KOMPAS.com - Seiring dengan meluasnya komitmen Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environment, Social, Governance atau ESG) di seluruh dunia, pengelolaan air dinilai kerap menjadi "titik buta" utama dalam laporan keberlanjutan perusahaan.
Jika emisi karbon sudah bisa diukur dengan akurat, data mengenai air sering kali masih terpecah-pecah, tidak konsisten, dan sulit untuk dibandingkan.
Baca juga:
Sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal Nature Water bertujuan untuk mengubah kondisi tersebut, dilansir dari Know ESG, Kamis (19/2/2026).
Dipimpin oleh Profesor William Mitch dari Stanford University dan Profesor Yong Sik Ok dari Korea University, penelitian ini memperkenalkan Water Sustainability Index (Indeks Keberlanjutan Air atau WSI), kerangka kerja kuantitatif yang dirancang untuk memperkuat pelaporan ESG perusahaan dan mengurangi praktik greenwashing.
Indeks ini mengevaluasi pengambilan air, konsumsi, kualitas pembuangan, dan praktik penggunaan kembali air.
Yang terpenting, indeks ini memasukkan faktor kelangkaan air lokal karena menyadari bahwa keberlanjutan air sangat bergantung pada kondisi lokasi masing-masing.
Baca juga:
Studi memperkenalkan Water Sustainability Index untuk memperkuat laporan ESG perusahaan.Standar pelaporan ESG saat ini diniali menunjukkan ketidakseimbangan antara pengungkapan data karbon dan air.
Data dari London Stock Exchange Group mengungkapkan bahwa meskipun 14 persen perusahaan besar melaporkan emisi gas rumah kaca mereka, hanya sembilan persen yang mengungkapkan total pengambilan air, dan hanya satu persen yang melaporkan penggunaan air daur ulang.
Berbeda dengan karbon yang dampaknya bersifat global, tantangan air sangat bervariasi di setiap wilayah. Mengambil air dari daerah yang rawan kekeringan memiliki dampak keberlanjutan yang jauh lebih besar daripada mengambil air di wilayah yang berlimpah air.
Namun, banyak sistem penilaian ESG saat ini gagal menangkap perbedaan tersebut.
Global Water Sustainability Index mengatasi celah tersebut dengan memasukkan kondisi kelangkaan sumber air ke dalam model penilaiannya.
Perusahaan yang beroperasi di wilayah dengan tingkat kelangkaan air yang tinggi akan menerima penilaian yang berbeda dibandingkan dengan mereka yang berada di wilayah dengan risiko air yang lebih rendah. Hal ini memberikan kejelasan yang sangat dibutuhkan dalam manajemen risiko air.
Water Sustainability Index tidak hanya sekadar melacak volume air yang digunakan. Indeks ini menilai jenis sumber air, tingkat kelangkaan wilayah air tersebut, kualitas air yang dibuang, tingkat konsumsi, serta sistem daur ulang untuk menghasilkan skor keberlanjutan yang transparan.
Dalam pengujiannya, para peneliti menyimulasikan tujuh skenario.
Sebuah fasilitas dasar di wilayah yang mengalami krisis air mendapatkan skor 1,17. Dengan menerapkan praktik daur ulang air, skornya meningkat menjadi 1,98.
Kemudian, dengan mengoptimalkan lokasi pembangunan serta meningkatkan kontrol kualitas pembuangan limbah, skornya naik lebih jauh lagi menjadi 3,0.
Pendekatan berbasis skenario ini memungkinkan para eksekutif untuk mengevaluasi peningkatan keberlanjutan air sebelum mereka mengalokasikan modal.
Dengan menghubungkan kinerja lingkungan terhadap hasil finansial, kerangka kerja ini memperkuat pengambilan keputusan yang berbasis risiko.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya