Penulis
Hambatan akses dapat memperlambat upaya TNI, Polri, Manggala Agni, MPA, pemerintah daerah, dan regu pemadam karhutla perusahaan. Kondisi itu tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh masyarakat, tetapi harus ditangani karena respons awal menentukan keberhasilan pemadaman.
Pakar komunikasi keberlanjutan sekaligus Rektor UPN Veteran Jakarta, Prof. Anter Venus mengatakan penanganan persoalan tersebut membutuhkan komunikasi partisipatif yang menghormati masyarakat adat dan menegaskan tanggung jawab bersama.
“Masyarakat adat jangan ditempatkan sebagai terdakwa kolektif. Mereka harus diposisikan sebagai bagian penting dari solusi. Namun, penghormatan terhadap hak adat harus berjalan bersama kewajiban mencegah kebakaran dan memberikan akses kepada tim pemadam dalam keadaan darurat,” ujar Anter Venus.
Anter Venus menilai strategi komunikasi perlu melibatkan kepala desa, tokoh adat, tokoh agama, perempuan, pemuda, dan petani sebagai komunikator tepercaya.
Pesan pencegahan harus menggunakan bahasa lokal dan solusi yang dapat diterapkan.
“Pesan yang hanya menakut-nakuti cenderung memunculkan penolakan. Masyarakat harus memahami risiko penolakan terhadap upaya pemadaman karhutla yang dilakukan petugas. Karenanya, perlu dilakukan edukasi terhadap masyarakat terkait dampak risiko yang timbul,” kata Anter Venus.
Pada akhirnya, menghadapi ancaman karhutla di tengah krisis iklim menuntut lebih dari sekadar operasi pemadaman reaktif atau regulasi di atas kertas.
Musim kemarau ekstrem dan El Nino mungkin sebuah keniscayaan, namun bencana ekologis akibat ulah manusia sejatinya bisa dicegah. Di sinilah masyarakat adat dan lokal memegang peran paling krusial.
Alih-alih dipojokkan akibat stigma praktik masa lalu, mereka justru harus dirangkul sebagai garda terdepan pelestarian lingkungan.
Baca juga: Karhutla di Kalimantan: 6 Perusahaan Disanksi, dari Pembekuan Izin hingga Wajib Pulihkan Lahan
Langkah mitigasi sesungguhnya harus memadukan kearifan lokal yang selama berabad-abad terbukti mampu menjaga keseimbangan hutan, teknologi modern, serta infrastrukur yang berorientasi pada keberlanjutan.
Ketika masyarakat adat dilibatkan secara aktif, diberikan ruang, dan dipercaya penuh sebagai mitra strategis pelindung ekosistem, Indonesia memiliki fondasi akar rumput tangguh untuk memutus siklus api tahunan ini secara berkelanjutan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya