KOMPAS.com - Sebuah studi baru dari para peneliti di MIT dan University of Leicester menunjukkan bahwa keseimbangan antara perubahan lingkungan dan kemampuan makhluk hidup untuk beradaptasi adalah salah satu faktor paling penting yang menentukan apakah suatu spesies akan bertahan hidup atau punah.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Physical Review Letters ini memberikan sudut pandang baru mengenai penyebab peristiwa kepunahan massal yang pernah terjadi dalam sejarah bumi.
Melansir Know ESG, Kamis (25/6/2026) temuan studi menunjukkan bahwa ketika kondisi lingkungan berubah jauh lebih cepat daripada kemampuan makhluk hidup untuk menyesuaikan diri, maka risiko kepunahan akan melonjak sangat tajam.
Para ilmuwan sudah lama tahu bahwa suatu jenis hewan atau tumbuhan akan kesulitan bertahan hidup jika lingkungan di sekitarnya berubah dengan cepat.
Namun, studi baru ini menunjukkan bahwa aturan yang sama juga berlaku untuk seluruh dunia, sehingga membantu menjelaskan beberapa peristiwa kepunahan terbesar yang pernah tercatat dalam 450 juta tahun terakhir.
Baca juga: 50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
Tim peneliti membuat sebuah rumus matematika berdasarkan teori yang disebut hipotesis ketidakcocokan kecepatan (rate mismatch hypothesis).
Ide dasarnya sebenarnya sederhana yakni makhluk hidup akan selamat jika kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri bisa mengimbangi kecepatan perubahan lingkungan. Ketika alam berubah terlalu cepat, banyak makhluk hidup gagal menyesuaikan diri dan akhirnya lenyap.
Untuk menguji teori tersebut, para peneliti memeriksa 27 masa penting dalam sejarah bumi ketika siklus karbon mengalami gangguan besar. Peristiwa gangguan karbon ini dianggap sebagai tanda adanya perubahan lingkungan dalam skala raksasa. Tim peneliti kemudian membandingkan masa-masa tersebut dengan catatan fosil hewan dan tumbuhan yang punah di masa lalu.
Hasilnya menunjukkan pola yang sangat jelas. Hampir setiap peristiwa kepunahan massal terbesar terjadi pada masa ketika perubahan lingkungan berjalan jauh lebih cepat daripada kemampuan hewan untuk menyesuaikan diri.
Makin besar ketidakcocokan kecepatannya, makin parah pula kepunahan yang terjadi.
Menurut para peneliti, sebagian besar kelompok hewan memiliki kecepatan beradaptasi yang hampir mirip satu sama lain. Menariknya, kecepatan ini sangat cocok dengan laju perubahan alam yang biasanya terjadi di sepanjang sejarah bumi.
Hal ini menunjukkan bahwa makhluk hidup kemungkinan besar telah berevolusi untuk menghadapi tekanan alam yang wajar, tetapi akan langsung kewalahan jika tekanan tersebut melewati batas tertentu.
Salah satu contohnya adalah kepunahan akhir zaman Permian, yang sering dianggap sebagai peristiwa kepunahan paling parah dalam sejarah bumi. Para ilmuwan meyakini bahwa asam air laut meningkat sangat cepat saat itu, sehingga banyak makhluk laut tidak sempat membangun pertahanan tubuh yang diperlukan. Akibatnya, lebih dari 80 persen makhluk hidup di laut lenyap dan punah.
Studi ini juga menyoroti betapa pentingnya masalah hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan iklim saat ini. Meskipun rumus ini awalnya dibuat untuk menjelaskan kejadian masa lalu, para peneliti yakin rumus ini juga bisa membantu mengukur risiko kepunahan di zaman modern.
Baca juga: Begini Nasib Hewan dan Tumbuhan Pasca Ledakan Nuklir Chernobyl
Kenaikan kadar karbon dioksida saat ini telah mendorong perubahan lingkungan dengan kecepatan yang mirip seperti yang terjadi sebelum peristiwa kepunahan massal di masa lalu.
Walaupun kondisi bumi hari ini berbeda, temuan ini menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi terlalu cepat dapat memberikan tekanan yang makin besar pada ekosistem di seluruh dunia.
Para peneliti mengatakan bahwa hasil kerja mereka memberikan cara pandang baru untuk memahami bagaimana kemampuan adaptasi makhluk hidup berhadapan dengan kekuatan perubahan alam global.
Di saat perubahan iklim terus mengubah bentuk ekosistem, memahami batasan adaptasi ini bisa menjadi sangat penting untuk melindungi keanekaragaman hayati dan mengurangi risiko kepunahan di masa depan.
Studi ini memperkuat sebuah pesan yang sederhana namun sangat kuat: ketika perubahan lingkungan bergerak lebih cepat daripada kemampuan makhluk hidup untuk menyesuaikan diri, akibat yang ditimbulkan bisa sangat fatal, mendalam, dan berdampak luas bagi semua kehidupan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya