Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cuaca Ekstrem Sebabkan Kerugian 2 Triliun Dollar AS Selama Dekade Terakhir

Kompas.com, 13 November 2024, 14:30 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Laporan dari Kamar Dagang Internasional (ICC) mencatat cuaca ekstrem telah merugikan dunia sebesar 2 triliun dollar AS selama dekade terakhir.

Hasil tersebut didapat setelah melakukan analisis terhadap 4.000 peristiwa ekstrem terkait iklim, mulai dari banjir bandang hingga kekeringan.

“Data dari dekade terakhir menunjukkan dengan pasti bahwa perubahan iklim bukanlah masalah di masa depan. Kerugian produktivitas yang besar akibat peristiwa cuaca ekstrem dirasakan di sini dan sekarang oleh ekonomi riil," ungkap John Denton, sekretaris jenderal Kamar Dagang Internasional (ICC).

Dikutip dari Guardian, Selasa (12/11/2024) laporan tersebut menemukan tren kenaikan bertahap dalam biaya peristiwa cuaca ekstrem antara tahun 2014 dan 2023, dengan lonjakan pada tahun 2017 ketika musim badai aktif menghantam Amerika Utara.

Baca juga:

Selama satu dekade, laporan mencatat AS menderita kerugian ekonomi terbesar selama periode 10 tahun, sebesar 935 miliar dollar AS, diikuti oleh Tiongkok sebesar 268 miliar dollar AS dan India sebesar 112 miliar dollar AS.

Sementara Jerman, Australia, Prancis, dan Brasil semuanya masuk dalam 10 besar negara dengan kerugian ekonomi karena cuaca ekstrem.

Kerusakan iklim juga bertanggung jawab atas lebih dari separuh dari 68.000 kematian akibat panas selama musim panas terik di Eropa tahun 2022.

Ilan Noy, seorang ekonom bencana di Victoria University of Wellington, yang tidak terlibat dalam studi ICC, mengatakan temuan angka kerugian selaras dengan penelitian sebelumnya.

Namun ia memperingatkan bahwa data yang mendasarinya tidak menangkap gambaran lengkap.

"Peringatan utamanya adalah bahwa angka-angka ini sebenarnya tidak mencerminkan dampak yang sebenarnya penting yaitu di masyarakat miskin dan di negara-negara rentan," katanya.

Menurutnya, sebagian besar dampak yang dihitung terjadi di negara-negara berpendapatan tinggi. Di sana nilai aset jauh lebih tinggi dan angka kematian seperti akibat gelombang panas dihitung jauh lebih besar.

Baca juga:

“Jelas, hilangnya rumah dan mata pencaharian di masyarakat miskin di negara-negara miskin lebih dahsyat dalam jangka panjang daripada kerugian di negara-negara kaya di mana negara mampu dan bersedia membantu pemulihan,” paparnya.

Lebih lanjut, ICC mendesak para pemimpin dunia untuk bertindak lebih cepat untuk memperoleh pendanaan bagi negara-negara yang membutuhkan bantuan supaya dapat menahan guncangan cuaca buruk.

“Setiap dolar yang dikeluarkan pada akhirnya merupakan investasi dalam ekonomi global yang lebih kuat dan tangguh yang akan memberikan manfaat bagi kita semua,” kata Denton.

sumber https://www.theguardian.com/business/2024/nov/11/extreme-weather-cost-2tn-globally-over-past-decade-report-finds

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Induk dan Anak Gajah Ditemukan Tewas di Bengkulu, Kemenhut Telusuri Penyebabnya
Induk dan Anak Gajah Ditemukan Tewas di Bengkulu, Kemenhut Telusuri Penyebabnya
Pemerintah
Percepat Transisi Energi, PLN Garap PLTS Mentari Nusantara I Berkapasitas 1.225 GW
Percepat Transisi Energi, PLN Garap PLTS Mentari Nusantara I Berkapasitas 1.225 GW
BUMN
Perancis Targetkan Bebas Energi Fosil pada 2050
Perancis Targetkan Bebas Energi Fosil pada 2050
Pemerintah
Jadi Masalah Lingkungan dan Inefisiensi, Limbah Makanan Industri Perhotelan Disorot
Jadi Masalah Lingkungan dan Inefisiensi, Limbah Makanan Industri Perhotelan Disorot
Pemerintah
Waspada Krisis Energi, India Imbau Warganya Pakai Listrik Sampai Pukul 17.00
Waspada Krisis Energi, India Imbau Warganya Pakai Listrik Sampai Pukul 17.00
Pemerintah
Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia
Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia
Pemerintah
UT School Gelar Wisuda Nasional Mekanik Alat Berat Batch 37
UT School Gelar Wisuda Nasional Mekanik Alat Berat Batch 37
Swasta
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah hingga 7 Mei 2026
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah hingga 7 Mei 2026
Pemerintah
El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
Pemerintah
Setelah Krisis Selat Hormuz, Ancaman Besar Masih Menanti Dunia
Setelah Krisis Selat Hormuz, Ancaman Besar Masih Menanti Dunia
Pemerintah
Sejarah Hari Buruh: Berawal dari Tuntutan Pekerja Kurangi Jam Kerja
Sejarah Hari Buruh: Berawal dari Tuntutan Pekerja Kurangi Jam Kerja
Pemerintah
Rumah Tangga Tanggung Biaya Energi Fosil 3 Kali Lipat saat RI Kehilangan Windfall Tax Batu Bara
Rumah Tangga Tanggung Biaya Energi Fosil 3 Kali Lipat saat RI Kehilangan Windfall Tax Batu Bara
LSM/Figur
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
LSM/Figur
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
Swasta
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut  yang Sulit Dipantau
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut yang Sulit Dipantau
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau