Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Filantropi Islam Punya Potensi untuk Biayai Solusi Perubahan Iklim

Kompas.com, 9 April 2023, 18:37 WIB
Add on Google
Siti Sahana Aqesya,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Keberadaan filantropi Islam di Tanah Air punya potensi untuk biayai beragam inisiatif dan solusi perubahan iklim. Hal ini dibahas secara komprehensif dalam talkshow bertema “Pengembangan Filantropi Islam dalam Pembiayaan Solusi Perubahan Iklim” yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (6/4/2023).

“Umat Islam sejatinya memiliki aset yang besar dalam bentuk zakat dan wakaf. Pelestarian lingkungan juga sangat dekat dengan tujuan zakat dan wakaf, yaitu untuk mengatasi sumber permasalahan struktural di masyarakat,” ujar Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Tarmizi Tohor dalam rilis yang diterima Kompas.com, Minggu (9/4/2023).

Tarmizi pun membahas potensi dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) dalam satu tahun di Tanah Air yang mencapai Rp 380 triliun.

Jumlah itu bahkan di luar jumlah wakaf berupa aset dan tanah yang tersebar di berbagai daerah.

“Sayangnya walau sangat besar, potensi dana umat ini kurang berkembang karena masih didistribusikan dengan pendekatan tradisional,” tambah Tarmizi.

Ia juga memaparkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, dana Ziswaf yang dikumpulkan dari masyarakat telah menjadi salah satu instrumen keuangan syariah yang mampu membantu pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19.

Tak hanya itu, dana Ziswaf juga menjadi salah satu kontributor penting dalam upaya penanganan berbagai bencana. Pada 2022, misalnya, Badan Nasional Penanggulangan Becana (BNPB) mencatat Indonesia terkena 3.500 kali bencana alam.

Sebagai informasi, talkshow didukung oleh Muslims for Shared Actions on Climate Impact atau Kolaborasi Umat Islam untuk Dampak Iklim (Mosaic). Organisasi ini merupakan kolaborasi berbagai elemen masyarakat, akademisi dan lembaga nirlaba yang berfokus pada solusi permasalahan iklim.

Anggota Dewan Pengarah Mosaic dan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubaha Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) sekaligus Ketua Humanitarian Forum Indonesia, M Ali Yusuf, mengatakan bahwa bencana di Indonesia didominasi bencana hidrometeorologi, seperti kekeringan, banjir, dan kebakaran hutan.

“Kerusakan lingkungan telah berdampak secara masif. Untuk menanggulanginya, dibutuhkan upaya bersama yang serius, sistematis, dan inovatif dalam pengendalian perubahan iklim,” papar Ali.

Sekilas mengingatkan, Ali bertutur bahwa Mosaic yang ia naungi lahir dari kongres umat Islam untuk Indonesia Lestari.

Pada 2022, setelah melalui serangkaian penelitian dan diskusi terarah, kongres tersebut menghasilkan tujuh poin risalah untuk mencapai Indonesia Lestari.

“Salah satu poin risalah kongres adalah agar umat Islam mengambil peran terdepan dalam upaya menghadapi dampak perubahan iklim. Sebab, 33 persen masyarakat Indonesia sangat rentan terdampak perubahan iklim dan

mayoritas masyarakat dari persentase tersebut adalah Muslim sehingga dibutuhkan kolaborasi lintas sektor dan langkah nyata dalam ikhtiar ini”, jelasnya.

Akademisi Istitut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus mantan Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Irfan Syauqi Beik, yang turut hadir memaparkan urgensi terkait langkah strategis untuk memanfaatkan potensi keuangan sosial islam atau islamic social finance.

“Salah satu kemajuan di bidang filantropi Islam adalah kerja sama berbagai pemangku kepentingan dalam mengembangkan green wakaf framework atau sebuah bingkai kerja pengelolaan wakaf untuk program-program dalam klaster lingkungan dan perubahan iklim,” ujarnya.

Menurut Irfan, zakat dan wakaf, termasuk program wakaf hutan tidak hanya mampu menjaga stabilitas ekonomi, tapi juga memiliki potensi yang besar untuk membiayai berbagai upaya mitigasi perubahan iklim.

“Ini karena ekonomi dan kemiskinan tidak bisa lepas dari aspek lingkungan yang berkelanjutan dan keseimbangan ekologis. Alam dan isinya adalah pinjaman dari generasi mendatang sehingga isu lingkungan harus dikelola dengan baik untuk kehidupan anak cucu kita di masa depan,” papar Irfan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Lirik Tebu jadi Bahan Baku Bensin Nabati
Pertamina Lirik Tebu jadi Bahan Baku Bensin Nabati
BUMN
BRIN Dorong Pengembangan PLTSa untuk Tangani Sampah di Wilayah 3T
BRIN Dorong Pengembangan PLTSa untuk Tangani Sampah di Wilayah 3T
Pemerintah
Menteri LH Perkuat Penegakan Hukum Kasus Karhutla
Menteri LH Perkuat Penegakan Hukum Kasus Karhutla
Pemerintah
BMKG Sebut Hujan Bakal Melanda hingga 20 April, Ini Wilayah yang Harus Waspada
BMKG Sebut Hujan Bakal Melanda hingga 20 April, Ini Wilayah yang Harus Waspada
Pemerintah
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
LSM/Figur
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Swasta
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
LSM/Figur
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Pemerintah
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
Swasta
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
LSM/Figur
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Pemerintah
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
Pemerintah
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pemerintah
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
LSM/Figur
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau