Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Al Taqdir Badari
Co-founder dan Direktur Temu Ide

Peneliti dan Konsultan ERP

Ketika ESG Gagal Menyentuh UMKM

Kompas.com, 17 Mei 2025, 14:37 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DI TENGAH gelombang arus global tentang pentingnya Environmental, Social, and Governance (ESG), hampir semua perusahaan besar kini berlomba menunjukkan komitmennya. Mulai dari laporan keberlanjutan, target emisi nol bersih, hingga program tanggung jawab sosial.

Namun, ada satu aktor utama ekonomi Indonesia yang nyaris tak tersentuh dalam narasi ESG: UMKM.

Padahal, menurut data Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), pada tahun 2023 jumlah pelaku UMKM di Indonesia mencapai sekitar 66 juta, dengan kontribusi 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau sekitar Rp 9.580 triliun.

Tidak hanya itu, UMKM juga menyerap 117 juta pekerja, setara 97 persen dari total tenaga kerja nasional. Angka ini menunjukkan bahwa keberlanjutan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada keberlangsungan UMKM.

Baca juga: Isu Merger GoTo-Grab dan Kekhawatiran Data Jutaan Warga Indonesia

Namun, sebagian besar pelaku UMKM bahkan tidak pernah mendengar istilah ESG, apalagi menerapkannya dalam operasional usaha mereka.

ESG: Terlalu elitis?

Dalam kegiatan kami bersama Temu Ide di berbagai daerah, kami menjumpai kenyataan yang kontras.

Saat dunia bisnis ramai membahas dekarbonisasi dan ekonomi hijau, pelaku UMKM justru masih berkutat pada soal-soal mendasar: keterbatasan modal, produk yang stagnan, pemasaran digital yang minim, bahkan akses internet yang belum memadai.

Di beberapa desa wisata, sinyal belum stabil. Bagaimana mungkin mereka bisa menjalankan bisnis digital, apalagi menerapkan ESG?

Dukungan pemerintah sering kali terbatas—bukan karena niat, tetapi karena anggaran pembinaan yang kecil dan tidak berkelanjutan.

Pelatihan inkubasi UMKM seringkali tidak konsisten, terputus di tengah jalan. Dalam kondisi seperti ini, ESG terasa seperti wacana kelas atas yang tidak relevan bagi pelaku usaha mikro.

Lebih jauh, beberapa standar keberlanjutan justru menjadi beban baru. Misalnya, sertifikasi lingkungan atau bahan ramah lingkungan yang mahal dan sulit dijangkau, menjadikan UMKM kerap tertinggal dari rantai pasok industri besar.

ESG seharusnya tidak menjadi beban tambahan, tetapi kerangka yang memampukan UMKM bertumbuh lebih sehat dan adil.

Untuk itu, pendekatan ESG perlu dimaknai ulang—berbasis komunitas, konteks lokal, dan kebutuhan nyata pelaku usaha.

Di Subang, misalnya, kami mendampingi pengrajin tempurung kelapa yang mengolah limbah menjadi kerajinan tangan.

Kegiatan ini tidak masuk laporan ESG manapun, tapi sejatinya sudah mencerminkan prinsip ekonomi sirkular.

Baca juga: Generasi Z Resign: Kombinasi Beban Kerja, Stres, dan Minimnya Dukungan Sosial

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KNTI: 95 Persen Nelayan Kecil Tak Bisa Melaut akibat Terdampak Cuaca Ekstrem
KNTI: 95 Persen Nelayan Kecil Tak Bisa Melaut akibat Terdampak Cuaca Ekstrem
LSM/Figur
Hujan Ekstrem Bikin Jakarta Dikepung Banjir, Pakar Ingatkan RTH Perlu Dikaji Ulang
Hujan Ekstrem Bikin Jakarta Dikepung Banjir, Pakar Ingatkan RTH Perlu Dikaji Ulang
LSM/Figur
Lewat SMEXPO, Pertamina Bangun UMKM Sektor Pangan Berdaya Saing
Lewat SMEXPO, Pertamina Bangun UMKM Sektor Pangan Berdaya Saing
BUMN
Banjir dan Longsor: Bangkit dari Dua Lapis Kelemahan
Banjir dan Longsor: Bangkit dari Dua Lapis Kelemahan
Pemerintah
Menteri LH Sebut Faktor Urbanisasi di Balik Longsor Cisarua
Menteri LH Sebut Faktor Urbanisasi di Balik Longsor Cisarua
Pemerintah
Kesehatan Perempuan Hanya Dapat 6 Persen Investasi, Dunia Diminta Berubah
Kesehatan Perempuan Hanya Dapat 6 Persen Investasi, Dunia Diminta Berubah
Pemerintah
Madu Hutan, Warisan Herbal dalam Ikhtiar Sehat Keluarga Indonesia
Madu Hutan, Warisan Herbal dalam Ikhtiar Sehat Keluarga Indonesia
Swasta
Pembangkit Surya dan Angin Dominasi Listrik di Eropa, Kalahkan Energi Fosil
Pembangkit Surya dan Angin Dominasi Listrik di Eropa, Kalahkan Energi Fosil
Pemerintah
Awas Banjir dan Angin Kencang, BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem hingga 29 Januari
Awas Banjir dan Angin Kencang, BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem hingga 29 Januari
Pemerintah
PBB: 55 Juta Orang di Afrika Tengah dan Barat Terancam Krisis Pangan
PBB: 55 Juta Orang di Afrika Tengah dan Barat Terancam Krisis Pangan
Pemerintah
Krisis Iklim Dorong Lonjakan Konflik Terkait Air
Krisis Iklim Dorong Lonjakan Konflik Terkait Air
LSM/Figur
BPBD DKI Semai 800 Kg Kalsium Oksida di Bekasi untuk Cegah Banjir
BPBD DKI Semai 800 Kg Kalsium Oksida di Bekasi untuk Cegah Banjir
Pemerintah
Warga di NTT Tembak Mati Burung Hantu, Ahli Peringatkan Dampaknya ke Ekosistem
Warga di NTT Tembak Mati Burung Hantu, Ahli Peringatkan Dampaknya ke Ekosistem
Pemerintah
Kisah Jani, Bayi Orangutan Ditemukan Tanpa Induk di Kebun Sawit
Kisah Jani, Bayi Orangutan Ditemukan Tanpa Induk di Kebun Sawit
LSM/Figur
Tantangan Inklusivitas Masih Hambat Penyandang Disabilitas Masuk Dunia Kerja
Tantangan Inklusivitas Masih Hambat Penyandang Disabilitas Masuk Dunia Kerja
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau