiaga Salahuddin Uno yang berpartisipasi melalui PT Samala Serasi Utama (SSU), perusahaan investasi yang terafiliasi bersama mitra bisnisnya, Tsamanov dan PT Bumi Hijau Sedaya. 

Menurut Sandiaga Uno, kebutuhan terhadap layanan sertifikasi, verifikasi, dan assurance
terus meningkat seiring transformasi industri global yang semakin menitikberatkan aspek
keberlanjutan, transparansi, dan tata kelola.

"Kami melihat MUTU sebagai institusi yang memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem ekonomi berkelanjutan di Indonesia," ujar Sandiaga Uno.

Baca juga: Perluas Pemanfaatan PLTS di Kapal Pengangkut Minyak, Pertamina Pangkas Emisi 79 Ton Karbon per Tahun

Selain itu, mantan CEO Grab Indonesia dan COO AirAsia Indonesia, Ridzki D. Kramadibrata, juga turut bergabung sebagai investor strategis.

Kehadiran para tokoh bisnis ini mempertegas sektor yang mendukung keberlanjutan lingkungan hidup kini memiliki nilai valusai tinggi dan daya tarik investasi prospektif guna mendukung daya saing industri Indonesia menuju masa depan lebih hijau.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Pemerintah
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Pemerintah
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Pemerintah
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Swasta
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Pemerintah
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Pemerintah
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
BUMN
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
Pemerintah
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau