KOMPAS.com - Pasar penyimpanan energi baterai diperkirakan akan melonjak 6 kali lipat di seluruh dunia pada akhir dekade ini, dengan China dan Amerika Serikat sebagai pemimpin terdepan.
Hal tersebut disampaikan dalam laporan terbaru dari lembaga riset GlobalData.
Melansir Edie, Selasa (28/7/2026) seiring meningkatnya jumlah pembangkit listrik tenaga surya dan angin peran penyimpanan energi menjadi makin penting. Sistem ini membantu mengurangi ketergantungan kita pada bahan bakar fosil yang memicu polusi tinggi.
Sebagai informasi untuk pertama kalinya, pembangkit listrik tenaga angin dan surya secara global menghasilkan lebih banyak listrik dibandingkan gas pada bulan April tahun ini.
Dengan Sistem Penyimpanan Energi Baterai (BESS), kelebihan energi bersih yang dihasilkan saat matahari terik dan angin kencang bisa disimpan. Energi ini siap digunakan kapan saja ketika produksi listrik sedang turun, seperti pada malam hari atau saat cuaca redup tanpa angin.
Baca juga: Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
“Makin banyaknya listrik dari matahari dan angin membuat perbedaan antara waktu energi dihasilkan dan waktu energi digunakan jadi makin panjang,” kata Rehaan Shiledar, analis energi dari GlobalData.
“Hal ini membuat sistem baterai yang bisa memindahkan simpanan energi terutama memindahkan energi surya siang hari untuk dipakai pada puncak pemakaian di malam hari jadi sangat berharga agar listrik tidak terbuang sia-sia dan pasokan tetap stabil," tambahnya.
Kebutuhan listrik dunia saat ini sedang melonjak tajam seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan banyak data center, ditambah dengan makin maraknya penggunaan kendaraan listrik dan pemanas ruangan berbasis listrik.
Menurut Badan Energi Internasional (IEA), permintaan listrik global diperkirakan naik 3,6 persen pada tahun 2026 dan naik lagi 3,8 persen pada tahun 2027.
Untuk menjaga stabilitas jaringan listrik di tengah melonjaknya kebutuhan energi, GlobalData memperkirakan kapasitas BESS di seluruh dunia bakal menembus 1.300 gigawatt (GW) pada tahun 2030.
Angka ini tumbuh rata-rata 46 persen per tahun jika dibandingkan dengan kapasitas pada akhir tahun 2025 yang tercatat sebesar 224,8 GW.
“Sistem baterai ini diperkirakan akan menjadi alat cadangan dan penyeimbang utama bagi data center, bukan lagi sekadar penyokong listrik sementara (UPS) singkat,” jelas Shiledar.
Baterai ini secara aktif mengatur aliran listrik antara jaringan utama dan perangkat IT, menjaga sistem dari gangguan listrik atau keterbatasan daya di lokasi. Karena merespons hanya dalam hitungan milidetik, baterai bisa langsung mengatasi lonjakan tegangan secara mendadak dan memberikan daya cadangan seketika saat terjadi peralihan.
Hingga akhir tahun 2025, China dan Amerika Serikat menyumbang hampir tiga perempat dari total kapasitas BESS global. Kedua negara ini diperkirakan akan terus mendominasi pasar, dengan proyeksi kapasitas masing-masing mencapai 793 gigawatt-jam (GWh) untuk China dan 382 GWh untuk AS pada tahun 2030.
Seiring makin besarnya pasar BESS, jumlah limbah baterai bekas yang sudah habis masa pakainya juga akan terus menumpuk.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya