Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 23 Januari 2024, 17:31 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Kualitas air bersih di Indonesia tahun 2022 memiliki skor 53,88, atau masih di bawah target 55,03 yang ingin dicapai oleh Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH).

Salah satu wilayah yang memiliki persoalan air bersih adalah Desa Sirnaresmi, Sukabumi, Jawa Barat, yang terpapar aktivitas pabrik kapur dan pengolahan limbah rumah tangga.

Untuk itu, mahasiswa Institut Pertanian Bogor Sunda Galih membuat program E-mission guna mengatasi persoalan di wilayah tersebut.

Galih adalah penerima beasiswa SCG Sharing the Dream 2023, dengan program E-mission mengolah minyak jelantah hasil konsumsi rumah tangga menjadi lilin aromaterapi yang dapat menjadi komoditas ekonomi lokal.

Baca juga: Pemkab Subang Gandeng PDAM dan Aqua Alirkan Air Bersih untuk Warga

Hasil penjualan lilin tersebut kemudian digunakan untuk membeli peralatan filter air bagi desa. Program ini mengadopsi pendekatan ESG 4 Plus milik SCG, perusahaan dengan tiga lini bisnis, semen dan bahan bangunan, bahan kimia, dan kertas kemasan.

ESG 4 Plus merupakan landasan operasi SCG yang dipersonalisasi dari kerangka kerja Environmental, Social, dan Governance (ESG) yang meliputi empat komitmen utama.

Keempatnya yakni mencapai nol emisi karbon per tahun 2050 (set net zero), menciptakan industri hijau (go green), menekan kesenjangan sosial (reduce inequality), dan merangkul kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan (embrace collaboration), dengan keadilan dan transparansi di setiap lini.

“Kami memilih untuk mengolah minyak jelantah karena materialnya mudah didapatkan langsung dari masyarakat. Prosesnya juga tidak meninggalkan limbah cair tambahan seperti halnya produksi sabun, sehingga minim risiko pencemaran air. Serta yang terpenting, mudah diterapkan menjadi UMKM rumahan," terang Galih.

Menjadi SCG Scholar atau penerima beasiswa SCG Sharing the Dream, membuat Galih jadi lebih peka terhadap lingkungan dan terdorong untuk menciptakan solusi-solusi inovatif dengan nilai keberlanjutan.

Baca juga: Ini Kriteria Air Mineral Layak Minum versi WHO

Presiden Direktur SCG Indonesia Chakkapong Yingwattanathaworn menambahkan, melalui E-mission dan community project lainnya, SCG bertekad mendukung anak muda memulai perubahan dari lingkungan terdekat mereka.

Perusahaan percaya, melalui langkah ini, mereka dapat merasakan secara langsung dinamika sosial masyarakat, kemudian mampu mengidentifikasi permasalahan yang ada, dan menemukan potensi yang dapat dikembangkan.

"Dengan keterlibatan langsung, anak muda bisa mengembangkan rasa memiliki dan tanggung jawab, menciptakan perubahan berkelanjutan, dan dampak jangka panjang bagi lingkungannya, sejalan dengan komitmen ESG 4 Plus," urai Chakkapong.

Program E-mission terdiri dari empat fase, yaitu sosialisasi, produksi Tahap 1, produksi Tahap 2, dan terakhir, pemasangan filter sir di Desa Sirnaresmi. Sebanyak 31 anggota PKK Desa Sirnaresmi mengikuti program ini.

Galih memulai program dengan memberikan sosialisasi dampak negatif limbah minyak jelantah, dilanjutkan dengan pelatihan produksi lilin dan edukasi pemasaran.

Baca juga: Jamin Pasokan Air, Kostrad Gali 20 Sumur Bor di Wilayah Kemitraan Timah

Pada tahap awal, program ini sukses memproduksi 125 lilin dari olahan 10 liter minyak jelantah, yang menghasilkan empat varian aroma lilin, yaitu lavender, lemon, peppermint, dan coffee, dengan harga Rp 28.000 per buah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau