Menurut Haya, kombinasi ampas kopi Gayo dan nanopartikel ZnO menghasilkan kemampuan penghambatan mikroba paling tinggi sehingga berpotensi dikembangkan sebagai active packaging atau kemasan pangan aktif yang tidak hanya melindungi produk secara fisik, tetapi juga membantu menjaga kualitas dan keamanannya.
Baca juga: 4 Biji Kopi Terbaik di Asia Versi Taste Atlas 2026, Nomor 1 dari Aceh
Bagi Haya, pemanfaatan limbah ampas kopi bukan sekadar menghasilkan material baru.
Lebih dari itu, inovasi tersebut dapat meningkatkan nilai tambah limbah organik sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan biomaterial lokal.
"Penelitian ini membuka peluang pemanfaatan biomaterial lokal dengan sifat mekanik, penghalang, perlindungan UV, dan antibakteri yang lebih baik untuk mendukung inovasi kemasan pangan masa depan," ujarnya.
Pengembangan material ramah lingkungan seperti ini sejalan dengan arah riset BRIN yang semakin berfokus pada solusi atas berbagai persoalan lingkungan.
Sebelumnya, Kepala BRIN Arif Satria mengatakan lembaganya akan terus mendorong pemanfaatan limbah organik sebagai bagian dari upaya mendukung transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Menurut Arif, Indonesia membutuhkan lebih banyak inovasi yang mampu mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan volume sampah.
"BRIN berfokus membawa dampak bagi keberlanjutan, dampak bagi kemajuan bangsa Indonesia," ujar Arif kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.
Selain mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah berbasis komunitas, BRIN juga mengembangkan berbagai teknologi untuk mendukung industri yang lebih bersih, termasuk mengubah limbah dan polutan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya