Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 1 Maret 2023, 10:29 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Menyulap ribuan ton sampah jadi bahan baku alternatif pembuatan semen memang bukan hal mudah dan perlu riset mendalam.

Namun bagi PT SCG Indonesia yang sudah melakukan riset dan pengembangan bertahun-tahun, mengolah 7.700 ton sampah menjadi bahan baku alternatif pembuatan semen bukan mustahil.

Melalui dua anak perusahaannya yakni PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi mereka telah memulainya sejak awal tahun 2022.

Presiden Direktur PT SCG Indonesia Chakkapong Yingwattanathaworn mengatakan, upaya ini merupakan bentuk implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) serta transparansi dan keadilan atau ESG 4 Plus oleh perusahaan.

"SCG berkomitmen untuk menjalankan bisnis dengan menekankan inovasi dan keberlanjutan," ucap Chakkapong dalam media gathering di Jakarta, Selasa (28/2/2023).

Baca juga: Tak Hanya Jadi Bahan Bangunan, Semen Asal Jepang Ini Bisa Dimakan Loh!

Sementara itu, Government Liaison and Community Relation Manager Indra Leksono mengatakan, transformasi energi tersebut dilakukan melalui inovasi teknologi Alternative Fuel and Alternative Raw (AF/AR).

Ini merupakan fasilitas daur ulang limbah industri menjadi bahan bakar alternatif dan bahan baku alternatif pembuatan semen.

AF/AR mampu menekan konsumsi bahan bakar fosil untuk operasional pabrik sebesar 3 persen dan meningkatkan penggunaan bahan baku alternatif sebesar 9,4 persen.

Selain itu, perusahaan juga sedang menyiapkan implementasi teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), yang merupakan fasilitas untuk menghasilkan sumber energi terbarukan dari daur ulang Municipal Solid Waste (MSW) atau sampah padat menjadi bahan bakar.

Melalui pengembangan RDF, sampah dapat diolah sampai tidak tersisa menggunakan metode Co-Processing dengan suhu 1.4500C di klin semen.

Teknologi yang dibangun di TPA Cimenteng, Sukabumi, ini diharapkan dapat membantu proses pengolahan 220 ton sampah dari MSW dan 113 ton sampah dari landfill TPA Cimenteng yang masuk setiap harinya.

Teknologi ini diharapkan mampu mendukung target Pemerintah Daerah (Pemda) Sukabumi dalam pengurangan sampah sebesar 30 persen dan penanganan sampah sebesar 70 persen pada 2025.

"Jadi dengan kapasitas kurang lebih 333 ton dari sampah itu akan menghasilkan kurang lebih 100 ton per hari RDF. Semua RDF akan diambil oleh semen SCG ini untuk menggantikan batu bara. Targetnya adalah 30 persen bisa mengurangi penggunaan batu bara," papar Indra.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau