Penulis
KOMPAS.com - Agenda dekarbonisasi dan transisi menuju ekonomi hijau kini bukan lagi sekadar komitmen moral, melainkan penggerak utama transformasi industri global.
Di tengah tuntutan pasar yang semakin ketat terhadap penerapan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG), pemenuhan standar keberlanjutan menjadi kunci utama dalam meningkatkan daya saing industri nasional di kancah domestik maupun global.
Dalam ekosistem keberlanjutan ini, instrumen akreditasi serta sistem Testing, Inspection, Certification, Verification, and Assurance (TICVA) memegang peran krusial.
Transparansi dan tata kelola yang akuntabel hanya dapat dicapai jika proses pemantauan dampak lingkungan didasarkan pada pemenuhan standar yang kredibel.
Salah satu sektor yang menjadi jantung dari agenda ini adalah pasar karbon nasional melalui kerangka Nilai Ekonomi Karbon (NEK).
Indonesia memiliki modal kuat dengan hadirnya infrastruktur domestik seperti Lembaga Validasi dan Verifikasi (LVV) pertama terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) dengan nomor LVV-001-IDN, yaitu PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU).
Sebagai salah satu dari sedikit lembaga aktif beroperasi di ruang lingkup NEK, institusi ini mengintegrasikan kapabilitas validasi dan verifikasi (V&V) berstandar internasional dalam kerangka Measurement, Reporting, and Verification (MRV).
Langkah ini menjadi instrumen penting bagi pemerintah dan sektor industri untuk mempercepat tercapainya target pengurangan emisi.
Selain penguatan pada pasar emisi dan dekarbonisasi, perluasan prinsip keberlanjutan juga mulai menyentuh sektor pemenuhan kebutuhan pangan dan gaya hidup.
Sektor potensial seperti industri halal serta food and beverage (F&B) nasional kini dituntut memiliki sistem sertifikasi, inspeksi, dan jaminan mutu yang kuat.
Integrasi antara kepatuhan syariah dan standardisasi keamanan pangan yang diakui secara internasional menjadi dimensi baru dalam membangun ekosistem ekonomi berkelanjutan yang inklusif di Indonesia.
Urgensi dan kuatnya fondasi bisnis yang berbasis pada agenda ekonomi hijau ini pada akhirnya menarik perhatian besar dari komunitas investasi.
Sinyal positif ini terlihat dari langkah strategis PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU) yang tengah bersiap memasuki fase pertumbuhan baru melalui aksi Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement.
Aksi korporasi ini mendapat dukungan dari sejumlah investor strategis nasional dan regional yang melihat potensi besar pada bisnis berbasis ESG, di antaranya pengusaha nasional Sandiaga Salahuddin Uno yang berpartisipasi melalui PT Samala Serasi Utama (SSU), perusahaan investasi yang terafiliasi bersama mitra bisnisnya, Tsamanov dan PT Bumi Hijau Sedaya.
Menurut Sandiaga Uno, kebutuhan terhadap layanan sertifikasi, verifikasi, dan assurance
terus meningkat seiring transformasi industri global yang semakin menitikberatkan aspek
keberlanjutan, transparansi, dan tata kelola.
"Kami melihat MUTU sebagai institusi yang memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem ekonomi berkelanjutan di Indonesia," ujar Sandiaga Uno.
Baca juga: Perluas Pemanfaatan PLTS di Kapal Pengangkut Minyak, Pertamina Pangkas Emisi 79 Ton Karbon per Tahun
Selain itu, mantan CEO Grab Indonesia dan COO AirAsia Indonesia, Ridzki D. Kramadibrata, juga turut bergabung sebagai investor strategis.
Kehadiran para tokoh bisnis ini mempertegas sektor yang mendukung keberlanjutan lingkungan hidup kini memiliki nilai valusai tinggi dan daya tarik investasi prospektif guna mendukung daya saing industri Indonesia menuju masa depan lebih hijau.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya