KOMPAS.com - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga mulai menggerus produktivitas tenaga kerja dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Para ekonom memperingatkan bahwa krisis iklim berpotensi menjadi hambatan struktural bagi perekonomian kawasan tersebut.
Ekonom iklim Oxford Economics, Robert Marks, mengatakan suhu yang mencapai kisaran 30 hingga 40 derajat Celsius berpotensi menimbulkan penurunan produktivitas secara signifikan, terutama di sektor-sektor yang mengandalkan aktivitas di luar ruangan atau lingkungan kerja tanpa perlindungan terhadap panas.
Baca juga: Gelombang Panas Bikin 57 Juta Hektar Hutan Tropis Kehilangan Kemampuan Fotosintesis
"Sektor-sektor ini mewakili 27 persen aktivitas ekonomi di Inggris dan rata-rata 35 persen di Eropa Barat. Gelombang panas selama empat hari dapat mengurangi pertumbuhan produktivitas tenaga kerja triwulanan sebesar 1,5 poin persentase di Inggris dan hingga dua poin persentase di Eropa Barat," ujar Marks, dikutip dari The Guardian, Kamis (16/7/2026).
Menurut dia, sektor konstruksi, pertanian, manufaktur, ritel, hingga perhotelan menjadi yang paling rentan karena banyak pekerja harus tetap beraktivitas di bawah paparan suhu tinggi.
Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Kantor Tenaga Kerja Internasional (ILO) yang memperkirakan kehilangan jam kerja terbesar di Eropa Barat, Utara, dan Selatan pada 2030 akan terjadi di sektor pertanian dan konstruksi akibat meningkatnya tekanan panas.
Selain menekan produktivitas, gelombang panas juga diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi dalam skala besar.
Penelitian Allianz menyebutkan bahwa panas ekstrem kini menjadi risiko ekonomi struktural baru bagi Eropa. Prancis, Spanyol, dan Italia termasuk negara yang paling rentan terhadap peningkatan biaya ekonomi akibat tekanan panas.
Produktivitas tenaga kerja diketahui turun tajam ketika suhu melampaui 30 derajat Celsius. Pada saat yang sama, kebutuhan energi untuk mendinginkan bangunan dan mesin meningkat sehingga menambah beban biaya operasional.
Dalam skenario terburuk, Prancis diperkirakan kehilangan output ekonomi hingga 240 miliar dollar AS atau sekitar Rp 4.339 triliun sepanjang 2026-2030. Sementara itu, potensi kerugian ekonomi Italia diperkirakan mencapai sekitar Rp 2.654 triliun dan Spanyol sekitar Rp 2.167 triliun.
Baca juga: Kota-kota di Eropa Kekurangan Tempat Berteduh Saat Gelombang Panas Ekstrem Melanda
"Panas ekstrem merugikan kita semua sebagai pekerja, pelaku usaha, maupun pembayar pajak. Negara yang mampu beradaptasi akan berada pada posisi lebih baik dibandingkan negara yang menunggu. Sudah saatnya panas ekstrem dipandang sebagai tantangan kebijakan ekonomi jangka panjang, bukan sekadar masalah musiman," ujar Kepala Penelitian Tematik dan Kebijakan Allianz Investment Management, Katharina Utermöhl.
Gelombang panas juga memperlihatkan kesenjangan perlindungan antara pekerja yang dapat bekerja dari rumah dan mereka yang harus tetap berada di lapangan.
Pekerja pertanian, konstruksi, hingga kurir pengantaran menghadapi risiko terbesar akibat paparan suhu tinggi.
Peneliti senior Teagasc, David Meredith, mengatakan penyesuaian jam kerja mulai banyak diterapkan di sejumlah negara Eropa untuk mengurangi risiko kesehatan pekerja.
"Kami mulai melihat pola tersebut di Eropa," ujarnya, dikutip dari The Parliament Magazine.
Namun, menurut Meredith, praktik tersebut belum diterapkan secara luas, terutama di wilayah selatan Spanyol dan Italia. Salah satu kendalanya ialah rantai pasok pangan yang membuat petani sulit mengubah jadwal produksi karena harus memenuhi permintaan supermarket.
"Ada banyak cara untuk beradaptasi, tetapi seluruh rantai nilai pangan perlu ikut mempertimbangkan tantangan ini," katanya.
Eurostat memperkirakan sedikitnya 17 juta orang bekerja di sektor pertanian di Uni Eropa. Jumlah sebenarnya diperkirakan lebih besar karena masih banyak pekerja informal yang belum tercatat.
Gelombang panas juga memicu perdebatan mengenai perlindungan pekerja. Di Inggris, peraturan ketenagakerjaan hanya menetapkan batas suhu minimum di tempat kerja, yakni 16 derajat Celsius untuk pekerjaan kantor dan 13 derajat Celsius bagi pekerjaan fisik berat. Hingga kini belum ada ketentuan mengenai batas suhu maksimum.
Health and Safety Executive (HSE) hanya mengeluarkan pedoman agar pemberi kerja menjaga suhu lingkungan kerja tetap "wajar", menjadwalkan pekerjaan pada waktu yang lebih sejuk, menyediakan waktu istirahat lebih sering, serta memastikan pekerja memperoleh akses air minum dingin.
Baca juga: Dampak Gelombang Panas Eropa, Pabrik AC di China Beroperasi 24 Jam
Direktur Profesi Chartered Institute of Personnel and Development (CIPD), David D'Souza, mengatakan tidak semua organisasi memiliki fleksibilitas untuk menerapkan pengaturan kerja tersebut.
"Banyak pekerjaan tetap harus dilakukan di lokasi atau mengharuskan pekerja mengenakan alat pelindung khusus. Dalam situasi seperti ini, fleksibilitas akan menguntungkan kedua belah pihak," ujarnya.
Sejumlah negara mulai mengambil langkah adaptasi. Di Italia, misalnya, Pemerintah Wilayah Lazio melarang pekerja konstruksi dan kurir makanan bekerja di luar ruangan pada pukul 12.30 hingga 16.00 saat status siaga merah diberlakukan.
Di Inggris, sejumlah pemerintah daerah juga memajukan jadwal pengangkutan sampah agar pekerja terhindar dari suhu tertinggi pada siang hari.
Meski demikian, serikat pekerja di Inggris menilai pedoman yang ada belum memadai dan kembali mendesak pemerintah menetapkan batas suhu maksimum di tempat kerja. Namun, usulan tersebut masih mendapat penolakan dari pemerintah maupun kalangan pelaku usaha.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya