Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gelombang Panas Picu Risiko Ekonomi Struktural di Eropa, Produktivitas Anjlok dan Jam Kerja Diubah

Kompas.com, 16 Juli 2026, 10:36 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga mulai menggerus produktivitas tenaga kerja dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Para ekonom memperingatkan bahwa krisis iklim berpotensi menjadi hambatan struktural bagi perekonomian kawasan tersebut.

Ekonom iklim Oxford Economics, Robert Marks, mengatakan suhu yang mencapai kisaran 30 hingga 40 derajat Celsius berpotensi menimbulkan penurunan produktivitas secara signifikan, terutama di sektor-sektor yang mengandalkan aktivitas di luar ruangan atau lingkungan kerja tanpa perlindungan terhadap panas.

Baca juga: Gelombang Panas Bikin 57 Juta Hektar Hutan Tropis Kehilangan Kemampuan Fotosintesis

"Sektor-sektor ini mewakili 27 persen aktivitas ekonomi di Inggris dan rata-rata 35 persen di Eropa Barat. Gelombang panas selama empat hari dapat mengurangi pertumbuhan produktivitas tenaga kerja triwulanan sebesar 1,5 poin persentase di Inggris dan hingga dua poin persentase di Eropa Barat," ujar Marks, dikutip dari The Guardian, Kamis (16/7/2026).

Menurut dia, sektor konstruksi, pertanian, manufaktur, ritel, hingga perhotelan menjadi yang paling rentan karena banyak pekerja harus tetap beraktivitas di bawah paparan suhu tinggi.

Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Kantor Tenaga Kerja Internasional (ILO) yang memperkirakan kehilangan jam kerja terbesar di Eropa Barat, Utara, dan Selatan pada 2030 akan terjadi di sektor pertanian dan konstruksi akibat meningkatnya tekanan panas.

Kerugian ekonomi membengkak

Selain menekan produktivitas, gelombang panas juga diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi dalam skala besar.

Penelitian Allianz menyebutkan bahwa panas ekstrem kini menjadi risiko ekonomi struktural baru bagi Eropa. Prancis, Spanyol, dan Italia termasuk negara yang paling rentan terhadap peningkatan biaya ekonomi akibat tekanan panas.

Produktivitas tenaga kerja diketahui turun tajam ketika suhu melampaui 30 derajat Celsius. Pada saat yang sama, kebutuhan energi untuk mendinginkan bangunan dan mesin meningkat sehingga menambah beban biaya operasional.

Dalam skenario terburuk, Prancis diperkirakan kehilangan output ekonomi hingga 240 miliar dollar AS atau sekitar Rp 4.339 triliun sepanjang 2026-2030. Sementara itu, potensi kerugian ekonomi Italia diperkirakan mencapai sekitar Rp 2.654 triliun dan Spanyol sekitar Rp 2.167 triliun.

Baca juga: Kota-kota di Eropa Kekurangan Tempat Berteduh Saat Gelombang Panas Ekstrem Melanda

"Panas ekstrem merugikan kita semua sebagai pekerja, pelaku usaha, maupun pembayar pajak. Negara yang mampu beradaptasi akan berada pada posisi lebih baik dibandingkan negara yang menunggu. Sudah saatnya panas ekstrem dipandang sebagai tantangan kebijakan ekonomi jangka panjang, bukan sekadar masalah musiman," ujar Kepala Penelitian Tematik dan Kebijakan Allianz Investment Management, Katharina Utermöhl.

Pekerja luar ruangan paling rentan

Gelombang panas juga memperlihatkan kesenjangan perlindungan antara pekerja yang dapat bekerja dari rumah dan mereka yang harus tetap berada di lapangan.

Pekerja pertanian, konstruksi, hingga kurir pengantaran menghadapi risiko terbesar akibat paparan suhu tinggi.

Peneliti senior Teagasc, David Meredith, mengatakan penyesuaian jam kerja mulai banyak diterapkan di sejumlah negara Eropa untuk mengurangi risiko kesehatan pekerja.

"Kami mulai melihat pola tersebut di Eropa," ujarnya, dikutip dari The Parliament Magazine.

Namun, menurut Meredith, praktik tersebut belum diterapkan secara luas, terutama di wilayah selatan Spanyol dan Italia. Salah satu kendalanya ialah rantai pasok pangan yang membuat petani sulit mengubah jadwal produksi karena harus memenuhi permintaan supermarket.

"Ada banyak cara untuk beradaptasi, tetapi seluruh rantai nilai pangan perlu ikut mempertimbangkan tantangan ini," katanya.

Eurostat memperkirakan sedikitnya 17 juta orang bekerja di sektor pertanian di Uni Eropa. Jumlah sebenarnya diperkirakan lebih besar karena masih banyak pekerja informal yang belum tercatat.

Aturan suhu kerja kembali diperdebatkan

Gelombang panas juga memicu perdebatan mengenai perlindungan pekerja. Di Inggris, peraturan ketenagakerjaan hanya menetapkan batas suhu minimum di tempat kerja, yakni 16 derajat Celsius untuk pekerjaan kantor dan 13 derajat Celsius bagi pekerjaan fisik berat. Hingga kini belum ada ketentuan mengenai batas suhu maksimum.

Health and Safety Executive (HSE) hanya mengeluarkan pedoman agar pemberi kerja menjaga suhu lingkungan kerja tetap "wajar", menjadwalkan pekerjaan pada waktu yang lebih sejuk, menyediakan waktu istirahat lebih sering, serta memastikan pekerja memperoleh akses air minum dingin.

Baca juga: Dampak Gelombang Panas Eropa, Pabrik AC di China Beroperasi 24 Jam

Direktur Profesi Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD), David D'Souza, mengatakan tidak semua organisasi memiliki fleksibilitas untuk menerapkan pengaturan kerja tersebut.

"Banyak pekerjaan tetap harus dilakukan di lokasi atau mengharuskan pekerja mengenakan alat pelindung khusus. Dalam situasi seperti ini, fleksibilitas akan menguntungkan kedua belah pihak," ujarnya.

Sejumlah negara mulai mengambil langkah adaptasi. Di Italia, misalnya, Pemerintah Wilayah Lazio melarang pekerja konstruksi dan kurir makanan bekerja di luar ruangan pada pukul 12.30 hingga 16.00 saat status siaga merah diberlakukan.

Di Inggris, sejumlah pemerintah daerah juga memajukan jadwal pengangkutan sampah agar pekerja terhindar dari suhu tertinggi pada siang hari.

Meski demikian, serikat pekerja di Inggris menilai pedoman yang ada belum memadai dan kembali mendesak pemerintah menetapkan batas suhu maksimum di tempat kerja. Namun, usulan tersebut masih mendapat penolakan dari pemerintah maupun kalangan pelaku usaha.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gelombang Panas Picu Risiko Ekonomi Struktural di Eropa, Produktivitas Anjlok dan Jam Kerja Diubah
Gelombang Panas Picu Risiko Ekonomi Struktural di Eropa, Produktivitas Anjlok dan Jam Kerja Diubah
Pemerintah
Pakar: Populasi Kerbau di Indonesia Semakin Menurun di Tengah Mekanisasi Pertanian
Pakar: Populasi Kerbau di Indonesia Semakin Menurun di Tengah Mekanisasi Pertanian
Pemerintah
Ketika Industri Nikel Tumbuh Melampaui Kesiapan Infrastruktur
Ketika Industri Nikel Tumbuh Melampaui Kesiapan Infrastruktur
LSM/Figur
Kurangi Emisi Pertanian, Pesan Kesehatan Dinilai Lebih Efektif ketimbang Isu Iklim
Kurangi Emisi Pertanian, Pesan Kesehatan Dinilai Lebih Efektif ketimbang Isu Iklim
LSM/Figur
KLH Minta Pemda Waspadai Celah Kerugian Bisnis Perdagangan Karbon
KLH Minta Pemda Waspadai Celah Kerugian Bisnis Perdagangan Karbon
Pemerintah
Siswa SMAN 9 Manado Olah Limbah Tulang Ayam Jadi Peredam Suara
Siswa SMAN 9 Manado Olah Limbah Tulang Ayam Jadi Peredam Suara
Swasta
Gelombang Panas Bikin 57 Juta Hektar Hutan Tropis Kehilangan Kemampuan Fotosintesis
Gelombang Panas Bikin 57 Juta Hektar Hutan Tropis Kehilangan Kemampuan Fotosintesis
LSM/Figur
Ekspansi Pusat Data AI Bikin Emisi Karbon Microsoft Melonjak 25 Persen
Ekspansi Pusat Data AI Bikin Emisi Karbon Microsoft Melonjak 25 Persen
Pemerintah
Deloitte Rilis Metode Baru untuk Ukur Nilai Investasi Keberlanjutan
Deloitte Rilis Metode Baru untuk Ukur Nilai Investasi Keberlanjutan
Pemerintah
Urgensi Membangun Tata Kelola Transparan Sejak di Tingkat Tapak
Urgensi Membangun Tata Kelola Transparan Sejak di Tingkat Tapak
Pemerintah
'Ecomystic' dan Konstitusi Lingkungan Kurang Berdaya
"Ecomystic" dan Konstitusi Lingkungan Kurang Berdaya
Pemerintah
Maybank Marathon Bidik Ajang Lari Netral Karbon pada 2030
Maybank Marathon Bidik Ajang Lari Netral Karbon pada 2030
Swasta
IPB Kembangkan Empat Varietas Cabai Superpedas Lokal Pertama Indonesia
IPB Kembangkan Empat Varietas Cabai Superpedas Lokal Pertama Indonesia
Pemerintah
ITS Kembangkan Traktor Perahu Listrik, Ubah Pertanian di Lahan Gambut Jadi Lebih Ramah Lingkungan
ITS Kembangkan Traktor Perahu Listrik, Ubah Pertanian di Lahan Gambut Jadi Lebih Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Satu Abad Panas Bumi Indonesia, Pemanfaatannya Didorong Tak Lagi Sekadar untuk Listrik
Satu Abad Panas Bumi Indonesia, Pemanfaatannya Didorong Tak Lagi Sekadar untuk Listrik
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau