Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Water Sustainability Index Bantu Laporan ESG agar Makin Akurat

Kompas.com, 19 Februari 2026, 15:06 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Seiring dengan meluasnya komitmen Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environment, Social, Governance atau ESG) di seluruh dunia, pengelolaan air dinilai kerap menjadi "titik buta" utama dalam laporan keberlanjutan perusahaan.

Jika emisi karbon sudah bisa diukur dengan akurat, data mengenai air sering kali masih terpecah-pecah, tidak konsisten, dan sulit untuk dibandingkan.

Baca juga: 

Sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal Nature Water bertujuan untuk mengubah kondisi tersebut, dilansir dari Know ESG, Kamis (19/2/2026).

Dipimpin oleh Profesor William Mitch dari Stanford University dan Profesor Yong Sik Ok dari Korea University, penelitian ini memperkenalkan Water Sustainability Index (Indeks Keberlanjutan Air atau WSI), kerangka kerja kuantitatif yang dirancang untuk memperkuat pelaporan ESG perusahaan dan mengurangi praktik greenwashing.

Indeks ini mengevaluasi pengambilan air, konsumsi, kualitas pembuangan, dan praktik penggunaan kembali air.

Yang terpenting, indeks ini memasukkan faktor kelangkaan air lokal karena menyadari bahwa keberlanjutan air sangat bergantung pada kondisi lokasi masing-masing.

Baca juga:

Indeks Keberlanjutan Air untuk pelaporan ESG

Pelaporan data yang terukur

Studi memperkenalkan Water Sustainability Index untuk memperkuat laporan ESG perusahaan.FREEPIK Studi memperkenalkan Water Sustainability Index untuk memperkuat laporan ESG perusahaan.

Standar pelaporan ESG saat ini diniali menunjukkan ketidakseimbangan antara pengungkapan data karbon dan air.

Data dari London Stock Exchange Group mengungkapkan bahwa meskipun 14 persen perusahaan besar melaporkan emisi gas rumah kaca mereka, hanya sembilan persen yang mengungkapkan total pengambilan air, dan hanya satu persen yang melaporkan penggunaan air daur ulang.

Berbeda dengan karbon yang dampaknya bersifat global, tantangan air sangat bervariasi di setiap wilayah. Mengambil air dari daerah yang rawan kekeringan memiliki dampak keberlanjutan yang jauh lebih besar daripada mengambil air di wilayah yang berlimpah air.

Namun, banyak sistem penilaian ESG saat ini gagal menangkap perbedaan tersebut.

Global Water Sustainability Index mengatasi celah tersebut dengan memasukkan kondisi kelangkaan sumber air ke dalam model penilaiannya.

Perusahaan yang beroperasi di wilayah dengan tingkat kelangkaan air yang tinggi akan menerima penilaian yang berbeda dibandingkan dengan mereka yang berada di wilayah dengan risiko air yang lebih rendah. Hal ini memberikan kejelasan yang sangat dibutuhkan dalam manajemen risiko air.

Water Sustainability Index tidak hanya sekadar melacak volume air yang digunakan. Indeks ini menilai jenis sumber air, tingkat kelangkaan wilayah air tersebut, kualitas air yang dibuang, tingkat konsumsi, serta sistem daur ulang untuk menghasilkan skor keberlanjutan yang transparan.

Dalam pengujiannya, para peneliti menyimulasikan tujuh skenario.

Sebuah fasilitas dasar di wilayah yang mengalami krisis air mendapatkan skor 1,17. Dengan menerapkan praktik daur ulang air, skornya meningkat menjadi 1,98.

Kemudian, dengan mengoptimalkan lokasi pembangunan serta meningkatkan kontrol kualitas pembuangan limbah, skornya naik lebih jauh lagi menjadi 3,0.

Pendekatan berbasis skenario ini memungkinkan para eksekutif untuk mengevaluasi peningkatan keberlanjutan air sebelum mereka mengalokasikan modal.

Dengan menghubungkan kinerja lingkungan terhadap hasil finansial, kerangka kerja ini memperkuat pengambilan keputusan yang berbasis risiko.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
RI Mulai Masuk Musim Kemarau, Kenapa di Jakarta Masih Hujan?
RI Mulai Masuk Musim Kemarau, Kenapa di Jakarta Masih Hujan?
Pemerintah
Kemenhut Prediksi Karhutla 2026 Lebih Mengancam dari Tahun Lalu
Kemenhut Prediksi Karhutla 2026 Lebih Mengancam dari Tahun Lalu
Pemerintah
Pusat Data Picu 'Pulau Panas', Suhu Sekitar Melonjak Hingga 2 Derajat
Pusat Data Picu 'Pulau Panas', Suhu Sekitar Melonjak Hingga 2 Derajat
Pemerintah
BMKG Sebut Indonesia Telah Memasuki Musim Kemarau, Lebih Kering dan Panjang
BMKG Sebut Indonesia Telah Memasuki Musim Kemarau, Lebih Kering dan Panjang
Pemerintah
Perubahan Iklim Bikin Ular Berbisa Pindah ke Kawasan Pesisir Padat Penduduk
Perubahan Iklim Bikin Ular Berbisa Pindah ke Kawasan Pesisir Padat Penduduk
Pemerintah
Emisi Gas Rumah Kaca Inggris Turun 2 Persen pada Tahun 2025
Emisi Gas Rumah Kaca Inggris Turun 2 Persen pada Tahun 2025
Pemerintah
Parlemen Eropa Perketat Standar Perlindungan Air dari Polusi Limbah dan Pestisida
Parlemen Eropa Perketat Standar Perlindungan Air dari Polusi Limbah dan Pestisida
Pemerintah
Tiga Negara Berkembang Beralih ke EBT, Ada Kenya dan India
Tiga Negara Berkembang Beralih ke EBT, Ada Kenya dan India
Pemerintah
Google Bakal Pakai Pembangkit Gas, Diprediksi Hasilkan 4,5 Juta Ton CO2
Google Bakal Pakai Pembangkit Gas, Diprediksi Hasilkan 4,5 Juta Ton CO2
LSM/Figur
Mandatori B50 Rentan Terganggu Konflik Geopolitik
Mandatori B50 Rentan Terganggu Konflik Geopolitik
LSM/Figur
Bukan Sekadar Hijau, Kosmologi Jawa Melampaui Keberlanjutan
Bukan Sekadar Hijau, Kosmologi Jawa Melampaui Keberlanjutan
Pemerintah
Jumat Hari yang Pendek, DPR Sebut Efektif untuk WFH bagi ASN
Jumat Hari yang Pendek, DPR Sebut Efektif untuk WFH bagi ASN
Pemerintah
PSEL Akan Dibangun di Makassar, Ubah 1.000 Ton Sampah per Hari Jadi Listrik
PSEL Akan Dibangun di Makassar, Ubah 1.000 Ton Sampah per Hari Jadi Listrik
Pemerintah
Bappenas: ASN 'Kerja Main-Main Tapi Gajinya Serius' Warisan Masa Lalu
Bappenas: ASN 'Kerja Main-Main Tapi Gajinya Serius' Warisan Masa Lalu
Pemerintah
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
KLH Buka Pendaftaran Kalpataru 2026 untuk Pegiat Lingkungan, Cek Syaratnya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau