Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penyimpanan Energi Baterai Global Diproyeksikan Tumbuh Enam Lipat pada 2030

Kompas.com, 3 Agustus 2026, 20:33 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Pasar penyimpanan energi baterai diperkirakan akan melonjak 6 kali lipat di seluruh dunia pada akhir dekade ini, dengan China dan Amerika Serikat sebagai pemimpin terdepan.

Hal tersebut disampaikan dalam laporan terbaru dari lembaga riset GlobalData.

Melansir Edie, Selasa (28/7/2026) seiring meningkatnya jumlah pembangkit listrik tenaga surya dan angin peran penyimpanan energi menjadi makin penting. Sistem ini membantu mengurangi ketergantungan kita pada bahan bakar fosil yang memicu polusi tinggi.

Sebagai informasi untuk pertama kalinya, pembangkit listrik tenaga angin dan surya secara global menghasilkan lebih banyak listrik dibandingkan gas pada bulan April tahun ini.

Dengan Sistem Penyimpanan Energi Baterai (BESS), kelebihan energi bersih yang dihasilkan saat matahari terik dan angin kencang bisa disimpan. Energi ini siap digunakan kapan saja ketika produksi listrik sedang turun, seperti pada malam hari atau saat cuaca redup tanpa angin.

Baca juga: Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam

“Makin banyaknya listrik dari matahari dan angin membuat perbedaan antara waktu energi dihasilkan dan waktu energi digunakan jadi makin panjang,” kata Rehaan Shiledar, analis energi dari GlobalData.

“Hal ini membuat sistem baterai yang bisa memindahkan simpanan energi terutama memindahkan energi surya siang hari untuk dipakai pada puncak pemakaian di malam hari jadi sangat berharga agar listrik tidak terbuang sia-sia dan pasokan tetap stabil," tambahnya.

Kebutuhan listrik yang melonjak

Kebutuhan listrik dunia saat ini sedang melonjak tajam seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan banyak data center, ditambah dengan makin maraknya penggunaan kendaraan listrik dan pemanas ruangan berbasis listrik.

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), permintaan listrik global diperkirakan naik 3,6 persen pada tahun 2026 dan naik lagi 3,8 persen pada tahun 2027.

Untuk menjaga stabilitas jaringan listrik di tengah melonjaknya kebutuhan energi, GlobalData memperkirakan kapasitas BESS di seluruh dunia bakal menembus 1.300 gigawatt (GW) pada tahun 2030.

Angka ini tumbuh rata-rata 46 persen per tahun jika dibandingkan dengan kapasitas pada akhir tahun 2025 yang tercatat sebesar 224,8 GW.

“Sistem baterai ini diperkirakan akan menjadi alat cadangan dan penyeimbang utama bagi data center, bukan lagi sekadar penyokong listrik sementara (UPS) singkat,” jelas Shiledar.

Baterai ini secara aktif mengatur aliran listrik antara jaringan utama dan perangkat IT, menjaga sistem dari gangguan listrik atau keterbatasan daya di lokasi. Karena merespons hanya dalam hitungan milidetik, baterai bisa langsung mengatasi lonjakan tegangan secara mendadak dan memberikan daya cadangan seketika saat terjadi peralihan.

Hingga akhir tahun 2025, China dan Amerika Serikat menyumbang hampir tiga perempat dari total kapasitas BESS global. Kedua negara ini diperkirakan akan terus mendominasi pasar, dengan proyeksi kapasitas masing-masing mencapai 793 gigawatt-jam (GWh) untuk China dan 382 GWh untuk AS pada tahun 2030.

Desakan keterbukaan dalam daur ulang baterai

Seiring makin besarnya pasar BESS, jumlah limbah baterai bekas yang sudah habis masa pakainya juga akan terus menumpuk.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
LSM/Figur
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Pemerintah
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
Pemerintah
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
Pemerintah
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Pemerintah
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk  Menyusui
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk Menyusui
Pemerintah
 Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
LSM/Figur
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Pemerintah
 Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
LSM/Figur
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
LSM/Figur
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Pemerintah
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
LSM/Figur
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Swasta
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Pemerintah
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau